Inna Sri Sugiati Buka Usaha Asinan Fermentasi, BRI Mendukung

Surya B. · 6 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Inna Sri Sugiati Buka Usaha Asinan Fermentasi, BRI Mendukung

Gambar atau konten salah?

Di tengah kota Jakarta yang penuh dengan kuliner modern, Inna Sri Sugiati berusia 60 tahun berhasil menumbuhkan bisnis asinan fermentasi yang ramah lingkungan. Usaha ini berlokasi di Jalan Pancoran Timur Raya No. 50, Pengadegan, Jakarta Selatan, dan beroperasi di bawah nama Niekting. Nama tersebut berasal dari kata Niniek yang berarti nenek dalam bahasa Sunda, dan Ting yang diambil dari panggilan sang ibu.

Sejak kecil, aroma cuka, cabai, dan potongan buah serta sayur segar sudah menjadi bagian dari kehidupan Inna. Ibu, Tien Hamsini, memulai usaha asinan pada tahun 1970. Usaha kecil ini kemudian dilanjutkan oleh Inna pada tahun 2019, sebelum akhirnya naik kelas di bawah naungan Rumah BUMN BRI.

Perjalanan Inna tidak bermula dari rencana bisnis formal. Sebelumnya, ia bekerja di perusahaan besar di ibu kota. Namun, ketika ayahnya jatuh sakit akibat stroke, Inna memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut demi merawatnya. “Saudara saya yang lain ada di Ciamis dan Bekasi. Mau nggak mau berarti saya harus ngalah. Akhirnya yaudah saya kerjanya di rumah aja,” kenang Inna.

Rutinitas di rumah membuat Inna merasa jenuh. Untuk mengisi waktu, ia bergabung dalam program pembinaan kewirausahaan. Di sana, ia belajar cara menjadi wirausaha dari rumah dan diarahkan memilih satu produk kuliner unggulan dengan rasa kuat di Jakarta. Pilihan akhirnya jatuh pada asinan.

Warisan resep keluarga menjadi fondasi. Inna mengingat betul bahwa asinan ibunya pernah menjadi favorit tetangga, kerabat, bahkan ekspatriat. Pada masa kejayaannya, asinan ibunya pernah disajikan di kantin Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. “Itu memang Mama waktu zamannya dia, itu masuk ke kantinnya Kedutaan Amerika. Kita udah masuk ke sana. Ya artinya itu udah uji coba bahwa pihak luar, bule, itu suka makanan kita gitu kan,” ungkapnya.

Namun, pada tahun 1990, usaha sang ibu terpaksa berhenti karena keterbatasan sumber daya manusia. Resep asinan itu disimpan rapat di laci kenangan selama hampir tiga puluh tahun. “Kata Mama resepnya masih ada, diteruskan saja. Iya juga ya, pikir saya,” tutur Inna.

Di akhir 2019, Inna memutuskan memulai bisnis berdasarkan resep ibunya. Ia tidak sekadar meniru, melainkan ingin meningkatkan asinan melalui inovasi fermentasi. Inspirasi datang dari ayahnya, lulusan teknik kimia Universitas Gadjah Mada, yang sering melakukan uji coba di laboratorium untuk menyesuaikan kadar keasaman.

Inna sendiri pernah menempuh pendidikan sekolah asisten apoteker, sementara ibu pernah belajar di Sekolah Kepandaian Putri. “Kita ulik nih komposisi asam-basahnya sampai mendapatkan formula yang dia bisa difermentasi,” jelas Inna.

Asinan fermentasi yang dikembangkan terdiri dari potongan bengkoang, mentimun, kol, dan sawi asin, disertai bumbu kacang. Proses fermentasi dilakukan dengan merendam bahan baku dan sayuran selama 2‑3 hari, menghasilkan bakteri baik untuk pencernaan.

Melalui uji coba berulang, Inna menghitung interaksi antara keasaman buah, kadar gula, dan media cair agar fermentasi alami mencapai titik optimal. Hasilnya adalah asinan fermentasi yang menyegarkan, memiliki daya simpan lebih lama dalam kemasan modern, dan tetap aman serta menyehatkan bagi pencernaan.

Produk Asinan Fermentasi Niekting resmi diluncurkan pada 01 Oktober 2020. Meski pandemi COVID‑19 masih berlangsung, Inna mampu memproduksi kurang lebih 1.000 pcs dalam satu bulan, dipasarkan ke wilayah Jabodetabek. Ia melibatkan 5 pekerja utama yang bekerja secara fleksibel sesuai kebutuhan produksi.

Model kerja per batch disesuaikan dengan ritme usaha, memberi kesempatan bagi pekerja dengan tanggung jawab keluarga atau pekerjaan sampingan. “Kita berdayakan pekerja dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan dan pekerja berusia lanjut, yang berperan penting dalam membantu proses produksi,” ungkapnya.

Inna terus mengembangkan kemasan agar produk tahan lama selama pengiriman. Awalnya menggunakan styrofoam, kini Niekting memakai dua tipe kemasan: thin wall dan standing pouch, yang dapat bertahan lebih dari 2 bulan. Setelah dikeluarkan dari storage dengan suhu 4‑7 derajat Celsius, asinan dapat bertahan di perjalanan selama 3 hari sebelum diterima pelanggan.

