Lekooh: Warung Coto Makassar Modern di Jakarta Cikajang

Rudi H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Lekooh: Warung Coto Makassar Modern di Jakarta Cikajang

Gambar atau konten salah?

Lekooh adalah sebuah warung makan yang terletak di depan Oma Huis, sebuah ruang retail artisan di Jalan Cikajang Nomor 74, Jakarta Selatan. Tempat ini menampilkan suasana modern yang ditujukan khusus bagi anak muda. Di kawasan Cikajang, kafe, restoran, dan coffee shop biasanya menyajikan menu Western atau kekinian, namun Lekooh menonjolkan dua hidangan berkuah tradisional: coto Makassar dan rawon.

Usaha kuliner ini didirikan pada November 2025 oleh Desi Dwi Jayanti, seorang perempuan berusia 37 tahun yang berasal dari Kediri, Jawa Timur. Meskipun bukan orang Makassar, kecintaannya pada coto Makassar tumbuh setelah ia menikah dengan suami yang lahir di sana. Ia mengakui bahwa rasa coto Makassar telah menjadi bagian dari identitas kulinernya.

“Kalau diperhatikan, warung coto Makassar itu jarang yang punya cabang banyak. Alasannya karena racikan coto itu sangat spesifik, bergantung pada resep kokinya. Nah kokinya itu biasanya orang tua dimana masakannya sulit diduplikasi dan mereka tidak membakukan resep,” kata Desi. Ia menilai bahwa kondisi ini membuat eksistensi warung coto Makassar terancam, terutama bila tidak ada penerus. Maka, ia memutuskan untuk mencatat resep secara detail sebagai upaya melestarikan kelezatan tersebut.

Desi bahkan menandatangani Non-Disclosure Agreement (Perjanjian Kerahasiaan) untuk menjaga resep coto Makassar yang dikembangkannya selama sekitar dua bulan sebelum mendirikan Lekooh. Ia menambahkan bahwa “rampa patang pulo” adalah ungkapan yang merujuk pada 40 jenis rempah tradisional yang biasanya digunakan dalam bumbu otentik kuah coto Makassar. Menurutnya, jumlah rempah sebenarnya lebih tepat “sekitar hampir 30 ya yang dipakai.”

Selain rempah, Desi menggunakan kacang tanah goreng yang dihaluskan menjadi susu kacang sebelum ditambahkan ke dalam kuah. Proses ini membuat kuah coto menjadi kental dan tidak terpisah antara bulir kacang dan kuah utama. Hasilnya, konsistensi coto terasa maksimal.

Menu coto Makassar di Lekooh memiliki paket seharga Rp 59 ribu, sudah termasuk ketupat atau buras. Pelanggan dapat memilih isian daging saja atau campur jeroan. Untuk jeroan, pilihan lengkapnya mencakup paru, jantung, hati, lidah, babat, dan limpa. Semua komponen daging direbus selama sekitar dua jam agar teksturnya pas. Daging sapi sengkel impor Australia dipilih karena kualitas dan harga yang lebih stabil dibandingkan daging lokal.

Ketika daging sudah direbus, ia dipotong kecil-kecil dan disajikan di mangkuk coto. Teksturnya empuk dan kenyal, cocok diseruput bersama kuah coto yang harum berempah. Kuahnya lebih kental dibandingkan versi lain, sehingga terasa “full bodied” seperti kopi. Rasa coto ini seimbang, tidak terlalu gurih, sehingga sering disajikan bersama sambal, kecap, dan perasan jeruk nipis. Sambal coto Makassar diracik khusus menggunakan tauco, menambah jejak sedikit asam segar.

Di sisi lain, rawon di Lekooh juga layak dicoba. Desi memulai penjualan rawon melalui sistem pre-order sejak tahun 2020 saat pandemi Covid-19. Ia sudah sering membuat rawon untuk keluarga, termasuk keluarga suaminya. Menurutnya, rawon ini memiliki sentuhan Makassar melalui penggunaan keluak asli Makassar, yang lebih lembap daripada keluak lokal.

Paket rawon di Lekooh juga dihargai Rp 59 ribu. Isinya sudah mencakup nasi, rawon, kerupuk udag, telur asin, dan sambal. Tampilan rawon di sini cukup pekat berwarna hitam, dengan rasa yang ringan namun gurih. Rawon ini biasanya disajikan bersama kecambah dan telur asin, serta sambal terasi yang pedasnya cukup kuat.

Seiring waktu, Lekooh telah membuka gerai kedua di Fresh Market Bintaro. Namun, Desi tidak terlalu ambisius memperbanyak cabang. Ia lebih fokus pada pelestarian makanan tradisional dan berharap dapat memperkenalkannya ke luar negeri. “Kan kita digempur dengan makanan Korea, makanan Italia, dan makanan apa lagi. Pengin banget punya cabang sampai ke Singapura, sampai ke Amsterdam. Biar kita ada representasi sampai ke luar negeri,” tutupnya.

Dengan konsep yang sederhana namun autentik, Lekooh menampilkan bagaimana tradisi kuliner Makassar dapat dipertahankan di tengah persaingan kuliner modern. Melalui resep yang terdokumentasi, penggunaan bahan impor, dan pendekatan yang menghargai jeroan serta rempah, warung ini menjadi contoh usaha kecil yang berupaya menjaga warisan rasa. Rencana ekspansi ke luar negeri menandakan ambisi Desi untuk membawa cita rasa Makassar ke panggung global, sekaligus memperkuat identitas kuliner Indonesia di mata dunia.

Lekoohcoto Makassarrawonpelestarian warisan rasaekspansi luar negerijeroanrempah

Komentar

Memuat komentar...