Harga Telur Melonjak di Konsumen, Peternak Justru Merugi
Gambar atau konten salah?
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, melaporkan adanya kejanggalan pada harga telur di Indonesia. Situasinya cukup aneh. Di satu sisi, pasokan telur sedang melimpah karena produksi meningkat. Tapi di sisi lain, harga yang dibayar konsumen justru melonjak tinggi.
Kejanggalan ini pertama kali tercium saat Amran dan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menggelar rapat mingguan untuk memantau perkembangan inflasi. Amran sudah meminta Bareskrim Polri untuk memberikan perhatian khusus pada masalah ini. Ia menyampaikan hal tersebut dalam laporannya pada Sidang Kabinet Paripurna yang digelar untuk memperingati dua tahun pemerintahan. Laporan itu disampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
"Kemarin ada inflasi sedikit. Kami diskusi dengan Pak Mendagri, Pak Tito setiap hari Senin ada rapat inflasi. Ada anomali, kami sudah diskusi dengan Pak Kapolri dengan Kabareskrim, itu ada anomali untuk ayam, telur," kata Amran dalam video paparan yang diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Amran menjelaskan, harga telur di tingkat peternak justru mengalami penurunan yang cukup dalam. Harganya jatuh hingga Rp 21.000 per kilogram. Penyebabnya jelas: produksi yang melimpah. Untuk mengatasi kelebihan pasokan ini, Kementerian Pertanian sudah meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan penyerapan telur, terutama untuk program Makan Bergizi Gratis. Pemerintah juga sudah mengoordinasikan ekspor telur dari para petani.
Namun, dua kebijakan itu belum cukup. Pasokan telur tetap melimpah. Akibatnya, harga di tingkat peternak belum juga menunjukkan kenaikan.
"Sekarang surplus, kita ekspor, Bapak Presiden. Tapi harga di tingkat peternak itu jatuh Rp 21.000. Kami sudah minta tolong ke Kepala BGN, Pak Sudaryono, sudah minta tolong untuk konsumsi telur biasanya satu kali per minggu jadi dua kali, tiga kali. Tapi ternyata produksi karena melimpah, Bapak Presiden, masih turun," papar Amran.
Nah, inilah bagian yang paling janggal. Di tengah pasokan yang melimpah dan harga murah di peternak, harga telur di konsumen justru meroket. Harganya bahkan melebihi batas atas Harga Eceran Tertinggi (HET). HET untuk telur sendiri berkisar antara Rp 28.000 hingga Rp 30.000 per kilogram.
"Tetapi harga di konsumen itu naik melebihi harga eceran tertinggi. Jadi ada anomali," ujar Amran.
Ia kembali menegaskan bahwa dirinya sudah mengirimkan surat kepada Kapolri, Jenderal Suyudi Ario Seto, untuk mendalami temuan anomali harga ini. Amran mengingatkan, kerja sama antara Kementerian Pertanian dan Polri sebelumnya sudah berhasil membongkar praktik curang dalam permainan harga beras. Menurutnya, bukan tidak mungkin praktik serupa juga terjadi pada harga telur.
"Kami sudah kirim surat ke Pak Kapolri agar semua yang bermain-main ditindak. Seperti kemarin, beras premium fortifikasi dijual Rp 56.000, tetapi kami periksa di lab IPB ternyata harusnya harga Rp 13.000, tapi dijual Rp 56.000 per kilo," ungkap Amran.
"Ini tidak benar, Bapak Presiden. Insyaallah dalam waktu dekat kami selesaikan yang telur," tegasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa rantai distribusi telur mungkin tidak berjalan dengan semestinya. Harga yang tinggi di konsumen saat pasokan melimpah mengindikasikan adanya potensi permainan harga oleh oknum tertentu, mirip dengan kasus beras yang sebelumnya sudah diungkap. Pemerintah kini tengah menyelidiki dugaan tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Kapal Solar Rusia Berlayar ke AS
Singapura: Pemangkasan Gas RI Tak Capai 2%
Pertamina Perkuat Pasokan BBM Nasional
Pertamina Siapkan Tiga Langkah Jaga Pasokan BBM
PM Singapura: Pemangkasan Gas RI Tak Capai 2%
Singapura Tenangkan Warga, Pasokan Gas Aman
ESDM Buka Lowongan 108 Posisi Verifikator dan Analis
Anjloknya Bobot Indonesia di Indeks MSCI
