Penyerapan Pupuk Subsidi di Bandung Terhambat El Nino

Fitri A. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Penyerapan Pupuk Subsidi di Bandung Terhambat El Nino

Gambar atau konten salah?

Kepada para petani di Kabupaten Bandung, kekhawatiran akan kemarau panjang mulai terasa. Fenomena El Nino, yang sering dikaitkan dengan kekeringan, membuat banyak petani memilih menunda masa tanam. Akibatnya, penyerapan pupuk subsidi hingga Mei 2026 masih tergolong rendah.

Ina Dewi Kania, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, menyatakan bahwa realisasi penyerapan pupuk subsidi baru mencapai sekitar 30 % dari total alokasi yang tersedia. Ia menambahkan, "Sampai dengan bulan Mei, itu alokasi kita baru tercapai rata-rata di angka 30 persen serapannya," saat ditemui di Soreang pada 11 Juni 2026.

Menurut Ina, salah satu faktor utama menurunkan penyerapan pupuk subsidi adalah ketakutan petani terhadap ketersediaan air di tengah isu kemarau. Selain itu, sebagian petani kini mulai memanfaatkan pupuk hasil produksi sendiri sehingga tidak langsung menebus jatah pupuk subsidi yang dimiliki.

Ia juga mengungkapkan, "Kemudian juga mungkin dengan adanya istilah Godzilla El Nino jadi kesannya tuh apa ya, serem gitu loh. Jadi mereka tuh mau tanam, misalnya kalau sayuran kan tanam enggak enggak terikat musim kan. Kayak misalnya mau tanam apa, pakcoy atau apa, kan bisa kapan aja, karena dia kan umurnya hanya 40 hari," menjelaskan bagaimana ketidakpastian memengaruhi keputusan tanam.

Meski demikian, Dinas Pertanian tetap optimistis bahwa penyerapan pupuk subsidi akan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kebutuhan pupuk biasanya melonjak saat memasuki musim tanam kedua yang berlangsung sekitar September hingga Oktober.

Ia menegaskan, "Biasanya puncak pupuk itu ada di musim tanam kedua, yaitu di bulan September-Oktober. Biasanya itu kan lagi pas hujan turun, petani lagi semangat karena mereka sudah lama tidak beraktivitas, misalnya gitu, mereka akan lebih beralih dengan pupuk subsidi," menjelaskan pola penyerapan.

Ina menilai kebijakan penurunan harga pupuk hingga 20 % juga berpotensi mendorong peningkatan penggunaan pupuk bersubsidi. Menurutnya, petani saat ini hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mulai bercocok tanam.

Ia menambahkan, "Apakah momen ini dia tanam, dia perlu pupuk, atau nanti aja gitu, karena kan penebusan itu bisa dilakukan kapan saja pada saat petani memerlukan, tapi tidak melebihi dari kuotanya mereka," menjelaskan fleksibilitas penebusan.

Distribusi pupuk subsidi dilakukan berdasarkan data resmi yang tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) dan Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E‑RDKK).

Ia menegaskan, "Yang terdaftar nanti harus lihatnya di data Simluhtan ya, di data Simluhtan kan. Iya, karena kalau kita yang untuk pupuk bersubsidi itu biasanya kita akan berhitungnya dari alokasi. Alokasi per tahun, alokasi per bulan, ya," menekankan pentingnya data.

Ia juga menegaskan bahwa petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani dan tidak terdaftar dalam sistem administrasi tersebut tidak dapat memperoleh pupuk subsidi. Ia menyatakan, "Kalau misalnya mereka walaupun petani, tapi mereka tidak bergabung di kelompok, tidak terdaftar di dalam Simluhtan, apalagi dia tidak mengisi E‑RDKK, ya dia enggak bisa menerima pupuk bersubsidi," menegaskan batasan distribusi.

Untuk tahun 2026, pemerintah mengalokasikan pupuk subsidi bagi komoditas tertentu, yakni tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Tiga jenis pupuk yang disubsidi meliputi Urea, NPK, dan pupuk organik.

Ia menjelaskan target alokasi, "Kalau yang untuk Urea-nya itu kita punya di target di RDKK-nya ya, di RDKK-nya itu 33.291 ton Kemudian untuk NPK-nya di 36.585 ton. Kemudian untuk organiknya di 1.450 ton," menuliskan jumlah ton.

Kabupaten Bandung sendiri memiliki luas tanam yang cukup besar, mencapai hampir 60.000 hektare setiap tahun. Dengan produktivitas rata-rata sekitar 8 ton per hektare, potensi produksi pertanian daerah tersebut diperkirakan mencapai ratusan ribu ton setiap tahunnya.

Ia menambahkan, "Iya kita tuh tanam itu kan hampir 60.000 hektare. Misalnya 1 hektarnya bisa di angka 8 ton aja, bisa mencapai 480.000 ton. Kalau satu tahun, produksinya sekitar 480 ribu sampai 520 ribu ton," menggarisbawahi kapasitas produksi.

Dengan situasi El Nino yang masih belum pasti, petani di Bandung harus menunggu sinyal cuaca dan kebijakan pemerintah. Penyerapan pupuk subsidi yang masih rendah menandakan perlunya koordinasi lebih lanjut antara petani, kelompok tani, dan dinas terkait, agar alokasi dapat dimanfaatkan secara optimal.

El Ninopupuk subsidipenyerapan pupukKabupaten BandungSimluhtanE-RDKKUreaNPK

Komentar

Memuat komentar...