Hantavirus: Ancaman Penularan Antarmanusia di Amerika

Yanto K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Hantavirus: Ancaman Penularan Antarmanusia di Amerika

Gambar atau konten salah?

Hantavirus sudah menjadi topik peringatan kesehatan sejak lebih dari lima tahun lalu, meski kasusnya baru kembali menonjol pada 01 Januari 2026. Pada 10 Mei 2021, Gavi, aliansi vaksin global, memuat artikel berjudul The Next Pandemic: Hantavirus di platform VaccinesWork. Artikel tersebut menyoroti potensi virus ini menjadi ancaman kesehatan dunia, khususnya karena adanya penularan antarmanusia yang terdeteksi di beberapa wilayah Amerika Selatan.

“Epidemics of person-to-person transmission of the Andes virus in Argentina and Chile indicate it can evolve to sustain human-to-human transmission,” tulis VaccinesWork. Kalimat ini menegaskan bahwa virus Andes, salah satu varian Hantavirus, dapat beradaptasi sehingga menular antar manusia.

Hantavirus sendiri termasuk dalam genus Orthohantavirus. Penyebaran utamanya terjadi ketika manusia terpapar udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penularan ini biasanya lewat partikel aerosol kecil yang dapat terhirup.

Ancaman Hantavirus tidak baru. Pada 01 April 1993, wilayah Four Corners di Amerika Serikat—perbatasan Utah, Colorado, Arizona, dan New Mexico—mengalami wabah misterius yang menewaskan pasangan muda suku Navajo. Setelah penyelidikan, ilmuwan menemukan spesies baru Hantavirus bernama Sin Nombre Virus. Wabah ini kemudian dikenal sebagai 1993 Four Corners outbreak dan menjadi titik awal peningkatan perhatian dunia terhadap evolusi Hantavirus.

Menurut Gavi, perbedaan antara varian “Old World” dan “New World” penting untuk dipahami. Varian Old World sering ditemukan di Eropa dan Asia, dan biasanya menyebabkan HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome). Sementara varian New World di Amerika dapat memicu HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) yang jauh lebih mematikan.

WHO dan lembaga kesehatan global masih menilai ancaman pandemi Hantavirus sebagai “low”, namun tingkat fatalitasnya cukup mengkhawatirkan. Untuk HFRS, kematian berkisar antara 5–15 %. Namun pada HPS, fatalitasnya bisa mencapai 35–50 %. Gejala awal sering mirip flu biasa: demam, nyeri tubuh, dan muntah. Jika tidak segera diobati, kondisi dapat berkembang menjadi pendarahan internal, gagal ginjal, penumpukan cairan di paru-paru, hingga syok kardiovaskular.

Masa inkubasi Hantavirus cukup panjang, yakni dua hingga empat minggu. Hal ini memberi waktu bagi seseorang untuk menyebarkan virus atau melakukan perjalanan sebelum gejala muncul. Penelitian pada 01 Januari 1996, 01 Januari 2006, dan 01 Januari 2018 menunjukkan adanya indikasi penularan antarmanusia, terutama pada virus Andes di Argentina dan Chile.

Gavi menilai pengawasan genomik dan serologi sangat penting untuk memantau mutasi yang dapat meningkatkan kemampuan penularan. “Healthcare systems should be prepared to implement prevention strategies for person-to-person transmission,” tulis laporan tersebut. Ini menekankan kesiapan sistem kesehatan untuk menghadapi potensi penularan antarmanusia.

Sejauh ini belum ada vaksin Hantavirus yang digunakan secara luas di dunia. Korea Selatan memang mengembangkan vaksin untuk HFRS sejak 1990, namun penggunaannya masih terbatas di China dan Korea Selatan karena bukti efektivitasnya belum dianggap cukup kuat. Untuk HPS, beberapa kandidat vaksin masih berada di tahap uji klinis.

Penanganan pasien Hantavirus sebagian besar bersifat suportif. Penggunaan ventilator dan obat antivirus ribavirin menjadi pilihan utama. Namun efektivitas ribavirin terhadap Hantavirus masih diperdebatkan, sehingga belum ada rekomendasi pasti.

Gavi menekankan langkah paling penting untuk mencegah penyebaran Hantavirus: menghindari kontak dengan tikus dan lingkungan yang terkontaminasi. Masyarakat disarankan menyimpan makanan dalam wadah tertutup, menjaga kebersihan rumah, serta segera melakukan pengendalian tikus bila terjadi infestasi. Pembersihan kotoran tikus harus dilakukan hati‑hati agar tidak menghirup aerosol yang membawa virus.

Selain itu, penguatan sistem pengawasan penyakit dan kesiapan rumah sakit menghadapi potensi penularan antarmanusia dinilai menjadi langkah krusial agar Hantavirus tidak berkembang menjadi pandemi baru. Dengan memantau perubahan genomik dan meningkatkan kapasitas medis, negara-negara dapat merespons lebih cepat jika terjadi wabah.

Secara keseluruhan, meski Hantavirus masih dianggap risiko rendah, data fatalitas tinggi dan potensi penularan antarmanusia menuntut kewaspadaan. Kesiapan sistem kesehatan, pengawasan yang ketat, dan pencegahan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi kunci dalam meminimalisir dampak virus ini.

Hantaviruspenularan antarmanusiaAndes virusvaksinWHOaerosolpengendalian tikus

Komentar

Memuat komentar...