Singapura: Pemangkasan Gas RI Tak Capai 2%

Agus P. · 3 min baca · 44 menit lalu · 21 dibaca
Bisik.id
Singapura: Pemangkasan Gas RI Tak Capai 2%

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Singapura memberikan tanggapan resmi terhadap langkah Indonesia yang mulai memangkas ekspor gas pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menyatakan bahwa pengurangan ini tidak sampai 2 persen dari total kebutuhan gas harian mereka.

Menurut EMA, keputusan tersebut hanya berdampak kecil terhadap pasokan gas di Singapura. Pengurangan pasokan gas sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari setara dengan 17 BBTUD. Pengurangan ini berlangsung selama 18 hari.

"Jumlah ini tidak sampai 2% dari total kebutuhan gas harian kami yang mencapai lebih dari 1.000 BBTUD," kata EMA seperti dikutip dari CNA, Sabtu, 24 Oktober 2026.

EMA juga menyebutkan bahwa para importir dapat mengambil langkah sesuai ketentuan kontrak untuk menyikapi gangguan pasokan gas dari Indonesia. Selain itu, EMA telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi pengurangan pasokan gas ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, Singapura pernah mengalami pengurangan pasokan gas sebesar 20 hingga 100 BBTUD akibat pemeliharaan fasilitas, baik yang terencana maupun mendadak. "Pengurangan pasokan tersebut berhasil diatasi dengan menggunakan sumber gas lain tanpa menimbulkan gangguan. Singapore GasCo juga siap menambah impor gas alam cair (LNG) kapan saja," kata EMA.

Singapura tidak hanya bergantung pada Indonesia untuk memenuhi kebutuhan gas alamnya. Negara itu juga mengimpor dari berbagai negara lain. Sekitar 95 persen kebutuhan listrik Singapura dipenuhi dari gas alam. Pasokannya berasal dari jaringan pipa Indonesia dan Malaysia, serta gas alam cair (LNG) yang diimpor dari berbagai negara.

Singapura juga terus mengembangkan sumber energi alternatif, termasuk tenaga surya, serta melakukan penelitian terkait energi nuklir dan panas bumi. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas sumber pasokan energi negara tersebut.

Perusahaan pembangkit listrik di Singapura diwajibkan memiliki cadangan bahan bakar yang cukup, termasuk solar, untuk menjaga kelangsungan produksi listrik. "Perusahaan pembangkit listrik juga diwajibkan memiliki cadangan bahan bakar yang cukup untuk menghasilkan listrik, termasuk cadangan solar," tambah EMA, dikutip dari The Straits Times.

Salah satu pemasok gas terbesar di Singapura, Gas Supply, mengakui pengiriman gas kepada sejumlah pelanggannya terdampak pengurangan sementara pasokan dari Indonesia. Perusahaan milik Temasek tersebut telah menghubungi pelanggan yang terdampak. "Perusahaan juga terus berkoordinasi erat dengan pemasok gas di sektor hulu untuk menangani situasi ini," kata Gas Supply.

Pengurangan ekspor gas ini terjadi setelah Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pernyataan pada Kamis, 22 Oktober 2026. Bahlil menyebut Indonesia dapat menghentikan ekspor energi ke negara-negara yang tidak menunjukkan sikap saling menghormati.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengumumkan Indonesia mulai mengurangi ekspor gas ke Singapura sebesar 31 BBTUD pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Rinciannya, sebanyak 15 BBTUD berasal dari Natuna dan 16 BBTUD dari Jambi Merang di Sumatera. Berdasarkan penelusuran The Straits Times, gas dari Sumatera dipasok kepada Gas Supply.

Gas dari Laut Natuna dialirkan melalui pipa bawah laut menuju fasilitas penerimaan yang dikelola Sembcorp Gas. Dalam laporan tahunan Sembcorp Industries 2023, perusahaan tersebut tercatat memiliki perjanjian pembelian gas dari ladang Natuna Barat senilai sekitar 1,9 miliar dolar Singapura. Kedua kontrak pasokan gas dari Indonesia tersebut diperkirakan berlaku hingga 2028.

Indonesia sendiri telah merencanakan pengurangan ekspor gas ke Singapura sejak beberapa tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Langkah pengurangan ekspor gas ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai serius mengalihkan sumber daya energinya untuk kepentingan dalam negeri. Di sisi lain, Singapura telah memiliki berbagai strategi cadangan untuk mengantisipasi gangguan pasokan, termasuk diversifikasi sumber impor dan pengembangan energi alternatif. Kedua negara sama-sama memiliki kepentingan strategis dalam pengelolaan sumber daya energi ini.

pengurangan ekspor gasSingapuraIndonesiapasokan gasenergi alternatifdiversifikasi

Komentar

Memuat komentar...