Keunggulan ini jauh melampaui masa ketika usaha asinan dijalankan sang ibu, yang menggunakan rantang sehingga hanya dapat diantar jarak dekat. Inna menyadari bahwa inovasi sederhana dapat memperluas jangkauan pasar.

Perkembangan Niekting semakin didorong oleh Rumah BUMN BRI. Inna menemukan program pelatihan peningkatan usaha melalui media sosial dan langsung mengunjungi Rumah BUMN BRI di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat. Di sana, Niekting mendapatkan pendampingan intensif melalui pelatihan berjenjang.

Pendampingan BRI meninjau berbagai aspek krusial: perbaikan konten, pengaturan keuangan, hingga fasilitasi foto produk. Inna merasakan perubahan pola pikir menjadi seorang entrepreneur. “Kalau bukan entrepreneur, larinya hanya sekadar jualan saja dari bazar ke bazar. Padahal untuk menaikkan kelas, kategorinya banyak. Bukan cuma dikenal secara branding, tapi internalnya juga harus siap,” ungkapnya.

Program ini membekali Inna dengan ilmu produktivitas dan manajemen usaha, termasuk menghadapi lonjakan permintaan, proses produksi, dan pengemasan. Dukungan BRI tidak berhenti pada ruang pelatihan; pemasaran Niekting juga meluas melalui integrasi ke ekosistem digital BUMN.

Produk Niekting kini masuk ke platform PaDi UMKM, sebuah platform B2B milik BUMN. Kehadiran di marketplace tersebut membuka peluang bagi kantor‑kantor perusahaan BUMN untuk memesan produk secara langsung guna kebutuhan korporat. “Jadi artinya marketingnya bukan hanya offline tapi online-nya juga,” terangnya.

BRI sering merekomendasikan Inna sebagai narasumber di berbagai acara. Niekting juga berpartisipasi di bazar Sarinah Thamrin, Jakarta, serta KTT ASEAN pada 01 November 2023. Ajang-ajang tersebut membuat Niekting lebih dilirik pasar. Selain itu, berkat kurasi dan fasilitasi Rumah BUMN BRI, asinan fermentasi Niekting berhasil menembus pasar internasional, mencicipi pasar kuliner di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Jadi Rumah BUMN BRI ini melalui beberapa programnya mengarahkan kita menjadi entrepreneur. Jadi mindset kita berubah tak sekedar jualan. Itulah yang aku dapetin dari Rumah BUMN BRI ini,” jelasnya.

Keberhasilan Inna tidak berhenti pada produk utama. Ia mengadopsi prinsip zero waste dengan memilah limbah organik sisa produksi. Limbah kulit bengkoang, bonggol kol, serta minyak jelantah bumbu kacang diolah menjadi produk bernilai tambah: eco‑enzyme, karbol, sabun lerak, dan lilin.

Inna bekerja sama dengan Arnetta Craft, komunitas pengolahan limbah di Jakarta Timur yang dipimpin Chevie Mawarti. “Awalnya saya cuma ikut kelas belajar mengolah limbah minyak jelantah jadi lilin dan tatakan. Lalu saya berpikir, limbah kulit bengkoang dan bonggol kol sisa produksi asinan saya ini bisa dibuat apa,” tutur Inna.

Dari sinergi tersebut, limbah sayur dan buah Niekting berhasil disulap menjadi cairan eco‑enzyme. Selain itu, limbah tersebut juga dikembangkan menjadi karbol dan sabun lerak. Produk-produk hasil olahan Niekting dan Arnetta Craft rutin diserap oleh berbagai perusahaan BUMN, baik sebagai goodie bag pelatihan internal maupun hampers korporat. Salah satu perusahaan bahkan memajang produk ramah lingkungan ini di gerai resmi mereka.

Di kesempatan terpisah, Jajang Rohmana, koordinator Rumah BUMN BRI, menegaskan komitmen BRI sebagai wadah bagi pelaku usaha lokal. “Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam‑macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut,” jelasnya.

Jajang menjelaskan bahwa saat pertama kali bergabung, UMKM diarahkan mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan tiga aspek terunggul dan tiga aspek terendah dari usaha tersebut. “Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada tiga aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa bersama BRI, UMKM tidak hanya tumbuh tapi juga bertransformasi menuju ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan. “Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami,” ujarnya.

Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan. Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi.

Inna Sri Sugiati menunjukkan bahwa keberhasilan usaha asinan fermentasi tidak hanya terletak pada inovasi rasa, tetapi juga pada integrasi sistem pendampingan, pemasaran digital, dan praktik ramah lingkungan. Dengan dukungan Rumah BUMN BRI, Niekting berhasil mengubah warisan kuliner keluarga menjadi produk yang dapat bersaing di pasar lokal dan internasional, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya terbuang. Ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pelaku UMKM, lembaga pendukung, dan prinsip keberlanjutan dalam mengembangkan usaha kecil di Indonesia.

Asinan FermentasiNiektingRumah BUMN BRIInovasi FermentasiZero WasteEkosistem Digital BUMNPengolahan LimbahGo Digital

Komentar

Memuat komentar...