Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru

Cahyo S. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru

Gambar atau konten salah?

Candi Losari, sebuah situs arkeologi di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, kini menjadi sorotan publik setelah penemuan kepingan emas berkarat 16,5 karat. Temuan ini muncul saat proses pemugaran yang sedang berlangsung, yang dipimpin oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Rekonstruksi ini dijadwalkan selesai pada Oktober 2026.

Selama pengeboran, para pekerja menemukan kepingan emas berukuran sekitar 1,5 sentimeter di bawah lantai candi. Kepingan tersebut kini disimpan di Kantor Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) Jateng. Menurut Junawan, penanggung jawab proyek, kepingan emas berfungsi sebagai sarana menghidupkan roh atau jiwa kedewaan. Ia menyatakan, “(Kegunaan) Sederhananya sebagai sumber energi spiritualnya suatu candi untuk menghidupkan roh/jiwa kedewaan,” ujarnya, Rabu (10 Juni 2023).

Selain emas, dua blok arca Dewa Surya juga ditemukan. Dengan penemuan tiga arca lain selama ekskavasi, jumlah total arca di Candi Losari menjadi lima. Dua arca tersisa ditemukan saat pemugaran. Meski tidak sepopuler Prambanan atau Borobudur, keunikan situs ini membuatnya menarik untuk diteliti lebih dalam.

Menurut buku Candi Indonesia Seri Jawa karya Edi Sedyawati dan rekan, Candi Losari ditemukan pada tahun 2004 di tengah kebun salak. Saat itu, petani sedang menggali parit aliran air dan secara tidak sengaja menemukan batu yang menyerupai struktur candi. Setelah digali lebih dalam, petani melaporkan temuan tersebut ke kelurahan, lalu ke balai konservasi. Ekskavasi di situs tersebut mengungkap satu candi induk dan tiga candi perwara.

Informasi tentang latar belakang Candi Losari masih terbatas. Namun, keberadaan arca Mahakala menunjukkan kemungkinan latar belakang Hindu. Pembangunan candi diperkirakan terjadi pada abad ke-9 atau ke-10 Masehi. Menurut skripsi Saibatul Islamiah, letusan Gunung Merapi yang menimbulkan penumpukan material di sekitar candi terjadi antara tahun 925 hingga 928 Masehi. Sementara itu, situs resmi Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang menyebutkan erupsi Merapi pada tahun 1006 sebagai penyebab candi terkubur. Dengan demikian, candi ini telah terendam selama lebih dari seribu tahun.

Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta bersama Jurusan Arkeologi FIB UGM, BPCB Jawa Tengah, dan BPPT Kegunungapian pada tahun 2007 menyimpulkan bahwa gugusan Candi Losari memiliki ukuran 25 meter per 25 meter, dikelilingi pagar. Candi induk menghadap ke timur dengan bentuk bujur sangkar berukuran 3,60 meter per 3,60 meter. Kaki candi memiliki ukuran 4,50 meter per 4,50 meter. Bagian timur candi dihiasi dengan relief kepala Kala. Candi perwara, yang berfungsi sebagai pendamping, menghadap ke barat dan terletak sekitar 8 meter dari candi induk. Salah satu candi perwara memiliki ukuran 3,16 meter per 3,16 meter dan tinggi 0,95 meter, dengan hiasan dekoratif di kaki hingga atap. Dua candi perwara lainnya berdenah bujur sangkar, masing-masing 1,60 meter per 1,60 meter dengan tinggi kaki 1,40 meter. Di atas ketiga pintu candi perwara terdapat hiasan kepala Kala dengan rambut sulur-suluran, mata melotot, gigi taring di rahang atas, dan lidah terjulur.

Proses rekonstruksi saat ini memanfaatkan teknologi modern untuk memastikan struktur asli tetap terjaga. Tim arkeologi dan konservator bekerja sama dengan para ahli material untuk menyalin dan memulihkan elemen arsitektur yang hilang. Selain itu, penemuan kepingan emas dan arca Dewa Surya memberikan nilai tambah bagi penelitian sejarah keagamaan di Jawa Tengah.

Pengelola BPK Wilayah X menegaskan bahwa setiap langkah dalam pemugaran akan mematuhi standar pelestarian budaya nasional. Mereka juga berencana membuka akses bagi peneliti dan pengunjung umum setelah penyelesaian pada Oktober 2026. Dengan demikian, Candi Losari diharapkan dapat menjadi contoh penting dalam upaya melestarikan warisan budaya Indonesia.

Temuan emas dan arca di Candi Losari menyoroti pentingnya eksplorasi situs bersejarah yang belum banyak dikenal. Penelitian lebih lanjut dapat mengungkap lebih banyak tentang kehidupan masyarakat pada masa lampau serta peran candi dalam konteks keagamaan dan sosial.

Candi LosariBalai Pelestarian Kebudayaankepingan emasarca Dewa SuryapemugaranMagelangsitus arkeologirekonstruksi

Komentar

Memuat komentar...