Lonjakan 92 Hotspot di Sumsel, Tertinggi Sepanjang Juli
Gambar atau konten salah?
Di Sumatera Selatan, jumlah titik panas atau hotspot dalam satu hari tercatat melonjak drastis pada 12 Juli 2026. Sebanyak 92 titik panas berhasil terdeteksi dalam sehari. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang bulan Juli tahun ini.
"Terjadi peningkatan hotspot pada 12 Juli kemarin, angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang bulan ini," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Senin (13 Juli 2026).
Hotspot terbanyak terdeteksi di dua wilayah: Musi Rawas Utara (Muratara) dan Musi Banyuasin (Muba). Di dua daerah itu, petugas menemukan 27 titik panas. Sementara di Musi Rawas (Mura) terdeteksi 11 titik. Pada 13 Juli, hotspot terpantau di 14 daerah. Hanya tiga daerah yang nihil titik panas, yaitu Pagar Alam, Lubuklinggau, dan Prabumulih.
Menurut Sudirman, kenaikan hotspot ini menjadi indikator awal yang menunjukkan adanya potensi panas di permukaan. Namun, tidak semua hotspot berarti titik api atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setiap temuan tetap harus diverifikasi di lapangan.
Peningkatan hotspot ini sejalan dengan kondisi cuaca yang semakin kering akibat musim kemarau. Berkurangnya intensitas hujan di sebagian besar wilayah Sumsel menjadi pemicu utama.
Hingga pertengahan Juli, akumulasi hotspot di Sumsel sudah mencapai 606 titik. Angka ini melonjak jika dibandingkan dengan angka bulanan Mei yang mencapai 708 titik dan Juni 755 titik. Sepanjang 1 Januari hingga 12 Juli 2026, total hotspot yang terpantau sebanyak 2.455 titik.
Secara rinci, hotspot Juli terbanyak terdeteksi di Muara Enim dengan 446 titik. Disusul Lahat 369 titik, Muba 332 titik, Muratara 224 titik, OKI 190 titik, Mura 175 titik, OKU 126 titik, Ogan Ilir 110 titik, dan Banyuasin 105 titik. Wilayah dengan titik panas paling sedikit adalah Pagar Alam, yang hanya mencatat 8 titik.
"Hotspot merupakan indikator awal yang harus segera ditindaklanjuti. Karena itu kami terus melakukan patroli darat dan pemantauan udara agar setiap potensi kebakaran bisa ditangani sedini mungkin," kata Sudirman.
BPBD Sumsel mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat kondisi cuaca kering. Masyarakat juga diminta segera melapor kepada petugas apabila menemukan titik api agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Dari data yang ada, lonjakan hotspot di Sumsel memang terjadi seiring masuknya musim kemarau. Meski tidak semua hotspot berujung pada kebakaran, angka yang terus meningkat menunjukkan perlunya kewaspadaan ekstra. Patroli darat dan udara menjadi andalan untuk memastikan setiap potensi kebakaran bisa ditangani sebelum meluas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tambang Ilegal Ancam Geopark Merangin Warisan Dunia
Hotspot Sumsel Diprediksi Bertambah Akibat Curah Hujan Berkurang
Jembatan Ampera Jadi Panggung Parade Kebaya Nasional 2026
Kapolres Bangka Barat Pamit, Helen Simanjuntak Gantikan
Gubernur dan Kajati Lampung Sidak Makan Bergizi Gratis
253 Penumpang KM Sewindu Dievakuasi di Pangkalpinang
Berita Terbaru
Lonjakan 92 Hotspot di Sumsel, Tertinggi Sepanjang Juli
Baca Ayat Kursi Usai Salat, Dua Jaminan dari Allah
Jenazah Utuh 40 Tahun, Dipindah Pakai Motor
Prancis vs Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026
Emisi Microsoft Melonjak 25%, Target Karbon Negatif 2030 Makin Sulit
Enam Maskapai Siap Terbang dari Bandara Husein Sastranegara Lagi