Jakarta Pagi Hari AQI 146, Udara Tidak Sehat, Warga Diminta Masker

Cahyo S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Jakarta Pagi Hari AQI 146, Udara Tidak Sehat, Warga Diminta Masker

Gambar atau konten salah?

Pagi ini, warga Jakarta masih belum bisa bernapas lega. Udara di kota ini masih terpantau dalam kategori tidak sehat, khususnya bagi yang suka beraktivitas di luar tanpa masker.

Menurut data IQAir yang dipantau pada 18 Juni 2026 pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta berada di angka 146. Konsentrasi particulate matter 2.5 (PM 2.5) di udara Jakarta tercatat mencapai 53,6 µg/m³.

Selanjutnya, Jakarta Kini (JAKI) memperbarui data pada pukul 07.30 WIB. Beberapa wilayah menunjukkan kualitas udara tidak sehat, antara lain:

  • Marunda, Cilincing (Jakarta Utara): 129
  • Pasar Minggu (Jakarta Selatan): 119
  • Stadion JIS, Tanjung Priok (Jakarta Utara): 116
  • Taman Sungai Kendal, Cilincing (Jakarta Utara): 115
  • Pondok Rangon, Cipayung (Jakarta Timur): 109

PM 2.5 memiliki diameter kurang dari 2,5 mikron. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini menyerupai kabut atau asap tebal. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa partikel kecil ini dapat melewati sistem saringan alami paru‑paru manusia. Daripada terhenti, polutan mikro ini masuk ke aliran darah, merusak organ vital mulai dari jantung hingga otak.

Paparan polusi udara tidak hanya menimbulkan batuk atau radang tenggorokan. Data WHO menunjukkan polusi udara menjadi faktor risiko kematian akibat penyakit berat. Daftar penyakit yang paling kuat kaitannya dengan polusi di antaranya:

  • Stroke dan penyakit jantung iskemik
  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan kanker paru‑paru
  • Pneumonia (infeksi paru)
  • Katarak (khususnya akibat paparan polusi di dalam rumah)
  • Diabetes, gangguan kognitif, penyakit neurologis
  • Masalah kehamilan seperti risiko bayi lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah (BBLR)

Biang kerok utama yang sering memicu deretan penyakit tersebut adalah partikulat (PM), karbon monoksida (CO), ozon, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. Efek polusi dapat muncul secara instan atau menumpuk dalam jangka panjang.

Efek jangka pendek: Menghirup polusi tinggi dalam hitungan jam atau hari dapat langsung menurunkan fungsi paru, memicu infeksi akut saluran napas, dan membuat serangan asma kambuh mendadak.

Efek jangka panjang: Paparan kronis selama bertahun‑tahun menumpuk kerusakan jaringan. Kerusakan ini memicu penyakit tidak menular kronis di kemudian hari, seperti serangan stroke dan kanker.

Polusi udara berbahaya terutama bagi kelompok dengan sistem imun rentan: anak‑anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan kondisi genetik atau riwayat komorbid tertentu. Mereka lebih mudah mengalami dampak buruk dari polusi.

Dengan angka AQI 146 pada pagi hari, Jakarta masih berada di wilayah tidak sehat. PM 2.5 yang mencapai 53,6 µg/m³ menunjukkan bahwa partikel kecil ini masih banyak mengendap di udara. Warga disarankan memakai masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan bila memungkinkan. Pemerintah dan lembaga pengawas udara terus memantau kondisi ini, berharap dapat menurunkan tingkat polusi dan melindungi kesehatan masyarakat.

Kualitas Udara JakartaAQIPM 2.5Polusi UdaraWHOMaskerPenyakit Terkait Polusi

Komentar

Memuat komentar...