Investasi Data Center Batam: Efek Berganda, Bukan Sekadar Lapangan Kerja

Cahyo S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Investasi Data Center Batam: Efek Berganda, Bukan Sekadar Lapangan Kerja

Gambar atau konten salah?

Wali Kota Batam yang juga menjabat sebagai Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebut investasi pusat data yang terus berdatangan ke wilayahnya membawa dampak lebih luas dari sekadar teknologi. Meskipun investasi ini tidak menyerap banyak tenaga kerja secara langsung, efek ekonominya menyebar ke berbagai sektor lain.

Pernyataan itu disampaikan Amsakar saat menanggapi pertanyaan tentang besarnya nilai investasi pusat data di Batam. Banyak pihak membandingkannya dengan industri manufaktur padat karya yang lebih banyak merekrut pekerja. Menurut Amsakar, investasi di bidang teknologi informasi, komputasi awan, dan pusat data tidak bisa dinilai hanya dari jumlah karyawan yang dipekerjakan langsung. Industri ini justru memunculkan permintaan tenaga kerja dengan keahlian khusus.

"Investasi yang masuk adalah teknologi informasi, IT, cloud, atau apapun namanya. Itu memberikan efek berganda. Akan ada pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia untuk mengelolanya," kata Amsakar pada Rabu, 08 Juli 2026.

Ia menilai Batam perlu bertransformasi dari industri padat karya menuju industri berbasis teknologi. Pemerintah, kata dia, lebih fokus menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri baru. "Yang harus dilakukan adalah mempersiapkan SDM yang bisa memenuhi kebutuhan pasar kerja yang ada," ujarnya.

Selain lapangan kerja langsung, investasi pusat data juga menghidupkan sektor informal. Amsakar mencontohkan geliat usaha kuliner yang berkembang di kawasan Thamrin hingga Bengkong. Pertumbuhan ekonomi dari investasi ini, menurutnya, ikut menggerakkan sektor transportasi, perdagangan jasa, konstruksi, dan pariwisata.

"Pertumbuhan ekonomi itu tidak hanya bicara tenaga kerja formal, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap sektor informal. Kuliner tumbuh, transportasi hidup, konstruksi berkembang, perdagangan jasa dan pariwisata juga ikut bergerak," ujarnya.

Amsakar mengatakan tren investasi di Batam dalam dua tahun terakhir bergeser dari manufaktur ke teknologi. Meski begitu, kondisi ketenagakerjaan tetap membaik. Ia mengklaim angka pengangguran di Batam terus menurun. Berdasarkan pembahasan bersama Komisi II DPR RI, tingginya angka pengangguran lebih banyak dipengaruhi arus migrasi pendatang yang mencari kerja di Batam.

"Relatif tidak ada problem soal ketenagakerjaan. Angka pengangguran turun. Setelah kita buka datanya, penyebabnya lebih banyak karena arus migrasi yang masuk ke Batam," katanya.

Amsakar juga menjawab kekhawatiran soal kebutuhan air bersih untuk operasional pusat data. Menurutnya, persoalan itu sudah dibahas terbuka dengan investor sejak awal. Setiap investor diberi gambaran tentang tantangan Batam, terutama keandalan pasokan listrik dan air bersih. Sebagai solusi, investor bersedia membangun infrastruktur pendukung, termasuk jaringan pipa dan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

"Kami sampaikan persoalan yang ada, termasuk air bersih dan listrik. Mereka siap membangun pipanisasi dan SWRO. Jadi langkah antisipasinya sudah dibahas bersama," ujarnya.

Secara keseluruhan, investasi pusat data di Batam memang tidak menyerap banyak tenaga kerja langsung seperti pabrik. Namun dampaknya terasa di sektor lain seperti kuliner, transportasi, dan konstruksi. Pemerintah juga sudah mengantisipasi kebutuhan air dan listrik dengan melibatkan investor membangun infrastruktur sendiri.

investasi pusat datadampak ekonomitenaga kerjatransformasi industrisumber daya manusiasektor informalinfrastruktur

Komentar

Memuat komentar...