Mahasiswa Inggris Bekerja 34 Jam Mingguan agar Hidup

Dwi H. · 4 min baca · 1 hari lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Mahasiswa Inggris Bekerja 34 Jam Mingguan agar Hidup

Gambar atau konten salah?

Di Inggris, biaya hidup mahasiswa telah melampaui batas yang dapat dikelola oleh banyak orang. Banyak yang harus mengurangi pengeluaran makan, bekerja paruh waktu, atau bahkan meminjam uang untuk tetap melanjutkan studi.

Survei terbaru yang dilakukan oleh perusahaan pengelola hunian mahasiswa, PfP Students, meneliti 800 mahasiswa aktif dan 800 calon mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa 34 persen responden mengaku biaya sewa tempat tinggal sudah tidak terjangkau. Dari kelompok tersebut, 71 persen mengurangi pengeluaran untuk makanan dan transportasi agar dapat membayar akomodasi.

Menurut laporan PfP Students, lebih dari separuh mahasiswa di Inggris, Skotlandia, dan Wales mengeluarkan biaya akomodasi di atas £700 per bulan (sekitar Rp 16,9 juta). Sementara itu, rata‑rata pinjaman biaya hidup (maintenance loan) yang diberikan pemerintah hanya sekitar £617 (Rp 14,9 juta) per bulan di Inggris, £694 (Rp 16,7 juta) di Skotlandia, dan £679 (Rp 16,3 juta) di Wales.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 51 persen mahasiswa yang kesulitan membayar sewa memilih membatasi aktivitas sosial, sementara 48 persen terpaksa meminjam uang atau mengambil pinjaman tambahan.

Di Anglia Ruskin University, seorang mahasiswa bernama Leo Magid mengaku harus bekerja hingga 34 jam per minggu di samping kuliah hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia mengatakan pinjaman biaya hidup yang diterimanya bahkan tidak cukup untuk menutup biaya akomodasi, meskipun ia memperoleh jumlah pinjaman maksimum.

Hasil survei ini sejalan dengan data yang pernah dikumpulkan oleh National Union of Students (NUS) UK. Organisasi tersebut menemukan bahwa 96 persen mahasiswa melakukan penghematan akibat krisis biaya hidup, sementara 11 persen mahasiswa bahkan mengakses bank makanan (food bank) untuk memenuhi kebutuhan sehari‑hari.

Tekanan ekonomi mahasiswa juga tercermin dalam laporan berjudul A Minimum Income Standard for Students yang disusun oleh Higher Education Policy Institute (HEPI), TechnologyOne, dan Centre for Research in Social Policy, Loughborough University. Laporan tersebut menyebutkan mahasiswa membutuhkan sekitar £61.000 selama tiga tahun kuliah untuk mencapai standar hidup minimum yang layak di Inggris di luar London. Angka itu setara dengan lebih dari Rp 1,4 miliar (kurs Rp 24.214 per pound). Sementara mahasiswa yang menempuh pendidikan di London membutuhkan sekitar £77.000 atau lebih dari Rp 1,8 miliar selama masa studi.

Peneliti menemukan mahasiswa tahun pertama membutuhkan rata‑rata £418 per minggu untuk menutupi biaya hidup dan sewa tempat tinggal. Namun, pinjaman biaya hidup maksimum yang tersedia bagi mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah di Inggris hanya mampu menutup sekitar 50 persen kebutuhan tersebut.

Laporan itu juga memperkirakan mahasiswa harus bekerja lebih dari 20 jam per minggu dengan upah minimum nasional jika ingin memenuhi kebutuhan hidup minimum hanya mengandalkan bantuan biaya hidup yang tersedia saat ini.

Menurut penulis laporan, kondisi tersebut sangat berisiko memperlebar ketimpangan akses pendidikan tinggi karena mahasiswa dari keluarga kurang mampu menghadapi hambatan finansial yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa dari keluarga berada.

Managing Director PfP Students, Eamonn Tierney, menilai bahwa biaya hidup yang semakin tinggi membuat banyak anak muda mulai mempertanyakan apakah kuliah masih menjadi pilihan yang realistis bagi mereka. Ia mendorong pemerintah dan perguruan tinggi untuk menyesuaikan skema bantuan biaya hidup dengan kondisi riil yang dihadapi mahasiswa saat ini.

"Jika kita menginginkan sistem pendidikan tinggi yang benar-benar dapat diakses semua orang, maka dukungan biaya hidup harus mencerminkan biaya hidup yang sebenarnya dan mempertimbangkan kondisi mahasiswa yang sangat beragam," ujar Tierney, dilansir dari laporan PfP Students. Ia menegaskan tidak seharusnya ada mahasiswa yang harus memilih antara membayar sewa tempat tinggal dan fokus pada studinya.

Direktur Higher Education Policy Institute (HEPI), Nick Hillman, menilai bantuan biaya hidup yang tersedia saat ini sudah tidak sebanding dengan kebutuhan mahasiswa. "Biaya hidup selama menempuh gelar sarjana kini melebihi £60.000 (Rp 1,4 miliar) di Inggris dan lebih dari £77.000 (Rp 1,85 miliar) di London. Dukungan biaya hidup saat ini sangat tidak memadai, sehingga mahasiswa terpaksa hidup dalam kondisi yang kurang layak, bekerja berlebihan, atau berutang dengan bunga tinggi," kata Hillman, dilansir dari laporan A Minimum Income Standard for Students.

Prof Matt Padley, Co‑Director Centre for Research in Social Policy (CRSP) di Loughborough University, menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya membutuhkan biaya untuk makan dan tempat tinggal, tetapi juga untuk berpartisipasi dalam kehidupan kampus. "Terlalu banyak mahasiswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka, apalagi untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan tinggi. Ada kewajiban moral untuk memastikan mahasiswa memiliki kesempatan yang adil untuk berhasil dan berkembang selama kuliah," ujarnya.

Menurut Padley, jika kondisi ini terus berlanjut, akses pendidikan tinggi di Inggris berisiko semakin tidak setara dan lebih mudah dijangkau oleh mahasiswa dari keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

Dengan data yang menegaskan ketidakcukupan dukungan biaya hidup, situasi ini menandai tantangan serius bagi sistem pendidikan tinggi di Inggris. Kebutuhan mahasiswa yang terus meningkat, sementara bantuan yang tersedia tidak sebanding, dapat memperlebar kesenjangan sosial dan menurunkan akses bagi mahasiswa berpenghasilan rendah. Penelitian dan kebijakan yang lebih responsif terhadap realitas biaya hidup mahasiswa menjadi kunci untuk menjaga keadilan dan keberlanjutan pendidikan tinggi di negara tersebut.

biaya hidup mahasiswapengeluaran sewapinjaman maintenanceketimpangan akses pendidikan tinggibantuan biaya hidupHEPIkebutuhan kuliah

Komentar

Memuat komentar...