Masayoshi Son: AI Bangun AI Lain, Superintelligence Datang
Gambar atau konten salah?
Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga mulai mengembangkan generasi AI berikutnya. Ini menandai langkah penting menuju era superintelligence.
Masayoshi Son, CEO SoftBank, menyatakan bahwa model AI masa depan akan dirancang dengan bantuan AI lain. Ia mengungkapkan hal ini setelah berdiskusi dengan Sam Altman, CEO OpenAI, dan beberapa insinyur.
Son menegaskan tren ini tidak hanya terjadi di OpenAI, tapi juga dapat diterapkan oleh pengembang AI besar lainnya. Ia memperkirakan AI akan mencapai titik di mana manusia tidak lagi menjadi arsitek utama.
Menurut Son, ketika AI dapat membantu menciptakan AI yang lebih canggih, proses peningkatan kecerdasan menjadi jauh lebih cepat. Setiap generasi model akan lebih kuat dan lebih pintar daripada pendahulunya.
Kondisi tersebut, kata Son, merupakan gambaran awal superintelligence, yaitu tingkat kecerdasan buatan yang melampaui kemampuan manusia di berbagai bidang.
OpenAI belum memberikan komentar tentang produk atau model yang masih dalam tahap pengembangan. Namun perusahaan sebelumnya menjelaskan bahwa AI sudah digunakan dalam beberapa proses riset dan pengembangan model.
Pada awal tahun ini, OpenAI mengungkap bahwa salah satu modelnya menjadi sistem pertama yang berkontribusi secara signifikan dalam pengembangan dan peningkatan model AI berikutnya.
Langkah ini menunjukkan AI bukan sekadar alat, melainkan bagian dari proses penciptaan teknologi AI generasi baru.
Pernyataan Son masuk dalam diskursus tentang Artificial Superintelligence (ASI). Pada 2024, ia mendeskripsikan ASI sebagai AI yang 10.000 kali lebih cerdas daripada manusia.
Ia memprediksi ASI akan hadir dalam 10 tahun ke depan, namun kini ia mengaku bahwa perkiraan awal bersifat konservatif.
“Di benak saya, saya sebenarnya berpikir itu akan terjadi dalam empat tahun, bukan 10 tahun. Kini, saya berani mengatakan era tersebut akan tiba dalam dua tahun ke depan,” ungkap Masayoshi Son.
Son juga menyebutkan bahwa ia menggunakan ChatGPT dari OpenAI selama dua hingga tiga jam setiap harinya, karena AI tersebut sudah lebih pintar darinya dalam hampir semua topik bahasan.
Prediksi lain menyatakan bahwa AI akan lebih cerdas daripada manusia di sekitar 70% hingga 80% bidang ilmu, dan di bidang tersebut AI mungkin 10 kali lebih pintar daripada manusia rata-rata.
Anthropic merilis artikel blog tentang AI yang mampu merancang dan mengembangkan penerusnya sendiri secara sepenuhnya otonom, memperingatkan risiko hilangnya kendali manusia atas sistem AI.
Perusahaan pengembang chatbot Claude menyarankan upaya terkoordinasi di antara laboratorium AI untuk memperlambat laju pengembangan teknologi ini sebagai langkah yang baik.
Perubahan ini menunjukkan AI semakin mandiri, membuka peluang besar namun juga menimbulkan risiko. Mengetahui dinamika ini penting bagi semua pihak yang terlibat dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
England 3-0 Kosta Rika: Gordon Menang, Keane Prediksi
Meksiko Kalahkan Afrika Selatan 2-0 di Piala Dunia 2026
FIFA World Cup 2026 di Roblox: 48 Tim, 6 Game, Live Update
Pelatihan BNSP: Sertifikat Trainer Menjadi Standar Nasional
BGN Rencanakan Penataan Ulang MBG, 6.877 Titik Tambahan Tertimbun
Internasional Kertajati Loncat 712%, Domestic Turun 75%
