Laba BUMN Melonjak, Timah Tembus 804%
Gambar atau konten salah?
Kinerja sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada paruh pertama tahun ini menjadi salah satu pencapaian yang cukup menonjol dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program konsolidasi dan transformasi yang dijalankan oleh Danantara sejak awal pembentukannya perlahan mulai memperlihatkan hasil nyata. Hal ini terlihat dari lonjakan laba bersih di hampir seluruh sektor strategis BUMN.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, menyebutkan bahwa kinerja positif terutama terlihat pada BUMN papan atas yang menunjukkan stabilitas. "Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," ujar Toto dalam keterangan tertulis, di Jakarta, pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut Toto, potensi kinerja BUMN di bawah Danantara masih bisa meningkat lebih tajam lagi. Ini sejalan dengan langkah streamlining yang mendorong efisiensi jumlah perusahaan negara, sehingga diharapkan akan semakin efektif dan efisien. Toto menilai perbaikan kinerja BUMN perlu terus didorong melalui proses penataan dan konsolidasi perusahaan negara. "Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," lanjut Toto.
Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2026 yang dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, PT Timah mencatatkan pertumbuhan laba paling dramatis di antara BUMN lainnya. Perusahaan tambang pelat merah ini membukukan laba bersih Rp 2,71 triliun, melonjak 804,7 persen dari sebelumnya hanya Rp 300 miliar. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan yang sempat diragukan kinerjanya kini benar-benar bangkit di bawah arahan transformasi Danantara.
Tak kalah signifikan, PT Pupuk Indonesia turut mencatatkan kinerja gemilang dengan laba bersih Rp8,51 triliun, tumbuh 253 persen dibandingkan Rp2,41 triliun pada semester I 2025. Di sektor semen, PT Semen Indonesia mencatat kenaikan laba 196,5 persen, dari Rp65,24 miliar menjadi Rp193,46 miliar. Angka ini memberi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor konstruksi dan infrastruktur nasional. Sementara itu, PT Agrinas Palma Nusantara tumbuh 150 persen dengan laba mencapai Rp890 miliar, mengonfirmasi keberhasilan konsolidasi sektor perkebunan strategis yang kini berada di bawah pengelolaan BUMN.
Pertumbuhan solid juga terlihat di sektor jasa keuangan dan logistik. PT Pegadaian membukukan kenaikan laba 84,6 persen menjadi Rp6,59 triliun, disusul PT Pelindo yang tumbuh 60,4 persen menjadi Rp2,57 triliun. PTPN IV PalmCo mencatatkan kenaikan 54 persen menjadi Rp3,23 triliun, sementara Bank Tabungan Negara (BTN) tumbuh 40,8 persen menjadi Rp2,40 triliun.
Bank Mandiri, sebagai salah satu bank pelat merah terbesar di Tanah Air, turut mencatatkan pertumbuhan laba 24,3 persen menjadi Rp30,41 triliun. Catatan ini menunjukkan bahwa transformasi tidak hanya dirasakan BUMN berskala kecil-menengah, tetapi juga institusi keuangan raksasa yang sudah mapan sekalipun. Adapun PT Pertamina Geothermal Energy mencatatkan pertumbuhan laba 15,5 persen menjadi 79,61 juta dolar AS, memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi bersih.
Yang tak kalah penting, sejumlah BUMN yang sebelumnya merugi berhasil membalikkan keadaan pada semester ini. PT Krakatau Steel, yang lama menjadi simbol beban di sektor BUMN karya dan industri berat, berhasil keluar dari kerugian sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar. Hal serupa terjadi pada PT Kimia Farma, yang berbalik dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar. Kedua turnaround ini dinilai penting secara simbolis, mengingat keduanya kerap dianggap sebagai representasi persoalan struktural yang membelit BUMN selama bertahun-tahun.
Rangkaian capaian tersebut memberikan modal ekonomi yang kuat menjelang tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo. Pemerintah dinilai memiliki bukti konkret bahwa reformasi struktural terhadap BUMN, mulai dari konsolidasi ratusan entitas di bawah satu payung Danantara hingga penegakan disiplin operasional dan tata kelola, bukan sekadar wacana, melainkan kebijakan yang telah menunjukkan hasil terukur.
Berikut perbandingan laba BUMN Semester 1 2025 vs 2026:
- PT Timah: Rp300 miliar menjadi Rp2,71 triliun, naik 804,7%
- PT Pupuk Indonesia: Rp2,41 triliun menjadi Rp8,51 triliun, naik 253%
- PT Semen Indonesia: Rp65,24 miliar menjadi Rp193,46 miliar, naik 196,5%
- PT Agrinas Palma Nusantara: Rp356 miliar menjadi Rp890 miliar, naik 150%
- PT Pegadaian: Rp3,57 triliun menjadi Rp6,59 triliun, naik 84,6%
- PT Pelindo: Rp1,60 triliun menjadi Rp2,57 triliun, naik 60,4%
- PTPN IV PalmCo: Rp2,10 triliun menjadi Rp3,23 triliun, naik 54%
- BTN: Rp1,70 triliun menjadi Rp2,40 triliun, naik 40,8%
- Bank Mandiri: Rp24,46 triliun menjadi Rp30,41 triliun, naik 24,3%
- PT Pertamina Geothermal: US$68,93 juta menjadi US$79,61 juta, naik 15,5%
- PT Krakatau Steel berbalik dari rugi sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150-185 miliar
- PT Kimia Farma berbalik dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar
Kinerja BUMN di semester pertama 2026 menunjukkan pola yang menarik. Lonjakan laba tertinggi justru terjadi di perusahaan yang sebelumnya bermasalah, seperti PT Timah dan PT Krakatau Steel. Sementara itu, BUMN mapan seperti Bank Mandiri tetap tumbuh meski dengan persentase yang lebih moderat. Ini mengindikasikan bahwa program konsolidasi Danantara mungkin lebih efektif dalam membenahi perusahaan yang terpuruk dibandingkan mendongkrak pertumbuhan perusahaan yang sudah efisien. Namun, perlu dicatat bahwa data ini baru mencakup satu semester, dan keberlanjutan tren ini masih perlu diuji pada periode-periode berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Garuda Bagi Tiket Domestik Gratis untuk Turis Asing
Menteri Amran Jaga Harga Pakan, Wajibkan SPPG Serap Telur Peternak
Pemerintah Usulkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI
OJK Tangani 124 Kasus Pasar Modal, Denda Rp240 M
MSCI Bekukan Saham RI, OJK Minta Keputusan Adil
Survei BPS: Literasi Keuangan Nasional 69,57%