Subsidi Elpiji Tembus Rp100 Triliun Akibat ICP Naik
Gambar atau konten salah?
Subsidi untuk elpiji melonjak drastis. Angkanya sudah menembus lebih dari Rp 100 triliun. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga merangkap sebagai Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Penyebabnya? Harga minyak mentah Indonesia atau ICP yang naik tinggi. Sekarang ICP berkisar antara 90 sampai 100 dolar AS per barel. Dulu, saat ICP masih di level 78 dolar AS per barel, subsidi yang dikeluarkan pemerintah hanya Rp 87 triliun.
"Total subsidi untuk LPG yang dipakai oleh konsumsi masyarakat di saat ICP-nya masih di US$ 78 barel, itu subsidi kita mencapai Rp 87 triliun. Tapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka US$ 90 sampai US$ 100 per barel, itu subsidi kita di atas hampir Rp 100 triliun," kata Bahlil. Ia menyampaikan hal ini saat meresmikan Kilang LPG Cilamaya di Karawang pada Kamis, 15 Oktober 2026. Acara itu disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kementerian ESDM.
"Ini devisa kita banyak sekali yang keluar dan kemudian mampu kita subsidi kepada rakyat yang begitu besar," sambungnya.
Bahlil juga membeberkan data kebutuhan elpiji nasional. Saat ini, kebutuhan LPG di dalam negeri mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun. Angka itu belum termasuk kebutuhan industri seperti Lotte. Jika ditambahkan, total konsumsi LPG nasional diperkirakan mencapai 11 sampai 12 juta ton per tahun.
Masalahnya, produksi dalam negeri sangat kecil. Kapasitas produksi LPG dari dalam negeri hanya sekitar 1,8 juta ton per tahun. Artinya, ada kekurangan yang sangat besar.
"Jadi, kita impor itu kurang lebih sekitar 7 sampai 8 juta ton per tahun," terang Bahlil.
Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah punya strategi baru. Saat ini, mereka sedang mengembangkan penggunaan CNG 3 kilogram sebagai pengganti LPG 3 kilogram. Namun, program ini masih dalam tahap evaluasi.
"Kalau itu mampu kita adakan, maka impor kita yang 8 juta ton per tahun itu, kita bisa selesaikan dengan kebutuhan yang ada di dalam negeri kita. Nah, ini strateginya ke depan," jelas Bahlil.
Dari data yang disampaikan, terlihat bahwa Indonesia sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan elpiji. Dengan produksi dalam negeri yang hanya sekitar 1,8 juta ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 8,5 juta ton, maka hampir 80 persen pasokan LPG harus didatangkan dari luar negeri. Lonjakan harga minyak dunia pun langsung berdampak pada membengkaknya subsidi yang harus ditanggung negara.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pertamina Minta Warga Tak Timbun BBM Bersubsidi di Bali
Pertamina Tambah Pasokan BBM di Bali, SPBU 24 Jam
Menko Pangan Yakin Ekonomi RI Makin Kuat di Tahun Kedua Prabowo
BookCabin Hadirkan Fitur Pesan Tiket Pesawat dengan Fasilitas Stretcher
Pemerintah Siapkan 3 Skema Pembiayaan untuk Kelola Lahan Gambut
Hari Pertama TEI 2026 Tembus US$ 13,2 Miliar, Target Transaksi Makin Dekat
Berita Terbaru
Subsidi Elpiji Tembus Rp100 Triliun Akibat ICP Naik
Pertamina Minta Warga Tak Timbun BBM Bersubsidi di Bali
Pertamina Tambah Pasokan BBM di Bali, SPBU 24 Jam
BEI Tetapkan 19 Saham Baru dalam Kategori HSC
MSCI Putuskan Tinjauan Indeks November 2026, Indonesia Masih Emerging Market
IHSG Menguat 0,29% ke 5.943, BBCA Topang Kenaikan
