Mario Wuysang Iri Format IBL Kandang-Tandang

Ani R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 46 dibaca
Bisik.id
Mario Wuysang Iri Format IBL Kandang-Tandang

Gambar atau konten salah?

Mario Wuysang, sosok legendaris dalam dunia bola basket Indonesia, mengungkapkan satu hal yang membuatnya sedikit menyesal terkait perkembangan Indonesia Basketball League (IBL) saat ini. Kariernya di IBL dimulai sejak tahun 2003 bersama Aspac Jakarta. Ia sempat membela beberapa tim lain seperti Garuda Bandung, Satria Muda, Indonesia Warriors, dan terakhir CLS Knights sebelum memutuskan pensiun pada 2018.

Meskipun sudah delapan tahun tidak aktif bermain dan sebagian besar waktunya dihabiskan di Amerika Serikat, Mario tetap mengikuti perkembangan bola basket nasional. Perhatiannya tertuju pada format baru IBL yang sudah diterapkan selama tiga musim terakhir: sistem kandang dan tandang (*home and away*).

Mario mengaku merasa iri karena ia tidak pernah merasakan format pertandingan semacam itu selama masa aktifnya. Menurutnya, sistem kandang-tandang ini seharusnya sudah diterapkan sejak lama. Format ini memberikan kesempatan bagi para penggemar untuk menonton tim kesayangan mereka bertanding di kota sendiri.

Ia menilai, sistem ini menciptakan suasana yang jauh lebih hidup dan penuh emosi dibandingkan pertandingan yang terpusat di satu lokasi netral. Mario mengenang atmosfer bola basket di Indonesia selalu luar biasa. Beberapa kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Solo selalu dipenuhi penonton saat ia masih bermain.

Dalam sebuah perbincangan dengan pemain Kesatria Bengawan Solo (KBS), Avan Seputra, di kanal YouTube Uncleroetalk, Mario menyatakan kekagumannya pada format baru ini. "Saya sangat suka dengan kandang dan tandang. Saya berharap sistem ini bisa diterapkan lebih dulu ketika saya masih bermain. Saya tidak pernah suka sistem seri," ujar Mario.

Mario percaya bahwa Kesatria Bengawan Solo seharusnya bisa memanfaatkan format kandang-tandang ini untuk meraih keuntungan maksimal. "Dengan format ini, seharusnya setiap pertandingan KBS bisa selalu penuh karena Solo adalah salah satu kota dengan atmosfer bola basket yang luar biasa," jelasnya.

Ia menambahkan, "Sejak 2003 ketika saya datang ke sini, penonton selalu memadati tempat di Bandung, Surabaya. Bahkan, saat itu sulit untuk sekadar turun dari bus karena keramaian."

Sejak format kandang-tandang diperkenalkan pada musim 2024, klub-klub IBL mulai melakukan pembenahan, terutama terkait tempat pertandingan. Mereka berupaya merenovasi fasilitas terdekat agar memenuhi standar untuk menggelar laga IBL. Selain itu, musim ini IBL juga melakukan perubahan pada babak semifinal dan final, yang kini menggunakan sistem best of five, berbeda dari sistem sebelumnya, yaitu best of three.

Mario Wuysang, yang pensiun pada tahun 2018 setelah bermain untuk CLS Knights, adalah salah satu figur penting sejak IBL bergulir tahun 2003.

Mario WuysangIBLFormat Kandang dan TandangLegenda BasketAtmosferSistem Series

Komentar

Memuat komentar...