GREAT Institute: Pertumbuhan 5,47% Lampaui Target
Gambar atau konten salah?
Lembaga riset GREAT Institute memberikan tanggapan positif terhadap angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,47 persen secara tahunan pada triwulan ketiga tahun 2026. Angka ini melampaui perkiraan yang sebelumnya dirilis oleh lembaga tersebut pada 2 November lalu, yang memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 5,2 hingga 5,4 persen.
Peneliti GREAT Institute, Ani Asriyah, menyebut pencapaian ini bukan sekadar soal angka. Menurutnya, pertumbuhan 5,47 persen menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia tidak hanya mampu mempertahankan momentum, tetapi juga mencatat percepatan yang jarang terjadi pada triwulan ketiga. Ia menyampaikan hal ini dalam keterangan tertulis pada Jumat, 6 November 2026.
Ani menambahkan, penguatan ekonomi juga terlihat dari sektor industri pengolahan yang tumbuh 5,87 persen secara tahunan. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal kedua 2026 yang sebesar 4,52 persen. Sektor perdagangan mencatat pertumbuhan 7,14 persen dan menyumbang 0,94 poin persentase terhadap total pertumbuhan. Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 6,42 persen dengan kontribusi 0,62 poin. Sektor transportasi dan pergudangan juga menguat menjadi 8,03 persen, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kegiatan ekonomi.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan, yakni 2,62 poin persentase, dengan pertumbuhan 5,04 persen secara tahunan. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen dan memberikan kontribusi 1,91 poin persentase. Konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen dengan kontribusi 0,62 poin.
Penguatan investasi juga terlihat dari realisasi penanaman modal pada triwulan III yang mencapai Rp 528,7 triliun, tumbuh 7,6 persen secara tahunan. Investasi hilirisasi tercatat sebesar Rp 179,9 triliun, meningkat 19,4 persen.
Menurut GREAT Institute, kombinasi data ini memperlihatkan perkembangan yang sejalan dengan pendekatan Prabowonomics. Pendekatan ini memanfaatkan peran aktif negara untuk mendukung kegiatan ekonomi sekaligus mendorong investasi dan memperbesar kapasitas produksi nasional.
Ani mengatakan, sinyal positif ini menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan tidak hanya ditopang oleh belanja negara, tetapi juga oleh penguatan kegiatan produksi. Ia menekankan bahwa peluang ini perlu diperbesar melalui agenda industrialisasi dan hilirisasi. Investasi harus semakin terhubung dengan pemasok domestik, memperkuat industri nasional, dan menciptakan lebih banyak pekerjaan dengan penghasilan yang layak.
Meski demikian, GREAT Institute mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat perlu diikuti oleh perbaikan kesejahteraan yang lebih luas. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen, sedikit lebih lambat dibandingkan triwulan II dan di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor pertanian, yang menjadi sumber penghidupan jutaan rumah tangga di perdesaan, hanya tumbuh 0,46 persen pada triwulan III. Inflasi kelompok pangan bergejolak pada Oktober juga mencapai 5,81 persen, lebih tinggi daripada inflasi umum sebesar 3,23 persen.
Tantangan kesejahteraan ini bukan persoalan yang muncul dalam satu triwulan. Badan Pusat Statistik sebelumnya mencatat jumlah penduduk kelas menengah menurun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi pekerjaan struktural untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja produktif, meningkatkan pendapatan riil, dan memperkuat mobilitas ekonomi rumah tangga. Penguatan industri dan investasi pada 2026 menjadi kesempatan penting untuk mulai menjawab tantangan tersebut.
Menurut GREAT Institute, ada tiga agenda yang perlu diperkuat agar arah Prabowonomics menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Pertama, memastikan ekspansi industri, hilirisasi, dan investasi semakin terhubung dengan pemasok domestik serta penciptaan pekerjaan formal bergaji layak. Kedua, meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keterjangkauan pangan, sehingga kebijakan ekonomi kerakyatan memberikan manfaat nyata bagi petani maupun konsumen. Ketiga, memastikan belanja pemerintah dan instrumen investasi negara mampu mendorong investasi produktif swasta melalui kepastian regulasi, tata kelola yang baik, serta pelaksanaan program yang efektif.
Angka pertumbuhan 5,47 persen memang melampaui ekspektasi, tetapi data dari GREAT Institute sendiri menunjukkan bahwa di balik angka tersebut masih ada pekerjaan rumah yang besar. Konsumsi rumah tangga yang melambat dan sektor pertanian yang nyaris stagnan menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi makro belum otomatis berarti kesejahteraan yang merata. Momentum ini, jika tidak diikuti dengan kebijakan yang tepat sasaran, bisa menjadi sekadar angka tanpa dampak nyata bagi sebagian besar masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga BBM Nonsubsidi Malaysia Turun Mulai 5 November
Sumur JUM-101 PHM Hasilkan Gas 3,3 MMscfd, Lampaui Target 110 Persen
OJK: Sektor Keuangan RI Stabil di Tengah Tekanan Global
IHSG Menguat 2,25%, Asing Jual Bersih Rp65 Miliar
IHSG Pagi Ini Merah, Anjlok 73 Poin ke Level 4.957
IHSG Melemah Tipis, Investor Asing Catat Beli Bersih Rp 328 M
