Kakek 83 Tahun Kena Sifilis Setelah 50 Tahun Menikah

Ika P. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kakek 83 Tahun Kena Sifilis Setelah 50 Tahun Menikah

Gambar atau konten salah?

Seorang pria berusia 83 tahun di Belgia mengalami kondisi medis yang tidak biasa. Ia datang ke rumah sakit karena kulitnya terasa sangat gatal. Ternyata, keluhan itu mengarah pada penyakit menular seksual yang langka, yaitu sifilis.

Awalnya, pasien mencari pertolongan medis karena otot di satu sisi wajahnya tiba-tiba melemah dan terkulai. Kondisi ini disebut kelumpuhan saraf wajah perifer unilateral. Ia juga mengalami demam. Keluhan tersebut sempat mereda.

Saat pemeriksaan awal di bagian neurologi, dokter menemukan pasien mengalami anemia, penyakit hati berlemak, dan pembesaran limpa. Tim dokter sempat menduga pasien terkena infeksi virus. Namun, hasil tes menunjukkan negatif untuk virus Epstein-Barr, sitomegalovirus, HIV, serta hepatitis A, B, C, dan E.

Kelumpuhan di wajahnya membaik setelah diberikan kortikosteroid kuat selama 10 hari. Tapi, sekitar sebulan kemudian, masalah baru muncul. Lutut dan pergelangan kakinya menjadi kaku dan nyeri. Tubuhnya membengkak, berat badannya naik 5 kg, dan urinenya menjadi lebih gelap.

Dari tanda-tanda itu, dokter mencurigai adanya gangguan fungsi ginjal. Riwayat medis pasien mencatat hipertensi lama, kolesterol tinggi, pembesaran prostat, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan riwayat kanker rektum 20 tahun lalu. Pasien juga mengaku telah menikah dengan istrinya selama 50 tahun dan tidak aktif secara seksual sejak pengobatan kanker tersebut.

Kakek 83 tahun itu kembali masuk unit gawat darurat karena rasa gatal yang parah dan muncul ruam merah bersisik di betisnya. Saat ditanya lebih dalam tentang masa mudanya, pasien baru mengaku pernah berhubungan seks dengan beberapa orang yang berbeda. Ia bahkan sempat diobati karena berbagai infeksi menular seksual (IMS).

Dari pemeriksaan mendalam, dokter menemukan urine pasien mengandung darah dan jumlah protein yang abnormal. Kadar antibodi antinuklear (ANA) sangat tinggi. Analisis cairan serebrospinal atau cairan otak dan sumsum tulang belakang menunjukkan peningkatan sel darah putih. Ini menandakan adanya infeksi aktif.

Hasil tes HIV dan tuberkulosis negatif. Tapi, pasien dinyatakan positif terinfeksi Treponema Pallidum, bakteri penyebab penyakit sifilis. Dokter akhirnya mendiagnosis sang kakek mengidap sifilis sekunder dengan neurosifilis dini. Artinya, bakteri telah menyerang sistem saraf.

Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala: ruam, kelelahan, gangguan fungsi hati, proteinuria tinggi, pembengkakan tubuh, kelumpuhan wajah, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Setelah dipastikan mengalami neurosifilis, pasien langsung diberikan pengobatan antibiotik penisilin intravena (infus) selama 14 hari. Sebelumnya, ia sempat menerima satu kali suntikan penisilin. Gejala gatalnya diatasi dengan antihistamin. Pembengkakannya dikurangi dengan obat diuretik.

Satu bulan pasca-pengobatan, kondisi pasien membaik secara signifikan. Ruam, gatal, dan pembengkakannya mereda. Fungsi hati dan produksi urinenya kembali normal. Kasus ini telah dilaporkan ke otoritas kesehatan masyarakat. Sang istri telah dirujuk untuk menjalani pemeriksaan.

Kasus ini menunjukkan bahwa sifilis bisa muncul dengan gejala yang tidak biasa, bahkan pada orang lanjut usia yang sudah lama tidak aktif secara seksual. Riwayat infeksi menular seksual di masa muda bisa menjadi faktor penting. Diagnosis yang tepat dan pengobatan yang cepat sangat menentukan kesembuhan pasien.

sifilisneurosifilisinfeksi menular seksualgejala tidak biasaTreponema Pallidumantibiotik penisilinkelumpuhan wajah

Komentar

Memuat komentar...