Forum Kalbe: Gula Tersembunyi, Cara Kontrol, Bukan Dihapus

Wati N. · 3 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
Forum Kalbe: Gula Tersembunyi, Cara Kontrol, Bukan Dihapus

Gambar atau konten salah?

Di 5 Juni 2026, sebuah forum yang menyoroti bahaya gula tersembunyi mengundang dr Laurencia Ardi, Health Communicator Kalbe Nutritionals, untuk berbagi pandangannya tentang konsumsi gula. Ia menekankan bahwa gula tidak seharusnya dihapus sepenuhnya, melainkan dikontrol.

“Jadi, untuk asupan makanan gula itu gak harus kita stop, nggak boleh makan gula sama sekali. Jadi gula tetap boleh dikonsumsi, tapi dengan catatan jumlahnya jangan berlebihan,” kata dr Laurencia.

Gula memang bagian dari karbohidrat, dan karbohidrat adalah sumber energi utama bagi tubuh. Tanpa energi yang cukup, aktivitas fisik dan mental tidak dapat berjalan optimal. Ketika tubuh memerlukan tenaga, karbohidrat dipecah menjadi glukosa, yang kemudian diserap oleh sel-sel tubuh dan otak.

“Karena gula itu bagian dari karbohidrat dan merupakan salah satu sumber energi utama untuk tubuh kita supaya kita bisa tetap beraktivitas, kita tetap bisa berpikir, itu membutuhkan energi yang sumbernya bisa dari karbohidrat ataupun gula itu sendiri,” jelas dr Laurencia.

Glukosa yang dihasilkan dari karbohidrat menjadi bahan bakar bagi otak. Otak membutuhkan glukosa secara terus-menerus untuk mendukung fungsi kognitif, seperti konsentrasi, memori, dan proses berpikir. Karena itu, tubuh tetap memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang cukup setiap hari.

Karbohidrat tidak hanya berasal dari gula tambahan dalam makanan dan minuman manis. Nasi, kentang, jagung, roti, buah-buahan, hingga umbi-umbian juga merupakan sumber karbohidrat yang berkontribusi memenuhi kebutuhan energi harian.

“Kita itu dalam sehari memang yang disarankan adalah nutrisi seimbang atau lebih gampangnya adalah isi piringku. Di mana untuk isi piringku atau nutrisi seimbang itu karbohidrat sekitar 40-60%%, kemudian ada protein juga dan juga ada lemak. Nah, 40-60% karbohidrat itu gula menjadi bagian dari situ,” ujarnya.

Dengan demikian, pola makan yang seimbang menempatkan karbohidrat, protein, dan lemak dalam proporsi yang tepat. Gula tambahan harus dibatasi, tetapi karbohidrat kompleks tetap penting untuk energi.

Selain gula tambahan, banyak produk kemasan mengandung gula tersembunyi. Mengidentifikasi “hidden sugar” menjadi kunci. Membaca label nutrisi dapat membantu mengetahui berapa banyak gula yang sebenarnya dikonsumsi setiap hari.

“Nah, kalau berdasarkan dari pemerintah sendiri, asupan gula ada sekitar 4 sampai 5 sendok makan,” kata dr Laurencia. Panduan ini menjadi acuan bagi siapa saja yang ingin menjaga asupan gula tetap dalam batas sehat.

Jika seseorang mengonsumsi gula atau karbohidrat lebih banyak dari biasanya, kondisi tersebut dapat diimbangi dengan meningkatkan aktivitas fisik. “Kalau memang sudah terlanjur kita mengonsumsi karbohidrat ataupun gula yang berlebihan, bisa kita imbangi dengan membuat olahraganya yang lebih ditingkatkan lagi,” ujarnya.

Pendekatan ini lebih realistis dibandingkan melarang diri mengonsumsi gula sepenuhnya. Pola makan sehat bukan tentang menghilangkan satu jenis makanan, melainkan menjaga keseimbangan antara asupan energi yang masuk dan energi yang digunakan tubuh setiap hari.

Gula tetap dibutuhkan tubuh, namun konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari kelebihan berat badan hingga gangguan metabolik. Oleh karena itu, penting untuk memantau asupan gula, baik yang terlihat maupun tersembunyi, serta menyeimbangkannya dengan aktivitas fisik yang cukup.

Kesimpulannya, gula bukanlah musuh, melainkan bagian dari sistem energi tubuh. Dengan mengikuti panduan pemerintah—sekitar 4 sampai 5 sendok makan per hari—dan menjaga pola makan seimbang, serta menambah aktivitas fisik bila perlu, seseorang dapat menikmati gula tanpa menimbulkan risiko kesehatan. Informasi ini menegaskan pentingnya moderasi dan keseimbangan dalam diet harian.

gulakarbohidratasupan gulagula tersembunyipola makan seimbangaktivitas fisikrisk kesehatankalbe nutritionals

Komentar

Memuat komentar...