Harga BBM Naik, Motor 2‑Tak Merasa Beban Lebih Besar

Dwi H. · 2 min baca · 1 hari lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Harga BBM Naik, Motor 2‑Tak Merasa Beban Lebih Besar

Gambar atau konten salah?

Rabu, 10 Juni 2026 – Di SPBU Cihanjuang, Kota Cimahi, barisan kendaraan roda dua menunggu giliran. Di antara antrean, terlihat pemilik motor 2‑tak menunggu untuk mengisi bahan bakar.

Pemerintah resmi menaikkan harga BBM non‑subsidi. Pertamax beralih dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Motor 2‑tak dikenal boros dibandingkan motor 4‑tak. Algifari, warga Soreang, Kabupaten Bandung, memiliki Kawasaki Ninja biru keluaran 2013. Motor yang dibelinya setahun lalu memiliki konsumsi 20‑25 km per liter, jauh di bawah motor 4‑tak yang mencapai 40‑60 km per liter.

Selain jarak, pemilik motor 2‑tak juga harus memilih jenis bahan bakar. Algifari harus mengisi dengan Pertamax atau Pertamax Turbo. “Kaget juga, pagi‑pagi baca berita kenaikan harga BBM. Motor saya 2‑tak, konsumsi BBM boros, ditambah sekarang harga naik pengeluaran makin membengkak,” kata Algifari pada hari Rabu.

Dalam sehari, ia mengisi Pertamax seharga Rp50.000. Dengan harga lama, Rp50.000 cukup untuk dua hari perjalanan pulang‑pergi Soreang‑Cimahi. Namun setelah kenaikan, “Ya tadi isi Rp50 ribu juga, paling sekarang cukup buat 1 hari besoknya harus isi lagi. Belum ditambah pengeluaran buat oli samping, makanya pusing banget,” ujarnya.

Ia mempertimbangkan menjual motor 2‑tak dan mengganti dengan motor matik agar lebih irit. Namun ia berharap harga BBM bisa kembali turun. “Ya mungkin dijual, atau cari motor yang harganya lebih murah. Inginnya ya BBM bisa turun lagi harganya, kalaupun naik jangan terlalu besar seperti sekarang. Naik Rp500 per liter masih masuk akal,” tambahnya.

Pemilik motor 2‑tak lainnya, Rikcy Saut Tobing, juga mengeluhkan hal yang sama. Ia mengendarai Yamaha F‑1ZR jadul dan merasa pusing dengan pengeluaran yang membengkak setelah kenaikan harga BBM non‑subsidi. “Sebetulnya motor saya masih bisa pakai Pertalite, cuma kan antreannya selalu panjang makanya kemarin‑kemarin saya pakai Pertamax. Eh sekarang Pertamaxnya naik hampir Rp4 ribu per liter, ya engap‑engapan kita pastinya,” jelas Saut.

Ia menegaskan bahwa motor 2‑tak tidak ia pakai setiap hari. Namun ia khawatir kenaikan harga BBM akan mengerek harga kebutuhan lain, terutama sembako. “Pasti, tunggu saja sebentar lagi harga sembako pasti naik karena BBM naik. Sebagai kelas pekerja menengah ke bawah, pastinya akan terbebani, semakin tergencet kondisi rakyat,” ujar Saut.

Di SPBU Cihanjuang, antrian panjang menandai ketergantungan masyarakat pada BBM. Harga yang naik menambah beban ekonomi bagi pemilik motor 2‑tak yang konsumsi boros. Kenaikan ini juga menandai potensi kenaikan harga barang kebutuhan pokok, mengingat BBM mempengaruhi biaya transportasi dan distribusi. Dengan demikian, perubahan harga BBM non‑subsidi berdampak langsung pada kehidupan sehari‑harinya para pengguna motor 2‑tak di daerah tersebut.

BBM non‑subsidiPertamaxmotor 2‑takharga BBM naikkonsumsi borosSPBU Cihanjuangsembako

Komentar

Memuat komentar...