Hanif Tegaskan Lahan Gambut Kalteng Tak Cocok untuk Sawit
Gambar atau konten salah?
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurrofiq, memberikan pernyataan tegas di Jakarta Pusat pada Jumat, 06 November 2026. Ia mengatakan lahan gambut yang terbakar di Kalimantan Tengah tidak cocok untuk ditanami sawit. Pernyataan ini muncul setelah banyak pihak bertanya apakah area bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan diubah menjadi perkebunan sawit.
Hanif menjelaskan ekosistem gambut di Kalimantan Tengah sangat berbeda dengan daerah lain. Contohnya, wilayah Palangkaraya dan sekitarnya didominasi ekosistem gambut. Ada dua fungsi lahan di sana: budidaya dan fungsi lindung. Pada fungsi lindung, kedalaman gambut bisa mencapai lebih dari 3 meter.
Kerusakan parah di masa lalu menjadi masalah besar. Proyek drainase membuat lahan gambut menjadi kering. Akibatnya, sifat asli gambut berubah. Gambut yang tadinya bisa menyimpan air, kini justru menolak air. Para ahli menyebut kondisi ini hidrofobik. Lahan gambut kering seperti ini sangat mudah terbakar. Jika sudah terbakar, pemulihannya sangat sulit.
"Tanaman-tanaman seperti yang disebutkan tadi (sawit) sepertinya tidak ideal untuk ditanam di Kalimantan Tengah karena potensi kebakaran hutannya masih cukup besar," ujar Hanif saat ditemui usai rapat penanganan Karhutla Kalimantan.
Namun Hanif tidak menutup kemungkinan lahan bekas karhutla bisa digunakan untuk pertanian komoditas lain. Ia mengakui area bekas kebakaran tetap perlu direvitalisasi. "Jadi lebih baik kita lakukan kegiatan rewetting (pembasahan gambut) dengan perendaman kembali, kemudian revegetasi dengan jenis-jenis yang mampu tumbuh pada saat gambut itu berair untuk mengembalikan sifat gambutnya," ujarnya.
Hanif belum bisa menyebutkan jenis tanaman spesifik yang cocok. Tapi ia menawarkan solusi lain. Area bekas karhutla bisa dimanfaatkan kembali sebagai sistem pertanian yang ramah gambut. Metodenya disebut budidaya paludikultur. "Revitalisasi dengan membangun paludikultur, sistem pertanian yang ramah gambut yang dilakukan oleh masyarakat desa melalui masyarakat desa peduli gambut. Jadi rangkaian kegiatan ini setelah ini akan kami susun," terangnya.
Pernyataan Hanif ini penting karena Kalimantan Tengah memiliki sejarah panjang kebakaran gambut. Kebakaran besar tahun 2015 dan 2019 melanda wilayah ini. Lahan gambut yang rusak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Pendekatan paludikultur yang ia sebutkan merupakan metode bertani tanpa mengeringkan gambut. Petani bisa menanam tanaman yang tumbuh di air seperti purun atau sagu. Metode ini menjaga gambut tetap basah dan mengurangi risiko kebakaran.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga BBM Nonsubsidi Malaysia Turun Mulai 5 November
Sumur JUM-101 PHM Hasilkan Gas 3,3 MMscfd, Lampaui Target 110 Persen
OJK: Sektor Keuangan RI Stabil di Tengah Tekanan Global
IHSG Menguat 2,25%, Asing Jual Bersih Rp65 Miliar
IHSG Pagi Ini Merah, Anjlok 73 Poin ke Level 4.957
IHSG Melemah Tipis, Investor Asing Catat Beli Bersih Rp 328 M
