Petani Kubis Dairi Bidik Ekspor, Untung Dua Kali Lipat

Ratna D. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Petani Kubis Dairi Bidik Ekspor, Untung Dua Kali Lipat

Gambar atau konten salah?

Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Dairi tengah mendorong pengembangan kubis lokal agar bisa menembus pasar ekspor. Langkah ini ditempuh lewat program bernama Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP). Fokusnya ada tiga: memperkuat budidaya yang sesuai standar ekspor, meningkatkan kualitas setelah panen, dan membangun rantai pasok yang berkelanjutan. Tujuannya jelas—meningkatkan daya saing sekaligus pendapatan petani kubis di Dairi, Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi punya potensi besar untuk jadi salah satu sentra hortikultura nasional. Tanah vulkanik di sana subur. Ketinggian wilayahnya antara 700 hingga 1.450 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini sangat cocok untuk kubis dataran tinggi yang punya tekstur renyah dan padat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi tahun 2025, luas panen kubis tercatat lebih dari 549 hektare. Produktivitas lahannya berkisar antara 6 hingga 7,3 ton per hektare. Dengan potensi itu, produksi kubis Dairi saat ini diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 ton per tahun—semua untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Tapi lewat modernisasi pertanian dan penguatan rantai pasok, pemerintah daerah memproyeksikan alokasi produksi untuk pasar ekspor sebesar 100 hingga 200 ton per bulan pada tahap awal. Ini akan didukung penerapan standar mutu, penguatan kelembagaan petani, dan peningkatan kapasitas penanganan pascapanen.

Pengembangan pasar ekspor membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi petani kubis di Dairi. Berdasarkan proyeksi yang disampaikan, harga kubis di pasar domestik berkisar antara Rp2.500 hingga Rp4.000 per kilogram. Keuntungan bersihnya sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.

Sementara itu, harga kubis untuk pasar ekspor diproyeksikan mencapai Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Setelah memperhitungkan penyesuaian biaya produksi—termasuk penyortiran dan pengemasan yang diperkirakan mencapai Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram—keuntungan bersih petani diproyeksikan berada di kisaran Rp3.500 hingga Rp5.000 per kilogram.

Dengan kata lain, pengembangan pasar ekspor berpotensi meningkatkan keuntungan petani sekitar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan penjualan di pasar domestik. Tapi besaran itu tetap bergantung pada harga aktual, biaya produksi, standar mutu, dan efisiensi rantai pasok.

Varietas Green Nova F1 menjadi salah satu yang dikembangkan petani. Alasannya? Varietas ini punya karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan pasar dataran tinggi—bobot ideal, knop padat, dan daya simpan yang mendukung proses distribusi.

Kubis Dairi Bidik Pasar Asia Tenggara dan Asia Timur

Pengembangan ekspor kubis Dairi diarahkan untuk menyasar pasar Asia Tenggara dan Asia Timur. Malaysia dan Singapura menjadi target pasar potensial. Kebutuhan pasokan diharapkan berlangsung secara rutin.

Selain itu, Taiwan juga menjadi salah satu pasar yang dituju. Negara ini punya persyaratan mutu dan kesegaran produk yang ketat. Semua itu perlu dipenuhi lewat penguatan sistem produksi dan penanganan pascapanen. Untuk memenuhi persyaratan pasar internasional, petani didorong menerapkan Good Agricultural Practices (GAP)—termasuk pengelolaan budidaya yang baik, penggunaan pestisida secara tepat, dan pengendalian residu sesuai ketentuan negara tujuan ekspor.

Penerapan sorting and grading juga jadi bagian penting dalam menjaga konsistensi mutu. Kubis yang dikembangkan untuk pasar ekspor ditargetkan memiliki bobot antara 1,5 hingga 2,5 kilogram per knop—sesuai dengan spesifikasi dan permintaan calon pembeli.

Di sisi kelembagaan, pemerintah daerah memperkuat peran kelompok tani dan koperasi. Tujuannya: mendukung konsolidasi produksi, kontinuitas pasokan, dan peningkatan posisi tawar petani dalam rantai pemasaran.

Freddy Lumban Gaol, Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian sekaligus Project Director HDDAP, menegaskan bahwa pengembangan kubis di Kabupaten Dairi adalah bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi hortikultura berbasis kawasan dan meningkatkan nilai tambah produk petani.

