Harga Plastik Naik, Jawa Barat Siapkan Diversifikasi

Vera T. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Harga Plastik Naik, Jawa Barat Siapkan Diversifikasi

Gambar atau konten salah?

Bandung, 9 April 2024 – Ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat, kini merembet ke Jawa Barat. Gangguan pasokan energi membuat harga minyak naik, dan akibatnya harga plastik melonjak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah mempersiapkan langkah‑langkah agar dampak ini tidak semakin merajalela, terutama bagi industri dan UMKM yang sangat mengandalkan bahan baku plastik.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastiani, kenaikan harga ini merupakan efek berantai dari situasi global. “Kita tahu bersama bahwa bahan baku dari plastik ini itu dari turunan dari produk BBM dan pasti berdampak. Karena kebutuhan tetap pasti meningkatkan harga,” ucap Nining, Kamis, 9 April 2024.

Nining menegaskan bahwa Indonesia, termasuk Jawa Barat, masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar setengah dari kebutuhan. “Di sisi lain pada posisi domestik kita itu memang sangat bergantung pada bahan baku luar. Bisa dibilang bahwa kita baru bisa memproduksi plastik itu 40 sampai 50% memenuhi kebutuhan, sedangkan sisanya masih sifatnya impor,” katanya.

Di Jawa Barat, impor plastik bukan yang terbesar, namun tetap memainkan peran penting dalam struktur industri. Persentase impor tersebut berada di kisaran 8‑9% dari seluruh nilai impor. Penurunan nilai tukar rupiah menambah tekanan harga. “Dengan adanya masalah atau kemudian gangguan seperti ini tentu saja ini berdampak pada kenaikan harga plastik. Lebih lagi nilai tukar rupiah kita juga melemah dan ini berdampak pada harga juga semakin lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi, pemerintah provinsi mulai melakukan diversifikasi sumber impor bahan baku plastik. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang dianjurkan oleh pemerintah pusat. “Selama ini, pasokan bahan baku plastik menurutnya banyak bergantung pada negara seperti Tiongkok, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Namun kini negara‑negara tersebut mulai membatasi ekspor demi kebutuhan domestik,” jelas Nining.

“Maka kita sekarang sedang mencari potensi potensi negara lain yang memiliki produksi yang cukup tinggi untuk mau apa ekspor seperti Amerika Serikat, India,” ungkapnya. Selain mencari, pemerintah juga akan mempertemukan pelaku industri dengan calon pemasok baru. Tujuannya mengatasi persoalan kenaikan harga yang mungkin terus terjadi selama eskalasi masih berlangsung. “Jadi kita akan menghubungkan pihak yang membutuhkan di kita untuk kemudian kita hubungkan dengan produsen yang ada di negara lain,” tambah Nining.

Di tengah kenaikan harga, pemerintah memastikan ketersediaan bahan baku plastik masih relatif aman. Namun, pengawasan terus dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan lebih lanjut. “Stok sejauh ini masih aman, tapi memang harga naik. Dalam kaitan tersebut, kami nanti akan bisa melihat apa yang perlu dilakukan berkaitan dengan ketersediaan stok dan juga harga yang kemudian nanti kemungkinan bisa terus naik apabila tidak dilakukan treatment,” jelas Nining.

Selain memperbaiki pasokan, pemerintah mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi produksi. Salah satu cara adalah dengan mengurangi penggunaan bahan baku. “Kemudian yang berikutnya yang kita lakukan adalah mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian berkaitan misalnya kemasan plastik sekarang ketebalannya dipertipis sehingga bisa lebih murah dalam biaya produksinya,” ucapnya.

Tak hanya itu, daur ulang plastik juga didorong untuk menekan ketergantungan bahan baku baru. “Kemudian juga kita mendorong recycle plastik di mana sebenarnya sudah ada industri yang saat ini meresycle plastik yang ada untuk kemudian diproduksi kembali dengan kualitas yang cukup baik,” tutur Nining.

Kenaikan harga plastik membuka peluang bagi bahan alternatif, seperti plastik berbasis jagung atau singkong. Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan plastik. “Cukup baik juga apabila kemudian masyarakat karena dengan harga plastik yang mahal, untuk lebih bisa murah harga barang yang dibeli itu mereka membawa sendiri kantong plastik atau kemudian mereka menerapkan refill reduce,” harap Nining.

Menutup pembicaraan, Nining menegaskan bahwa dalam situasi global seperti ini, kenaikan harga memang sulit dihindari. Namun, dampaknya masih bisa ditekan dengan strategi yang tepat, seperti mencari pemasok baru hingga efisiensi penggunaan plastik. “Posisi ketergantungan kita masih cukup tinggi untuk bahan baku impor. Tentu saja kita perlu mencari negara supplier lainnya untuk mengisi kebutuhan plastik kita untuk nanti menghindari adanya shortage pasokan dan kita berharap dengan cara ini juga bisa nantinya menurunkan harga agak tidak terlalu melonjak naik,” pungkasnya.

Dengan langkah diversifikasi, efisiensi, dan daur ulang, pemerintah Jawa Barat berusaha menjaga kestabilan pasokan plastik dan menekan kenaikan harga yang dapat dirasakan langsung oleh industri dan konsumen. Perubahan perilaku konsumen, seperti membawa kantong sendiri atau menerapkan konsep refill, juga menjadi bagian penting dalam menurunkan tekanan harga di masa depan.

Harga plastikKetergantungan imporDiversifikasi sumberDaur ulang plastikPasokan energiKenaikan harga minyakKebijakan pemerintah

Komentar

Memuat komentar...