Litium Terdeteksi di Bintang Katai Merah: Planet Terhancur
Gambar atau konten salah?
Enam bintang katai merah, atau yang biasa disebut bintang katai merah, telah terdeteksi memiliki unsur yang tidak biasanya ditemukan di atmosfernya: litium. Dalam kondisi normal, unsur ini seharusnya sudah hilang sejak lama ketika bintang membakar bahan bakarnya.
Para astronom meneliti ribuan bintang, lalu menemukan jejak litium yang mencolok di enam bintang tersebut. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana litium bisa tetap ada di permukaan bintang yang sudah berumur?
“Bahkan sejumlah kecil litium pun akan terlihat jelas di bintang‑bintang ini, seperti melemparkan cat ke kanvas kosong,” kata astronom Robin Jeffries dari Keele University di Inggris. IFLScience melaporkan kutipan ini pada 10 Juni 2026.
Bintang katai merah memiliki masa hidup yang sangat panjang. Sementara Matahari hidup sekitar 10 miliar tahun, bintang katai merah dapat bertahan puluhan miliar hingga triliun tahun. Karena ukurannya kecil, dingin, dan redup, mereka memakan bahan bakar lebih lambat daripada bintang yang lebih panas dan lebih masif.
Namun, proses pembakaran di bintang katai merah juga cepat menghancurkan litium. Pada usia bintang-bintang yang dipelajari, litium yang tersisa dari pembentukan awal seharusnya sudah hampir sepenuhnya hilang. Jadi, kehadiran litium di enam bintang ini menandakan sesuatu yang tidak biasa.
Jeffries dan rekan-rekannya menggunakan data dari survei Spektroskopi Gaia‑ESO (GES), yang mencatat komposisi kimia ribuan bintang di Bima Sakti. Dari 318 bintang katai merah yang dapat menunjukkan tanda litium, hanya enam yang menunjukkan kandungan litium jauh lebih tinggi dari yang diharapkan.
Model yang dikembangkan oleh para peneliti menunjukkan bahwa sinyal litium di setiap bintang tersebut konsisten dengan proses “akuisisi” baru. Proses ini terjadi ketika bintang menelan planet-planet kecil di sekitarnya. Perhitungan menunjukkan bahwa sekitar 3 hingga 10 massa Bumi dari sebuah planet perlu lenyap di dalam bintang untuk menghasilkan sinyal litium yang diamati.
Fenomena ini dikenal sebagai nekroplanetologi, disiplin yang mempelajari jejak planet yang telah hilang. Biasanya, astronom memfokuskan penelitian pada bintang yang sudah mati atau hampir mati, karena jejak planet yang tertinggal lebih mudah terdeteksi. Namun, dalam kasus ini, bintang masih aktif, sehingga jejak kimia menjadi petunjuk penting.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Temuan ini menambah pemahaman tentang dinamika bintang katai merah dan interaksi mereka dengan planet-planet di sekitarnya.
Secara keseluruhan, kehadiran litium di enam bintang katai merah menunjukkan bahwa planet-planet kecil di sekitar bintang tersebut mungkin telah terhancur dan diserap oleh bintang. Temuan ini menyoroti pentingnya mempelajari interaksi antara bintang dan planet, terutama pada bintang dengan masa hidup sangat panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
XLSmart Luncurkan AI ESTA Eco & Vision di Bravo 500 Summit
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
Bupati Empat Lawang Tegaskan Anti KKN, Panggil Warga Awasi
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Piala Dunia 2026 Meksiko: Brazil Siap Hadapi Grup C
Semifinal AFF U-19 2026: Indonesia vs Australia 0-0
XLSmart: Jembatan Integrasi Tujuh Pilar Digital Indonesia
Inna Sri Sugiati Buka Usaha Asinan Fermentasi, BRI Mendukung
