Adem Ayem Solo: Warung Legendaris Tetap Menyapa Hujan Malam
Gambar atau konten salah?
Setelah hujan turun di Kota Solo setelah magrib pada hari Sabtu, suasana di Jalan Slamet Riyadi tetap hidup. Lampu‑lampu rumah makan bersinar terang, sementara kendaraan hilir mudik menunggu tempat parkir.
Rencana kami semula adalah menaruh malam di Rumah Makan Adem Ayem legendaris di pusat kota. Namun, ketika kami melihat keramaian pengunjung, kami memilih cabang di kawasan Colomadu, tepat di seberang UGD RS Muhammadiyah. Di situ, parkir lebih leluasa dan suasananya terasa lebih nyaman untuk makan bersama keluarga.
Di dalam restoran, beberapa meja panjang sudah dipenuhi keluarga lintas generasi. Kakek‑nenek, orang tua, hingga cucu‑cucu duduk mengelilingi meja yang sama sambil menikmati makan malam. Meja‑meja itu menjadi tempat berbaur, di mana tawa dan cerita bertukar.
Menjelang pukul 21.00, ketika kami hendak meninggalkan restoran, mobil travel berpelat B meluncur masuk ke halaman. Lima pasangan lansia turun perlahan; dua di antaranya berjalan dengan bantuan tongkat. Mereka tampak sengaja beristirahat untuk bersantap sebelum melanjutkan perjalanan. “Kalau tidak hujan biasanya lebih ramai,” kata Yogi, pelayan yang mengenakan topi ala chef. Menurutnya, sejumlah pejabat juga kerap singgah untuk makan siang maupun makan malam. “Beberapa menteri suka mampir ke sini. Terakhir Menteri UMKM dan rombongan,” ujarnya.
Malammu, istri saya memesan nasi gudeg, sementara kedua putra kami memilih ayam goreng kremes. Saya sendiri memesan Selat Solo. Selat Solo di Adem Ayem terkenal, dan foto‑foto menu sering dipajang di dinding restoran. Menu Selat Solo terdiri dari lima lembar irisan daging sapi, telur rebus, kentang, wortel, tomat, daun sawi, dan irisan kacang panjang, semua terendam kuah bening kecokelatan.
Waktu istri saya menyantap nasi gudeg, ia segera menyampaikan kesannya. “Enak, nggak terlalu manis seperti gudeg Yogyakarta pada umumnya. Yang lebih terasa justru gurih santannya,” katanya. Karakter gudeg di Adem Ayem memang menarik. Tidak terlalu kering, tetapi juga tidak berkuah. Orang Jawa biasa menyebutnya “nyemek”. Gudeg disajikan bersama telur bebek yang disiram kuah opor. Teksturnya kenyal, dengan kuning telur yang padat dan masir.
Putra saya paling menikmati ayam goreng kremes yang mereka pesan. “Dagingnya empuk banget. Kulitnya kayak di KFC, tebal tapi crunchy,” komentar si sulung. Saya sempat mencicipi sepotong kecil ayamnya. Bagian luar terasa renyah, sementara dagingnya tetap lembut dan gurih.
Selat Solo yang saya pesan datang dengan tampilan cukup menggoda. Kuahnya ringan dengan perpaduan rasa gurih dan sedikit manis yang khas. Sayurannya segar dan seluruh pelengkapnya saya santap hingga habis. Hanya tersisa sedikit kuah di dasar piring. Sayangnya, tekstur dagingnya belum sepenuhnya sesuai selera saya. Meski diiris tipis, beberapa bagian masih terasa agak liat, sehingga saya harus berjuang melepaskan serat yang menyelip di sela gigi. “Itu sih problem Ayah yang mulai uzur saja,” seloroh si bungsu, yang langsung memancing tawa di meja makan.
Sejarah Adem Ayem sudah lama menjadi bagian dari sejarah kuliner Solo. Warung ini dirintis oleh Emmy Lies Rosmijati pada 1969. Dengan hobi memasak dan keinginan membantu perekonomian keluarga, Lies membuka warung sederhana di emperan rumahnya di Jalan Slamet Riyadi 342, bersama suami, Sucipto Herlambang. Menu awalnya: nasi gudeg, nasi liwet, nasi langgi, dan timlo.
