Harga Ayam Anjlok, Peternak Jual di Bawah Modal

Dwi H. · 3 min baca · 1 jam lalu · 20 dibaca
Bisik.id
Harga Ayam Anjlok, Peternak Jual di Bawah Modal

Gambar atau konten salah?

Harga ayam hidup di tingkat petani peternak kembali anjlok. Saat ini, harganya hanya berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 20.500 per kilogram. Padahal, biaya untuk memproduksi ayam tersebut, atau yang disebut harga pokok produksi (HPP), mencapai Rp 24.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Artinya, peternak menjual di bawah modal.

Penyebab utama kenaikan HPP ini adalah harga pakan ayam yang melonjak. Pakan kini dijual dengan harga Rp 9.700 hingga Rp 10.000 per kilogram. Pemerintah sebenarnya punya patokan harga beli, yaitu Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp 19.500 per kilogram. Tapi angka itu sudah tidak masuk akal lagi karena biaya produksi sudah jauh lebih tinggi.

Asep Saepudin, seorang peternak ayam broiler dari Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), menjelaskan situasinya. "Harga pakan kembali akan ada kenaikan. Harga feed sekarang sudah Rp 9.700-10.000/kg. Ayam hidup Rp 21.500-22.000/kg. Peternak merugi Rp 4.000-5.000 per ekor. Kalau ini tidak segera terkendali dalam bulan ini, tidak bisa kembali beternak," katanya pada 17 Oktober 2026.

Permindo saat ini memiliki 180 anggota, semuanya peternak mandiri. Asep memperingatkan, jika harga tidak segera dikendalikan, semua peternak bisa bangkrut dalam waktu dua bulan. "Total anggota Permindo 180 orang peternak mandiri. Kalau kondisi ini dibiarkan terus, dua bulan lagi semua gulung tikar," ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Asep meminta pemerintah segera turun tangan. Ia mendesak agar harga ayam hidup dikendalikan, karena saat ini harganya masih jauh dari acuan yang ditetapkan pemerintah. Ia juga meminta peternak yang tergabung dalam sistem integrasi untuk menaikkan harga jual ayam hidup. Menurutnya, mereka punya pengaruh besar terhadap pergerakan harga di pasar.

Permindo juga mengajukan dua permintaan utama. Pertama, harga pakan harus turun kembali ke kisaran Rp 8.000 hingga Rp 8.500 per kilogram. Kedua, harga jual ayam hidup minimal harus Rp 24.000 per kilogram. Angka ini dianggap bisa menutup biaya produksi atau HPP. "Kondisi ini cukup berat bagi peternak. Yang dibutuhkan, harga pakan bisa turun kembali ke harga Rp 8.000-8.500/kg. Harga jual ayam hidup menyesuaikan modal atau HPP, saat ini meminta di Rp 24.000/kg minimal," pungkas Asep.

Kementerian Pertanian buka suara. Tim Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) mengakui bahwa harga pakan memang naik. Kenaikan ini dipicu oleh beberapa faktor. Harga jagung, misalnya, dilaporkan sudah melampaui Rp 7.500 per kilogram. Selain itu, harga bekatul juga ikut naik. Faktor lain adalah nilai tukar mata uang dan biaya logistik yang mempengaruhi harga bungkil kedelai (SBM) serta gandum impor untuk pakan.

Menghadapi harga ayam yang anjlok, Kementan sudah mengambil langkah. Mereka memfasilitasi penyerapan ayam hidup oleh pelaku usaha. Produksi DOC (anak ayam) untuk ayam broiler juga dikendalikan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. "Optimalisasi pemotongan di RPHU dan penyimpanan dingin juga didorong untuk memperkuat serapan dan memperbaiki harga di tingkat peternak," jelas keterangan Tim Ditjen PKH.

Pemerintah juga sudah diarahkan untuk memperbaiki serapan dan harga ayam hidup, membuat pakan dan DOC lebih terjangkau, serta menyesuaikan produksi secara terukur. Semua ini dilakukan untuk menjaga agar peternak bisa terus berusaha dan pasokan daging ayam di pasaran tetap aman. "Tujuannya menjaga keberlanjutan peternak sekaligus memastikan pasokan daging ayam tetap tersedia," tutup pernyataan resmi tersebut.

Kondisi ini menunjukkan betapa rapuhnya posisi peternak mandiri. Mereka terjepit di antara biaya pakan yang terus naik dan harga jual yang justru turun. Pemerintah sudah bergerak, tapi efektivitas kebijakan masih harus dilihat ke depannya. Jika harga pakan tidak segera terkendali, bukan tidak mungkin produksi ayam nasional akan terganggu.

harga ayam anjlokpeternak rugiharga pakan naikbiaya produksiHPP ayampemerintah turun tangan

Komentar

Memuat komentar...