Harga Cabai Masih Tinggi, Petani Mulai Turun

Jaka M. · 3 min baca · 1 jam lalu · 14 dibaca
Bisik.id
Harga Cabai Masih Tinggi, Petani Mulai Turun

Gambar atau konten salah?

Harga cabai di pasaran masih terbilang tinggi bagi konsumen. Cabai rawit merah bahkan sudah menyentuh angka Rp 100.000 per kilogram. Padahal, di tingkat petani, harga sudah mulai turun sejak dua pekan lalu.

Tunov Mondro Atmodjo, dari Dewan Pertimbangan Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI), mengungkapkan harga di petani kini berkisar Rp 42.000 hingga Rp 50.000 per kg. Sebelumnya, harga sempat di angka Rp 60.000 per kg. Namun, cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang membuat harga cabai tetap berfluktuasi.

"Cuaca ekstrim sangat mempengaruhi produksi cabai, kekeringan membuat tanaman cabai berhenti produksi," kata Tunov pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Di tengah kekeringan, tanaman cabai hanya mampu menghasilkan panen sekitar 50 persen saja. Menurut Tunov, kondisi itu sebenarnya sudah tergolong bagus. Karena itu, ia memperkirakan harga cabai ke depan tidak akan turun drastis. Meski begitu, ia memastikan stok di lapangan masih aman dan mencukupi.

"Saya kira kalau turun juga tidak akan banyak karena kondisi tanaman produksi tidak maksimal. Artinya dengan kondisi cuaca seperti ini bisa terpanen 50% saja sudah bagus," jelasnya.

Tunov juga menyoroti rantai pasok cabai yang masih menggunakan pola lama. Komoditas ini masih melalui banyak perantara sebelum sampai ke tangan konsumen akhir. Pola seperti itu ikut mendongkrak harga di pasaran.

"Rantai pasok khususnya komoditas cabai masih pola lama butuh beberapa tangan agar sampai ke konsumen, meski sekarang sudah mulai banyak di beberapa wilayah sentra dari kelompok tani langsung ke pasar dan ada juga yang dengan kerjasama antar daerah," paparnya.

ACCI sendiri sudah menggencarkan kegiatan pasar harga terjangkau di sejumlah provinsi, termasuk Jakarta. Langkah ini melibatkan berbagai lembaga, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, Bank Indonesia, hingga pemerintah daerah.

Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027, Tunov memperkirakan harga cabai akan cenderung stabil jika cuaca mulai membaik.

"Saya kira sampai dengan hari nataru harga akan cenderung stabil jika cuaca mendukung, artinya tidak akan jatuh tapi juga tidak terlalu tinggi, masih dalam level aman," imbuhnya.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Ito Hediarto memastikan pasokan cabai secara nasional cukup untuk menghadapi Nataru. Menurutnya, kelancaran distribusi jadi kunci utama saat ini, terutama pengiriman lewat jalur laut.

"Kalau untuk cabai sendiri cukup, tinggal kita lihat saja sisi distribusinya," kata Ito.

Ito menjelaskan, pengiriman cabai ke daerah yang harus melewati laut kerap tersendat. Kondisi itu bisa menurunkan pasokan di daerah tujuan dan akhirnya mendorong harga naik. Untuk menjaga harga, Bapanas memantau perkembangannya lewat rapat inflasi yang digelar setiap Senin. Cabai dan beras disebut sebagai dua komoditas yang biasanya naik jelang akhir tahun.

Untuk mengatasi masalah distribusi, Bapanas menyediakan fasilitas distribusi pangan (FDP). Program ini membantu mobilisasi pasokan dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan. Dengan begitu, beban biaya distribusi berkurang dan cabai bisa sampai ke konsumen dengan harga lebih terjangkau.

Realisasi anggaran FDP saat ini sekitar 69,5 persen. Artinya, masih ada sekitar 30,5 persen anggaran yang tersedia untuk daerah yang mengalami kenaikan harga ekstrem.

Selain cabai, Ito memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat selama Nataru. Bapanas telah berkoordinasi dengan Perum Bulog agar beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan tersedia setiap bulan.

"Insya Allah tidak usah khawatir dari masyarakat, setiap bulannya akan ada beras di masyarakat, termasuk di bulan Desember," tambah Ito.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga cabai rawit merah memang sudah turun 0,82 persen. Namun, harganya masih di level Rp 102.950 per kg. Cabai merah keriting turun 1,6 persen menjadi Rp 86.100 per kg. Cabai rawit hijau di level Rp 79.400 per kg atau turun 0,44 persen. Sementara itu, cabai merah besar justru naik 0,47 persen menjadi Rp 75.600 per kg.

Harga cabai yang masih tinggi di konsumen, meski sudah turun di petani, menunjukkan masalah utama ada di rantai distribusi. Cuaca ekstrem memang menekan produksi, tapi pola distribusi yang panjang dan biaya pengiriman, terutama lewat laut, ikut menjaga harga tetap mahal. Pemerintah mengandalkan program FDP dan pemantauan rutin untuk menekan lonjakan harga jelang Nataru, namun efektivitasnya masih tergantung pada realisasi anggaran dan kondisi cuaca ke depan.

harga cabairantai pasokcuaca ekstremdistribusiproduksiNataru

Komentar

Memuat komentar...