Mentan Targetkan Lahan Kedelai 5.000 Hektare

Ayu W. · 5 min baca · 13 jam lalu · 32 dibaca
Bisik.id
Mentan Targetkan Lahan Kedelai 5.000 Hektare

Gambar atau konten salah?

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong perluasan lahan kedelai di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Rencana ini dijalankan lewat kerja sama antara Kementerian Pertanian dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Targetnya, lahan yang dikelola bisa mencapai 5.000 hektare jika pelaksanaannya berjalan lancar, dengan harapan produktivitas tembus di atas 3 ton per hektare.

Kunjungan Amran ke Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM di Yogyakarta pada Kamis, 15 Oktober 2026 merupakan tindak lanjut dari pertemuannya dengan Rektor UGM di Jakarta pada Juni 2026. Pertemuan itu menjadi dasar kolaborasi pemerintah dan kampus dalam mengembangkan kedelai, mulai dari riset, uji produktivitas, sampai perluasan areal tanam bersama petani.

"Alhamdulillah hari ini sudah membuahkan hasil, di mana produksi kedelai bisa minimal 2,6 sampai 3,2 ton. Tapi kami minta bila perlu di atas 3 ton," ujar Amran saat meninjau pengembangan kedelai di PIAT UGM.

Pemerintah sudah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperluas pengembangan ini. Kementan dan UGM telah sepakat menggarap lahan seluas 2.000 hektare pada 2027. Jika produktivitas dan kesiapan di lapangan mendukung, pemerintah membuka peluang perluasan hingga 5.000 hektare. Tambahan 3.000 hektare akan melibatkan masyarakat dan kelompok petani di bawah pengawasan UGM.

"Tahun depan kami sudah tanda tangan kesepakatan dengan UGM, 2.000 hektare. Tapi kalau mampu 5.000, kami siapkan anggarannya," kata Amran.

Untuk mendukung program ini, Kementan telah menyerahkan anggaran Rp7,7 miliar untuk tahun 2026. Amran menyebut dukungan itu merupakan wujud komitmen pemerintah mendampingi pengembangan kedelai bersama perguruan tinggi. Hasil riset dan inovasi diharapkan bisa diterapkan dalam skala budi daya yang lebih luas.

"Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya. Ini sesuai komitmen pembicaraan kita saat pertemuan di Jakarta. Kami akan lanjutkan terus dan insyaallah akan kami kawal, karena ini perintah Bapak Presiden," ujar Amran.

Ia menambahkan, tahun depan sudah ada kesepakatan dengan UGM untuk lahan seluas 2.000 hektare. "Tapi kalau mampu 5.000, kami siapkan anggarannya," kata Amran. Dari total tersebut, 3.000 hektare tambahan akan melibatkan masyarakat dan kelompok petani di bawah pengawasan UGM.

Untuk mendukung program ini, Kementan telah menyerahkan dukungan anggaran sebesar Rp7,7 miliar untuk tahun 2026. Amran menyebut dukungan ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mengawal pengembangan kedelai bersama perguruan tinggi, sekaligus mendorong hasil riset dan inovasi agar bisa diterapkan dalam skala budi daya yang lebih luas.

"Alhamdulillah hari ini sudah membuahkan hasil, di mana produksi kedelai bisa minimal 2,6 sampai 3,2 ton. Tapi kami minta bila perlu di atas 3 ton," ujar Amran saat meninjau pengembangan kedelai di PIAT UGM.

Pemerintah sudah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperluas pengembangan ini. Kementan dan UGM telah menyepakati rencana pengembangan pada lahan seluas 2.000 hektare pada 2027. Jika produktivitas dan kesiapan pelaksanaan memungkinkan, pemerintah membuka peluang perluasan hingga 5.000 hektare, dengan tambahan 3.000 hektare melibatkan masyarakat dan kelompok petani di bawah pengawasan UGM.

"Tahun depan kami sudah tanda tangan kesepakatan dengan UGM, 2.000 hektare. Tapi kalau mampu 5.000, kami siapkan anggarannya," kata Amran.

Untuk mendukung program ini, Kementan telah menyerahkan dukungan anggaran sebesar Rp7,7 miliar untuk tahun 2026. Amran menyebut dukungan ini bagian dari komitmen pemerintah mendampingi pengembangan kedelai bersama perguruan tinggi, sekaligus mendorong hasil riset dan inovasi agar bisa diterapkan dalam skala budi daya yang lebih luas.

"Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya. Ini sesuai komitmen pembicaraan kita saat pertemuan di Jakarta. Kami akan lanjutkan terus dan insyaallah akan kami kawal, karena ini perintah Bapak Presiden," ujar Amran.

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, menyebut potensi hasil varietas kedelai yang dikembangkan bisa mencapai 3,6 ton per hektare. Tim UGM menargetkan produktivitas di atas 3 ton per hektare. Angka aktualnya akan ditentukan oleh perkembangan tanaman sampai panen dan kesesuaian teknik budi daya dengan kondisi lahan.

Saat peninjauan berlangsung, tanaman kedelai belum memasuki masa panen. Benih ditanam pada 30 Agustus 2026 dan berumur sekitar 44 hari ketika dikunjungi. Jadi, potensi produktivitas masih harus diuji hingga panen tiba.

Jarak tanam menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan ini. Subejo menjelaskan, lahan yang diamati menggunakan jarak tanam 20 x 40 sentimeter. Teknik budi daya disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Pendekatan ini diharapkan membantu mencapai produktivitas yang optimal.

Amran menyampaikan bahwa pemerintah sudah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperluas pengembangan kedelai. Kementan dan UGM telah menyepakati rencana pengembangan di lahan seluas 2.000 hektare pada 2027. Jika produktivitas dan kesiapan pelaksanaan memungkinkan, pemerintah membuka peluang perluasan hingga 5.000 hektare, dengan tambahan 3.000 hektare melibatkan masyarakat dan kelompok petani di bawah pengawasan UGM.

"Tahun depan kami sudah tanda tangan kesepakatan dengan UGM, 2.000 hektare. Tapi kalau mampu 5.000, kami siapkan anggarannya," kata Amran.

Untuk mendukung program ini, Kementan menyerahkan dukungan anggaran sebesar Rp7,7 miliar untuk tahun 2026. Amran menyebut dukungan ini bagian dari komitmen pemerintah mengawal pengembangan kedelai bersama perguruan tinggi, sekaligus mendorong hasil riset dan inovasi agar bisa diterapkan dalam skala budi daya yang lebih luas.

"Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya. Ini sesuai komitmen pembicaraan kita saat pertemuan di Jakarta. Kami akan lanjutkan terus dan insyaallah akan kami kawal, karena ini perintah Bapak Presiden," ujar Amran.

Dekan Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, menyebut potensi hasil varietas kedelai yang dikembangkan bisa mencapai 3,6 ton per hektare. Tim UGM menargetkan produktivitas di atas 3 ton per hektare, meski hasil aktual akan ditentukan oleh perkembangan tanaman hingga panen serta kesesuaian teknik budi daya dengan kondisi lahan.

Saat peninjauan berlangsung, tanaman kedelai yang diamati belum memasuki masa panen. Tanaman ditanam pada 30 Agustus 2026 dan berusia sekitar 44 hari ketika dikunjungi. Karena itu, potensi produktivitas masih akan diuji hingga panen tiba.

Jarak tanam menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan ini. Subejo menjelaskan penggunaan jarak tanam 20 x 40 sentimeter pada lahan yang diamati, dengan penyesuaian teknik budi daya berdasarkan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Pendekatan ini diharapkan mendukung pencapaian produktivitas yang optimal.

Menurut Subejo, pengembangan berikutnya direncanakan melibatkan kelompok tani di Kabupaten Grobogan, dengan target produktivitas lebih dari 3 ton per hektare. Keterlibatan petani menjadi langkah penting untuk menguji penerapan teknologi budi daya dalam skala lapangan sekaligus mempersiapkan perluasan areal tanam.

Dalam kesempatan tersebut, Amran juga meninjau stan PIAT UGM yang menampilkan benih kedelai bersertifikat. Benih kedelai tersebut memiliki daya tumbuh hampir 99 persen berdasarkan pengujian yang dilakukan.

Lebih lanjut, kerja sama Kementan dan UGM diharapkan memperkuat pengembangan benih bermutu, penerapan teknologi budi daya, dan perluasan areal tanam kedelai. Melalui dukungan riset perguruan tinggi dan keterlibatan petani, pengembangan ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas serta memperkuat produksi kedelai nasional.

perluasan lahan kedelaiKementerian PertanianUniversitas Gadjah Madaproduktivitas kedelaianggaranGroboganbudi dayapetani

Komentar

Memuat komentar...