Setiap pukul tiga dini hari, Lies mulai memasak ditemani juru masak asal Yogyakarta. Pelanggan pertamanya adalah warga sekitar dan para sopir bus malam yang melintas di Kota Solo. Usahanya berkembang pesat. Pada 1970, ruang depan rumahnya diubah menjadi rumah makan. Pekerja bertambah, sebagian besar dari Yogyakarta. Nama “Adem Ayem” dipilih dengan harapan setiap pengunjung merasa nyaman dan puas setelah menikmati hidangan yang disajikan.
Memasuki 1980, rumah makan tersebut berkembang menjadi restoran empat lantai dengan ruang pertemuan. Variasi menu bertambah dengan hidangan bercita rasa China dan Barat. Salah satu inovasi yang membuat nama Adem Ayem semakin dikenal adalah Gudeg Kendil. “Ide ini muncul karena banyak pelanggan ingin membawa gudeg sebagai oleh‑oleh untuk keluarga di luar kota, bahkan hingga ke luar negeri seperti Singapura, Hong Kong, dan Amerika Serikat,” kata Lies kepada wartawan saat ulang tahun Adem Ayem ke‑50 pada Februari 2019. Rahasia daya tahannya terletak pada proses pengemasan. Gudeg, ayam, telur, dan kuah dikemas secara terpisah. Gudeg yang dimasukkan ke dalam kendil juga diambil langsung dari tungku pemasakan, bukan dari wadah penyajian. “Dengan cara itu, gudeg dapat bertahan hingga 24 jam selama kemasannya tidak sering dibuka,” tambah Lies. Hingga kini, Gudeg Kendil tetap menjadi produk paling diminati. Harga satu paket komplet kini mencapai lebih dari Rp 300 ribu.
Popularitas Adem Ayem juga tercermin dari deretan tokoh yang pernah menjadi pelanggannya. Presiden ke‑7 RI, Joko Widodo, diketahui telah menjadi pelanggan sejak menjabat Wali Kota Solo. Kebiasaan itu berlanjut ketika ia menjadi gubernur, presiden, hingga setelah purnatugas. Dalam berbagai kesempatan, Jokowi sering datang bersama anggota keluarga besarnya untuk bersantap di Adem Ayem. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah singgah menikmati hidangan di rumah makan ini saat berkunjung ke Solo.
Di luar ruang makan, suasana malam di Jalan Slamet Riyadi tetap ramai. Kendaraan hilir mudik menunggu tempat parkir, sementara lampu‑lampu rumah makan menari di bawah hujan. Di dalam, keluarga dan pengunjung saling berbagi cerita, menciptakan suasana hangat yang tak terputus meski hujan masih mengguyur. Adem Ayem terus menjadi tempat berkumpul bagi warga Solo dan pelancong, menyalurkan cita rasa tradisional dengan sentuhan modern yang tak pernah kehilangan identitasnya.
Kesimpulannya, Adem Ayem tetap menjadi ikon kuliner Solo, memadukan sejarah, inovasi, dan rasa yang tak lekang oleh waktu. Suasana yang nyaman, menu khas, serta kehadiran tokoh-tokoh penting menambah daya tarik, membuatnya terus menjadi pilihan utama bagi siapa saja yang ingin merasakan cita rasa Solo secara otentik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Dot Cake Viral: Antrian Panjang di Butterfield Market
The Trans Resort Bali Hadirkan Restoran Michelin Berbintang
Berbagai Restoran Ampera Raya Jadi Destinasi Kuliner
Ketoprak Jakarta Tetap Favorit, Banyak Lokasi Populer
Sourdough Croissant TCBL: Diskon 50% dan Cashback 5% Allo Paylater
MRT Haji Nawi Jadi Pusat Kopi Favorit Warga Jakarta
Berita Terbaru
Adem Ayem Solo: Warung Legendaris Tetap Menyapa Hujan Malam
Rumor Mati Ayah Messi Ditangguhkan, Keluarga Konfirmasi Hidup
SCCC Terbuka: Kerja Sama Indonesia-Korea Buka Laboratorium
20 Petugas Menjaga Kebersihan Taman Candra Bhuana Karangasem
Daihatsu Tumbuh 25% Penjualan, Pangsa Pasar Naik 17,4%
Swiss Menang 4-1 atas Bosnia, Xhaka Terima Gol Penalti
SPMB NTT 2026: Pendaftaran Online & Offline, Jadwal Terbaru
Indonesia Dapat Dukungan PBOC untuk Penerbitan Panda Bond