AS Siapkan Alokasikan Aset ke Negara Teluk Serangan Drone
Gambar atau konten salah?
Di tengah ketegangan di Teluk, Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana mengalihkan aset milik Iran kepada negara-negara Teluk. Rencana ini muncul setelah Iran meluncurkan serangan drone ke Bahrain dan Kuwait pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurut sumber yang mengetahui isu tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menugaskan tim untuk menghitung total biaya kerusakan yang dialami sekutu AS di kawasan Teluk akibat serangan Iran. Hari itu juga, AS akan mengevaluasi kemungkinan menggunakan aset Iran untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan di masa depan.
Sumber tersebut menegaskan bahwa keputusan ini datang sehari setelah Mohsen Rezaei, penasihat pemimpin tertinggi Iran, menyatakan kepada CNN bahwa “kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan ini sangat bergantung pada pencairan aset Iran senilai US$ 24 miliar yang dibekukan oleh AS.”
Meski tidak mengungkapkan jenis aset yang sedang diperiksa, pernyataan tersebut menandai langkah baru yang tampaknya tidak terbatas pada aset yang dibekukan saja. Pengalihan aset Iran dapat memicu ketegangan baru pada gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran.
Negosiasi damai tampaknya buntu. Seorang menteri dari Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, telah bertolak ke Iran pada Sabtu membawa surat untuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Pada dini hari Sabtu, 6 Juni 2026, pasukan AS menyerang situs radar pesisir Iran di Goruk dan Pulau Qesh di Selat Hormuz. Serangan ini dilakukan setelah AS menembak jatuh drone yang diluncurkan Iran.
Menurut CENTCOM, serangan Iran mengancam lalu lintas maritim. Militer AS juga menyatakan mereka kembali menembak jatuh dua drone tempur Iran lainnya yang mengancam pelayaran di selat tersebut.
Keputusan AS untuk memanfaatkan aset Iran menambah lapisan kompleksitas pada hubungan antara kedua negara. Sementara Iran menegaskan bahwa pencairan aset adalah syarat utama untuk damai, AS menekankan perlunya memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Situasi ini menandai fase baru dalam dinamika konflik di Teluk, di mana langkah diplomatik dan militer saling berinteraksi secara intens.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
