Laswee Creative Space: Kuliner, Fashion, dan Hijau di Bandung
Gambar atau konten salah?
Laswee Creative Space terletak di Bandung, di antara bangunan bersejarah dan hiruk-pikuk kendaraan. Tempat ini bukan sekadar ruang bersantai, melainkan pusat gaya hidup baru yang menggabungkan kuliner, fashion, dan ruang terbuka hijau.
Di dalamnya, tidak hanya meja makan, tetapi juga industri kreatif seperti fashion dan budaya ngopi yang kental. Konsep collective space ini membuat pengunjung tidak merasa bosan karena aktivitas beragam.
Filah, 23 tahun, pertama kali tertarik lewat unggahan media sosial. Ia mengunjungi dan kini sudah sering datang kembali. Bagi Filah, Laswee bukan sekadar tempat singgah, melainkan destinasi lengkap yang menawarkan variasi pengalaman dalam satu area.
“Saya biasa nongkrong sih, di Laswee juga kan ada tenant-tenant bukan cuman makanan, ada minuman juga,” ujar Filah pada 26 Maret 2024.
Filah melihat penggabungan kuliner dan fashion sebagai langkah cerdas. Ia percaya pengunjung tidak akan merasa bosan karena ada banyak hal yang bisa dinikmati sekaligus.
“Jadi kita tuh kesini bukan cuma buat kulineran doang. Mungkin dari fashion juga ada ya di sini. Dan kebanyakan orang-orang yang ke sini juga mungkin rata-rata dari family gitu ya. Dari keluarga, terus mungkin dari anak-anak dan remaja seperti itu,” tambahnya.
Filah bisa menghabiskan berjam-jam di sini. Rasa betah muncul karena pilihan makanan dan minuman memuaskan lidah, sementara ruang yang luas memberi rasa bebas.
“Di sini kita bisa apa aja gitu ya. Karena kebetulan kan kolektif space juga gitu ya. Jadi ruangnya banyak juga sih kak,” ungkap Filah.
Daya tarik utama Laswee adalah suasananya. Pepohonan rindang menciptakan teduh yang jarang ditemukan di pusat kota. Filah merasa atmosfer ini mendukung untuk melepas penat, atau istilah populernya, healing tipis-tipis.
Namun, sebagai ruang terbuka, Laswee menghadapi tantangan klasik, terutama saat cuaca Bandung tidak menentu.
“Suasana mungkin ambience-nya enak ya, teduh. Terus kalau misalnya nggak panas juga, adem sih di sini tuh. Cuman kalau misalnya hujan doang kak di sini tuh misbar ya, gerimis bubar kayak gitu,” canda Filah.
Meski nyaman, Filah tetap memberikan masukan konstruktif. Ia berharap pengelola bisa meningkatkan fasilitas pendukung seperti toilet dan tempat ibadah agar pengunjung bisa menetap lebih lama.
“Menurut saya pribadi mungkin ya, WC bisa ditambahin. Terus musala juga bisa di agak gedein gitu ya. Terus kalau misalnya bisa sih kak, di sini tuh karena ruang space terbuka ya, jadi sebagian mungkin ya harus ada yang ditutupi ya. Jadi setelah hujan kita bisa stay gitu di tempat kayak gitu,” tuturnya penuh harap.
Berbeda dengan Filah, Intan, 31 tahun, mengenal Laswee karena lokasi. Sebagai pekerja kantoran yang tidak jauh, Laswee menjadi pelarian strategis. Ia mengunjungi dua hingga tiga kali seminggu.
“Beli bakso, kopi, kayak ice gelato ini,” kata Intan pada 26 Maret 2024.
Intan setuju bahwa konsep multi-aspek di Laswee adalah nilai tambah besar. Kehadiran tenant fashion di tengah area kuliner memberikan pengalaman visual yang berbeda.
“Bagus sih, jadi orang gak fokus terus ke makanan, bisa foto juga, bisa lihat-lihat baju juga gitu,” jelas Intan.
Satu hal yang paling membedakan Laswee dengan kafe lain adalah konsep outdoor-nya yang kuat. Intan merasa kebebasan di ruang terbuka memberikan kesegaran tersendiri.
“Ini kan lebih terbuka ya, outdoor. Cuman, kalau saran aku ya, boleh saran gak sih? Adain sofa gak sih gitu?” ucapnya sambil tertawa kecil.
Pengalaman Intan selama berkunjung sangat positif. Ia menikmati udara bebas di antara meja-meja pengunjung, meskipun cuaca masih menjadi faktor penentu kenyamanan.
“Sejauh ini, ini sih enak sih, menikmati banget gitu kayak suasananya kan di ruangan terbuka. Cuman ya kalau misalnya panas ya dia panas banget gitu, gerah,” akuinya.
Intan menutup perbincangan dengan harapan fasilitas dasar. Ia menyoroti kebersihan toilet dan kebutuhan area khusus bebas asap rokok (indoor) bagi yang tidak merokok atau ingin menghindari cuaca panas.
“Kalau dari aku perbaiki ini sih toilet, sama kalau ada ruangan yang indoor-nya lah buat yang no-smoking gitu,” pungkasnya.
Laswee Creative Space telah berhasil menjadi magnet bagi warga Bandung. Dengan ambience teduh dan konsep kolektif yang dinamis, tempat ini membuktikan bahwa ruang publik yang dikelola kreatif dapat menjadi bagian penting dari kesehatan mental dan gaya hidup masyarakat.
Meski perbaikan fasilitas masih dinanti, Laswee tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari sudut adem di tengah riuhnya kota.
Laswee menawarkan kombinasi unik antara makanan, minuman, fashion, dan ruang hijau. Pengunjung dapat menikmati suasana yang menenangkan, berfoto, atau sekadar bersantai. Namun, tantangan cuaca dan fasilitas dasar seperti toilet dan area tertutup masih menjadi perhatian. Dengan penyesuaian, Laswee dapat terus menjadi tempat favorit bagi berbagai kalangan di Bandung.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kendala Situs SPMB 2026 Orang Tua Kesulitan Akses Hasil
Banjir di Jakarta, Ribuan Penduduk Pindah ke Kawasan Tinggi
PKB Jabar Fest 14 Juni: DPAC Jawa Barat Di Arcamanik Youth
Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia Setelah IPO SpaceX
Satria Muda Kalah 79-82 vs Bogor Hornbills Semifinal IBL
Layang-Layang Menghambat Kereta Cepat Whoosh, KCIC Amankan 452
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I