Festival Bedug Ngadulag Tegalsari Guncang Jalan Karawang
Gambar atau konten salah?
Festival Bedug Ngadulag di Dusun Krasak, Desa Tegalsari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, berlangsung pada malam hari (20 Maret 2026) meski hujan turun. Warga tetap antusias menyalurkan semangatnya lewat pawai malam takbiran.
Setelah Magrib, gema takbir terdengar dari berbagai penjuru desa. Meskipun hujan rintik, warga datang bersatu di pinggiran jalan, menunggu pawai yang telah lama dinantikan. Festival Bedug Ngadulag menjadi bagian penting identitas budaya Karawang, terutama di Tegalsari.
Partisipasi warga dari berbagai RT dan kelompok pemuda menampilkan kreativitas lewat tabuhan bedug, kendaraan hias, dan atraksi unik. Beberapa peserta mempersembahkan miniatur Ka'bah, ornamen Islami, serta replika rudal yang menyiratkan isu konflik di Timur Tengah. Ada juga figur naga, keranda, dan hantu tradisional dengan kostum khas pocong, kuntilanak, genderuwo, serta monster animasi. Hantu dianggap simbol bahwa jin dan setan dilepas setelah Ramadan, sementara figur leak menonjolkan keberagaman budaya Bali.
Suara sound horeg menambah warna dalam pawai. Dentuman musik enerjik berpadu dengan tabuhan bedug, menciptakan suasana yang lebih semarak. Beberapa daerah pernah menilai musik ini kontroversial, namun di Tegalsari, sound horeg dianggap bagian dari ekspresi generasi muda.
Kemeriahan pawai menimbulkan kepadatan lalu lintas di beberapa ruas jalan. Kendaraan harus melambat atau berhenti karena warga memadati pinggir jalan, terutama saat rombongan kendaraan hias melintas bersamaan. Petugas parkir membantu mengatur arus kendaraan, menjaga ketertiban selama acara berlangsung.
Warga dan panitia bekerja sama menjaga situasi tetap kondusif. Kepadatan lalu lintas pada Ngadulag dianggap bagian dari tradisi tahunan yang dinantikan, bukan hal baru bagi masyarakat setempat.
Ringkasan: Pada (20 Maret 2026), Festival Bedug Ngadulag di Tegalsari menampilkan pawai malam takbiran dengan berbagai kreativitas, simbolisme, dan musik sound horeg. Meskipun hujan, warga antusias. Pawai menimbulkan kepadatan lalu lintas yang dikelola dengan baik oleh petugas parkir. Festival ini tetap menjadi bagian penting identitas budaya Karawang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Timnas Iran Protes FIFA atas Pembatasan Perjalanan 2026
Hotel Borobudur Gelar Discover Betawi untuk HUT 499 Jakarta
Hotel Sultan GBK Dibeberkas, Pemerintah Fokus Karyawan
KLH Adakan Pertemuan Lintas Agama untuk Moral Ekologis
Guide dan Porter Gunung Rinjani Perlu Kartu Akses Tahunan
Piala Dunia 2026: Paket Wisata Mewah Harga Jutaan Dolar
Berita Terbaru
BBMKG: Hujan Ringan Guyur Sebagian Besar Bali, Tabanan dan Gianyar Cerah
Vallensia Fahira Siap Revans di Debut MMA Asian Games
Cuaca Surabaya Cerah, Suhu Capai 33 Derajat
Hari Ini Saniscara Pon Dunggulan: Panduan Lengkap Ala Ayuning Dewasa
Ruben Onsu Rindu Jalan-Jalan Bareng Anak, Aturan Hak Asuh Masih Sulit Terwujud
Kemenag Denpasar Umumkan Jadwal Shalat 20 Juni 2026
BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Jawa Timur 20 Juni 2026
Bendungan Cidadap Jebol, Petani Kebonpedes Tanpa Air Panen
Jadwal Sholat Jawa Timur 20 Juni 2026: 8 Waktu Fardu
