Lebaran 2026 di Istanbul: Mahasiswa Indonesia Rayakan Tenang
Gambar atau konten salah?
Lebaran 2026 akan dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia, termasuk mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di luar negeri. Salah satu tempat yang menarik perhatian adalah Turki, khususnya kota Istanbul.
Turki merayakan Idul Fitri 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026. Pada hari itu, cuaca di negara tersebut masih berada di penghujung musim dingin. Hujan dan angin kerap menyertai, membuat udara terasa dingin.
“Suasana udara yang masih terasa dingin serta cuaca yang kerap disertai hujan dan angin membingkai hari kemenangan dalam nuansa yang tenang dan khusyuk,” kata Haritsah Mujahid, mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Istanbul University. Artikel ini ditulis pada Selasa, 24 Maret 2026.
Perbandingan antara Lebaran di Indonesia dan di Turki menjadi tema utama. Di Indonesia, suasana Lebaran identik dengan gema takbir di setiap pelosok. Sedangkan di Istanbul, suasana lebih tenang dan terasa seperti hari libur biasa.
Di Indonesia, Lebaran juga identik dengan tradisi silaturahmi: orang-orang berjalan dari rumah ke rumah, mengunjungi keluarga dan teman. Di Istanbul, kebanyakan orang memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga, namun tidak ada gelombang kunjungan dari rumah ke rumah.
“Suasana Lebaran di Istanbul cenderung lebih tenang dan berlangsung seperti hari libur biasa. Meskipun sebagian warga memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga,” ungkap Mujahid.
Berbeda dengan Indonesia, toko-toko di Istanbul tetap buka. Aktivitas kota tidak sepenuhnya berhenti. Banyak toko, kafe, dan pusat perbelanjaan tetap beroperasi, sementara perkantoran pemerintahan serta sebagian institusi formal diliburkan.
“Aktivitas kota tidak sepenuhnya berhenti. Banyak toko, kafe, dan pusat perbelanjaan tetap beroperasi, sementara perkantoran pemerintahan serta sebagian institusi formal diliburkan,” tambah Mujahid.
Meski suasana lebih tenang, diaspora Indonesia tetap berkumpul dan menjaga kehangatan momen Lebaran. Sejak pagi, mahasiswa dan WNI lainnya melaksanakan salat Idul Fitri di masjid terdekat dari tempat tinggal masing-masing.
Beberapa di antaranya memilih menuju Hagia Sophia, yang menjadi salah satu tujuan utama pelaksanaan salat Ied. Masjid ini menarik jamaah dari berbagai kalangan, dan tidak sedikit yang datang lebih awal untuk mendapatkan tempat di dalam masjid.
“Usai sholat, kawasan pelataran Hagia Sophia menjadi titik temu yang hidup. Para diaspora saling menyapa dan mengabadikan momen kebersamaan,” terang Mujahid.
Rasa rindu kepada keluarga tentu ada. Namun di sini, mereka belajar untuk saling menguatkan. Lebaran bukan tentang keramaian, melainkan tentang kebersamaan yang tetap terjaga.
“Rasa rindu kepada keluarga tentu ada. Namun di sini, kami belajar untuk saling menguatkan. Lebaran bukan tentang keramaian, melainkan tentang kebersamaan yang tetap terjaga,” ujarnya.
Ketua PPI Istanbul, Abdullah Azzam Rahman, menekankan pentingnya perhimpunan mahasiswa Indonesia di luar negeri, termasuk Turki. Ia menyatakan bahwa PPI berupaya memastikan mahasiswa Indonesia tetap memiliki ruang untuk merasakan kebersamaan, khususnya di momen Lebaran.
“Kami berupaya memastikan mahasiswa Indonesia tetap memiliki ruang untuk merasakan kebersamaan, khususnya di momen Lebaran. Ini menjadi bagian penting dari kehidupan diaspora di luar negeri,” ujarnya.
Di antara pertemuan singkat dan percakapan hangat, Lebaran di perantauan memiliki caranya sendiri. Bukan tentang di mana ia dirayakan, melainkan tentang bagaimana kebersamaan itu tetap dihidupkan.
“Di antara pertemuan singkat dan percakapan hangat, Lebaran di perantauan memiliki caranya sendiri. Bukan tentang di mana ia dirayakan, melainkan tentang bagaimana kebersamaan itu tetap dihidupkan,” tambahnya.
Bagi warga lokal, Idul Fitri dikenal sebagai Şeker Bayramı, yang lebih dimaknai sebagai perayaan keluarga. Tradisi umum dilakukan salat Idul Fitri pada pagi hari, dilanjutkan dengan kunjungan ke keluarga atau kerabat terdekat.
Mirip seperti di Indonesia, ada juga hidangan manis yang disajikan. Namun, hidangan khas Turki yang disajikan yakni permen dan Turkish delight.
Lebaran di Turki, meski tidak berdenyut dengan keramaian seperti di Indonesia, tetap menjadi momen penting bagi diaspora Indonesia. Mereka menjaga tradisi, merayakan kebersamaan, dan belajar menghargai nuansa berbeda yang ditawarkan oleh negara tempat mereka belajar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Alumni ITB 2018: Waktu Tunggu Kerja dan Wirausaha Singkat
Ekshibisi AI Kembali Jadi Cabang OSN 2026, Siap Menguji Siswa
Puspresnas Ungkap Foto Soal OSN 2026, Ponsel Diizinkan
Furtasan Usulkan PTN Seleksi Mahasiswa Hanya Dua Jalur
Kucing Terapi Pinecone Jadi Asisten Guru Seni Rhode Island
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
Berita Terbaru
Asus ExpertBook Ultra: Laptop Tipis Prosesor Panther Lake
Alumni ITB 2018: Waktu Tunggu Kerja dan Wirausaha Singkat
Doni Akbar Tekankan Data Akurat dan Modernisasi Rel Kereta
Surabaya Pasang Pot Bunga di TPS Liar, Coba Hindari Sampah
Ghibli's Table: Resep Ramen & Minuman Spesial Ponyo
Pencarian Faiz Hidayat 23 Tahun di Gunung Seulawah Berlanjut
Rupiah Rp18.000/dolar, Siapkan Barter Filipina Indonesia
