Harga Ayam Anjlok di Bawah Biaya Produksi, Peternak Terjepit

Arif S. · 3 min baca · 1 jam lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Harga Ayam Anjlok di Bawah Biaya Produksi, Peternak Terjepit

Gambar atau konten salah?

Kementerian Pertanian akhirnya angkat bicara soal keluhan para peternak ayam. Harga ayam di kandang saat ini benar-benar jeblok. Angkanya berkisar Rp21.000 sampai Rp22.000 per kilogram. Padahal biaya produksi ayam broiler saja sudah mencapai Rp23.000 hingga Rp23.500 per kilogram. Peternak jelas merugi.

Akar masalahnya ada di pakan. Harga jagung, bahan baku utama pakan, sudah melonjak di atas Rp7.800 per kilogram, bahkan tembus Rp8.000 per kilogram. Kementan mencatat, harga pakan broiler secara umum sudah di atas Rp9.400 per kilogram. Belum lagi tekanan dari kenaikan harga bekatul, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan biaya logistik yang membengkak untuk bungkil kedelai serta gandum impor. Semua ini adalah komponen pakan ternak.

Pemerintah mengklaim sudah mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga. Tim Direktorat Perbibitan dan Produksi Kementan menyatakan, pengawasan terhadap pasokan, distribusi, dan harga terus diperkuat. Tujuannya satu: memastikan peternak bisa mendapatkan pakan dengan harga yang wajar. "Tekanan biaya bahan baku mencakup harga jagung yang dilaporkan melampaui Rp7.500/kg, kenaikan bekatul, serta pengaruh kurs dan biaya logistik terhadap bungkil kedelai (SBM) dan gandum pakan impor. Impor bahan baku dilakukan oleh BUMN maupun swasta. Pemerintah memperkuat pemantauan pasokan, distribusi, dan harga untuk memastikan peternak memperoleh pakan dengan harga yang wajar," jelas pernyataan resmi dari tim tersebut pada Kamis, 08 Oktober 2026.

Untuk mengatasi harga ayam hidup yang anjlok di bawah biaya produksi, pemerintah memfasilitasi penyerapan oleh pelaku usaha. Produksi bibit ayam atau DOC (day old chick) juga dikendalikan agar sesuai permintaan pasar. "Optimalisasi pemotongan di RPHU (Rumah Potong Hewan Unggas) dan penyimpanan dingin juga didorong untuk memperkuat serapan dan memperbaiki harga di tingkat peternak," tambah pernyataan itu.

Data dari Kementan yang dirilis September 2026 memperkirakan produksi daging ayam ras tahun ini mencapai 4,71 juta ton. Sementara kebutuhan nasional hanya sekitar 3,97 juta ton. Artinya, ada surplus produksi sebesar 0,73 juta ton. Tapi angka ini tidak otomatis berarti kelebihan pasokan terjadi di semua daerah dan waktu. "Karena itu, pengaturan produksi terus dilakukan dengan memperhatikan perkembangan DOC, panen, permintaan, dan harga," jelas pernyataan Kementan.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk jagung sudah berjalan. Bahkan pemerintah sudah menyetujui tambahan alokasi 150.000 ton. Namun masalahnya, peternak broiler lebih banyak menggunakan pakan jadi. Jadi penurunan harga jagung sebagai bahan baku belum tentu langsung menurunkan harga pakan. Butuh koordinasi antara Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, dan pelaku usaha. "Skema khusus untuk broiler memerlukan koordinasi dengan Bapanas, Bulog, dan pelaku usaha sesuai ketentuan program," ungkap pernyataan Kementan.

Kementan mengakui, kerugian yang berkepanjangan bisa menggerus modal peternak. Akibatnya, peternak bisa mengurangi populasi ayam atau bahkan berhenti total. Karena itu, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi: memperbaiki serapan dan harga ayam hidup, menjaga stabilitas harga pakan dan DOC, serta menyesuaikan produksi secara terukur. "Tujuannya menjaga keberlanjutan peternak sekaligus memastikan pasokan daging ayam tetap tersedia," pungkas pernyataan tersebut.

Keluhan peternak sendiri sudah sangat gamblang. Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) menyebut harga di kandang saat ini Rp21.000-Rp22.000 per kilogram. Sementara biaya produksi sudah Rp23.000-Rp23.500 per kilogram. Asep Saepudin, peternak dari Permindo, mengatakan kondisi ini membuat peternak semakin terjepit. Kenaikan biaya produksi sudah terjadi sejak awal 2026. "Kondisinya sekarang harga pakan rata-rata sudah di atas Rp9.400/kg untuk starter umur 7-21 hari. Normalnya sekitar Rp8.000-8.500/kg. Harga live bird sudah turun per hari ini Rp21.000-22.000/kg di kandang ya. HPP kami sudah Rp23.000/kg. Pusing kami," kata Asep pada Sabtu, 03 Oktober 2026.

Intinya, harga ayam di kandang anjlok karena biaya produksi membengkak, terutama dari pakan. Pemerintah sudah melakukan intervensi lewat pengawasan pasokan, pengendalian produksi DOC, dan program SPHP jagung. Tapi efektivitasnya masih dipertanyakan karena harga pakan jadi belum ikut turun. Peternak terus tertekan, dan jika dibiarkan, produksi ayam nasional bisa terganggu.

harga ayam jeblokpeternak merugipakan mahalharga jagung naikbiaya produksistabilisasi hargasurplus produksi

Komentar

Memuat komentar...