"Program HDDAP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong penguatan rantai nilai hortikultura dari hulu hingga hilir. Kabupaten Dairi memiliki potensi pengembangan kubis yang perlu dioptimalkan melalui penerapan praktik budidaya yang baik, peningkatan kualitas pascapanen, dan penguatan akses pasar. Kami ingin memastikan bahwa produk yang dihasilkan petani mampu memenuhi persyaratan mutu dan memiliki daya saing di pasar domestik maupun internasional," ujar Freddy dalam keterangan tertulis, Minggu, 20 September 2026.

Freddy mengatakan pengembangan orientasi ekspor perlu didukung perencanaan produksi yang terukur, kelembagaan petani yang kuat, serta kemitraan berkelanjutan dengan pelaku usaha.

"Akses pasar ekspor harus dibangun melalui kesiapan produksi, konsistensi mutu, dan kepastian pasokan. Karena itu, pendampingan melalui HDDAP diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani dan kelembagaan, sehingga peluang pasar yang terbuka dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi petani kubis di Dairi," sambungnya.

Doktor jebolan universitas ternama di Jepang itu tak menampik bahwa penguatan rantai pasok dan peningkatan kapasitas petani menjadi bagian penting dalam membangun sistem hilirisasi hortikultura yang berorientasi pada mutu dan kebutuhan pasar.

HDDAP Dorong Modernisasi Pertanian di Kabupaten Dairi

Pengembangan kubis Dairi mendapat dukungan lewat sinergi antara Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Dairi dengan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian melalui program HDDAP.

Program HDDAP adalah upaya pengembangan hortikultura di wilayah lahan kering. Arahannya: memperkuat modernisasi pertanian, meningkatkan sarana dan prasarana pendukung, memperbaiki penanganan pascapanen, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan rantai pasok. Dukungan ini diharapkan bisa membantu petani meningkatkan produktivitas, memenuhi persyaratan mutu pasar, dan memperluas akses pemasaran—termasuk peluang ekspor.

Kesti Rusda Angkat, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Dairi, mengatakan kubis Dairi punya potensi untuk bersaing di pasar internasional lewat pendampingan dan pengembangan yang berkelanjutan.

"Kubis Dairi memiliki kualitas premium yang tidak kalah bersaing dengan produk luar negeri. Melalui pendampingan dari hulu ke hilir dalam program HDDAP bersama Direktorat Jenderal Hortikultura, Dairi siap melakukan pengembangan kubis seluas lebih dari 215 hektare. Kami berkomitmen mendampingi petani agar mampu memenuhi standar mutu serta menjaga kontinuitas pasokan ekspor secara berkelanjutan," ujar Kesti.

Ia mengatakan, pengembangan kawasan kubis melalui HDDAP diharapkan dapat memperkuat daya saing produk lokal sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.

Petani Harapkan Akses Pasar yang Lebih Luas

Dukungan terhadap program HDDAP juga disambut positif oleh petani kubis di Kabupaten Dairi. Juragan Sihombing, petani dari Kelompok Tani Martabe, Desa Lae Hole II, Kecamatan Parbuluan, berharap program tersebut bisa membuka akses pasar yang lebih luas bagi hasil produksi petani.

"Program HDDAP sangat bermanfaat bagi kami. Kami berharap program ini dapat membuka akses pasar ekspor. Selama ini, kami sangat bergantung pada harga pasar lokal yang kerap berfluktuasi," kata Juragan.

Ia menilai pendampingan budidaya dan penguatan akses pasar menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepastian pemasaran hasil produksi petani. "Dengan adanya pendampingan budidaya berstandar ekspor dan kepastian pembeli luar negeri, kami optimistis pendapatan petani dapat meningkat secara signifikan," ujarnya.

Pengembangan kubis di Kabupaten Dairi melalui program HDDAP diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi hortikultura, meningkatkan nilai tambah produk pertanian, serta memperluas peluang pasar bagi petani Indonesia.

Lewat kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelembagaan petani, dan pelaku usaha, pengembangan komoditas kubis diarahkan untuk membangun sistem produksi yang berdaya saing, memenuhi standar pasar, dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, inisiatif ini menyoroti bagaimana pemerintah mencoba menggeser orientasi petani dari pasar lokal yang fluktuatif ke pasar ekspor yang lebih stabil dan menguntungkan. Keberhasilannya akan sangat tergantung pada konsistensi mutu, kesiapan kelembagaan, dan kemampuan menjaga pasokan—bukan sekadar pada potensi lahan atau varietas unggul semata.

kubis Dairiekspor hortikulturaHDDAPpengembangan pasardaya saing petanirantai pasokhilirisasi

Komentar

Memuat komentar...