Kenzo Yuswan Juara Mawapres Unair 2026, Pendidikan Inklusif

Hendra M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Kenzo Yuswan Juara Mawapres Unair 2026, Pendidikan Inklusif

Gambar atau konten salah?

Kenzo Yuswan adalah mahasiswa program studi S1 Ilmu Hukum Universitas Airlangga angkatan 2022. Pada 6 April 2026, ia meraih Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Unair 2026, dalam jalur disabilitas. Kenzo, penyandang disabilitas netra, menorehkan prestasi ini di ajang Pilmapres tingkat universitas.

Selama menempuh pendidikan, Kenzo menunjukkan ketertarikan mendalam pada Hak Asasi Manusia (HAM). Ia pernah menjadi pembicara dalam konferensi internasional HAM pada tahun 2025, memaparkan tanggung jawab negara dalam menyediakan akses pendidikan dasar bagi penyandang disabilitas sensorik.

Penghargaan Mawapres diberikan oleh Direktorat Kemahasiswaan Unair sebagai pengakuan atas semangat intelektualitas dan advokasi kemanusiaan. Rilis resmi kampus pada 6 April 2026 menegaskan bahwa Kenzo menonjol dalam kompetisi ini.

Dalam Pilmapres, Kenzo memukau dewan juri dengan gagasan kreatifnya. Fokusnya adalah pada akses pendidikan dasar bagi penyandang disabilitas sensorik, khususnya tunanetra. Ia mengangkat isu penting mengenai kebutuhan pendidikan inklusif yang belum terpenuhi secara merata.

Gagasan Kenzo mencakup revisi Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas dan Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023. Ia menekankan perlunya sosialisasi yang menyentuh sistem pembelajaran dan program pemerintah yang mendukung pendidikan inklusif.

“Saya mengusulkan perlunya mekanisme evaluasi yang lebih jelas terhadap pendidikan inklusif. Pemerintah daerah seharusnya memberikan reward bagi sekolah yang berhasil menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan baik,” jelas Kenzo, dikutip dari keterangan resmi kampus, Senin 6 April 2026.

“Sebaliknya, memberikan sanksi administratif bagi sekolah yang sudah difasilitasi namun tidak memberikan pengakuan setara bagi siswa disabilitas,” tambahnya, menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam pelaksanaan kebijakan.

Selain prestasi akademik, Kenzo juga memiliki rekam jejak internasional. Ia pernah mengikuti program magang penelitian di Mahkamah Konstitusi (MK) pada tahun 2025. Di sana, ia meneliti bagaimana penyandang disabilitas dapat mengakses proses peradilan dengan lebih mudah.

“Pengalaman di MK sangat berkesan karena saya bisa bertemu langsung dengan para hakim dan pakar hukum, serta mengamati jalannya persidangan secara langsung,” ungkap Kenzo, menyoroti nilai praktis dari magang tersebut.

Proses Pilmapres tidaklah mudah. Kenzo melewati seleksi ketat, mulai dari pengumpulan berkas capaian unggulan, pembuatan video perkenalan dalam bahasa Inggris, hingga presentasi gagasan kreatif di hadapan juri. Sesi tanya jawab menggunakan bahasa Inggris menjadi ajang bagi Kenzo untuk mengasah kemampuan argumentasi, berpikir kritis, dan komunikasi.

“Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk mengasah kemampuan argumentasi, berpikir kritis, dan komunikasi. Meski perlu waktu sedikit untuk berpikir saat menghubungkan gagasan dengan asta cita, Puji Tuhan semuanya bisa saya sampaikan dengan baik,” ungkap Kenzo.

Kenzo melihat gelar Juara 1 Mawapres Unair sebagai amanah. Ia berharap prestasi ini menjadi jembatan bagi kontribusi nyata di masyarakat. Fokus utamanya tetap konsisten: memperjuangkan hak-hak penyandang tunanetra agar terakomodasi secara implementatif.

“Aturan hukumnya sudah ada, namun tinggal bagaimana implementasinya di lapangan. Saya ingin memastikan bahwa kontribusi saya nanti dapat membantu rekan-rekan difabel mendapatkan hak-hak mereka secara adil, terutama di sektor pendidikan,” pungkasnya.

Kenzo Yuswan, mahasiswa netra, telah menunjukkan bahwa dedikasi pada hak asasi manusia dan pendidikan inklusif dapat menghasilkan perubahan nyata. Prestasinya di Pilmapres menegaskan bahwa mahasiswa aktif di Universitas Airlangga tidak hanya berfokus pada studi, tetapi juga berperan aktif dalam memperjuangkan hak-hak difabel di Indonesia.

Kenzo YuswanMahasiswa BerprestasiPenyandang Disabilitas NetraPendidikan InklusifHak Asasi ManusiaPilmapresUniversitas Airlangga

Komentar

Memuat komentar...