Kombinasi Tiga Kebiasaan Kunci Kendalikan Hipertensi
Gambar atau konten salah?
Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, masih menjadi masalah kesehatan yang serius. Banyak yang menyebutnya sebagai 'silent killer' karena sering tidak menunjukkan gejala yang jelas. Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi berbahaya seperti stroke, penyakit jantung, dan kerusakan ginjal. Aktivitas fisik seperti jalan kaki memang terbukti bisa membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks. Tapi para ahli menekankan bahwa mengendalikan tekanan darah tidak cukup hanya dengan satu kebiasaan. Diperlukan kombinasi beberapa kebiasaan sehari-hari yang saling mendukung.
Ada tiga hal utama yang disarankan. Pertama, soal asupan garam. Kedua, menjaga tubuh tetap terhidrasi. Dan ketiga, memperbaiki kualitas tidur. Ketiganya harus dilakukan bersama-sama untuk hasil yang maksimal.
Mengurangi natrium adalah langkah paling dasar. Natrium membuat tubuh menahan cairan, sehingga beban pembuluh darah menjadi lebih berat. Bagi penderita hipertensi, asupan natrium harian tidak boleh melebihi 1.500 mg. Selain itu, pola makan Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) sangat dianjurkan. Pola ini fokus pada sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan. Gula serta daging merah dibatasi.
"Tinjauan skala besar menunjukkan bahwa diet DASH adalah intervensi nonobat paling efektif yang tersedia. Ketika Anda menggabungkan diet DASH untuk mengurangi natrium dan gerakan seperti berjalan kaki serta olahraga terstruktur, penurunan tekanan darah bisa sangat efektif," kata Ahli gizi Gina Rancourt, MS, RD, CD. Pernyataan itu menegaskan bahwa kombinasi antara pola makan dan aktivitas fisik memberikan hasil yang lebih baik daripada hanya mengandalkan satu cara saja.
Selain makanan, air putih juga punya peran penting. Cairan yang cukup membantu pembuluh darah tetap fleksibel dan bisa melebar dengan baik. Penelitian menunjukkan bahwa minum sekitar 6 sampai 8 gelas air setiap hari bisa menurunkan risiko hipertensi. Secara umum, kebutuhan cairan harian sekitar 11,5 gelas untuk perempuan dan 15,5 gelas untuk laki-laki. Jumlah itu bisa didapat dari air minum, buah, dan sayuran. Tapi ada pengecualian: metode hidrasi ini tidak disarankan bagi penderita gagal jantung yang sudah mendapat instruksi medis untuk membatasi asupan cairan.
Masalah tidur juga tidak kalah penting. Istirahat yang berkualitas berhubungan langsung dengan penurunan kadar hormon stres dan relaksasi pembuluh darah. Orang dengan pola tidur tidak teratur atau durasi yang tidak ideal memiliki risiko 20 sampai 30 persen lebih tinggi terkena tekanan darah tinggi. Para ahli jantung menyarankan tidur setidaknya tujuh jam setiap malam.
Ahli jantung B. Keith Ellis, MD, mengingatkan bahwa kualitas tidur juga perlu diperhatikan. "Tidur setidaknya tujuh jam setiap malam memang baik. Namun, jika mengalami sleep apnea, kondisi tersebut dapat menghambat upaya untuk mendapatkan tidur yang berkualitas," kata Keith. Sleep apnea adalah gangguan tidur yang membuat pernapasan terhenti sementara beberapa kali saat tidur. Kondisi ini bisa mengganggu kualitas tidur meskipun durasinya cukup.
Untuk mendapatkan tidur yang lebih baik, konsistensi sangat membantu. Bangun dan tidur pada jam yang sama setiap hari, serta berolahraga di siang hari, bisa mempersiapkan tubuh untuk istirahat yang lebih optimal di malam hari. Kebiasaan ini membantu mengatur ritme sirkadian alami tubuh.
Semua kebiasaan ini—mengurangi garam, minum cukup air, dan tidur yang cukup—tidak berdiri sendiri. Para ahli menekankan bahwa kombinasi ketiganya adalah kunci utama untuk mengendalikan tekanan darah tanpa harus bergantung pada obat-obatan. Namun, bagi penderita yang sudah memiliki kondisi medis tertentu, seperti gagal jantung, tetap harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah kebiasaan hidrasi.
Dengan menerapkan pola hidup sehat ini secara konsisten, risiko hipertensi bisa ditekan. Meski hipertensi sering tidak bergejala, pencegahan tetap lebih baik daripada penanganan setelah komplikasi muncul. Ketiga langkah tersebut, jika digabungkan dengan aktivitas fisik teratur, bisa menjadi benteng pertahanan yang kuat melawan tekanan darah tinggi di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
