MGBKI Bahas Tuduhan AI Palsu Riset dan Travel Grant

Eko P. · 2 min baca · 19 hari lalu · 17 dibaca
Bisik.id
MGBKI Bahas Tuduhan AI Palsu Riset dan Travel Grant

Gambar atau konten salah?

Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) mengadakan diskusi resmi pada Selasa, 26 Mei 2026 setelah muncul tuduhan viral bahwa beberapa orang di Indonesia memalsukan riset ilmiah dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) demi memperoleh travel grant dan mengikuti konferensi internasional.

Kasus ini menjadi perbincangan luas di media sosial setelah seorang oknum, yang tidak berprofesi sebagai tenaga kesehatan, menyatakan bahwa ia dapat puluhan travel grant selama dua hingga tiga tahun di bidang spesialis kedokteran. Salah satu warganet menulis: “Bukan dokter, bukan perawat, bukan nakes tapi bisa dapat puluhan travel grant selama dua hingga tiga tahun di bidang spesialis kedokteran semua,” menandai bahwa klaim ini menimbulkan keraguan.

Pelaku yang menjadi sorotan bahkan menuliskan bio di platform sosial media yang menyebutkan telah mengunjungi lebih dari 50 negara berbekal undangan di kongres. Ia menulis: “Traveling around the world with science | 57 Countries & Still Counting | Maths, BioMedicine, and CS.

Prof. Theddeus Octavianus Hari Prasetyono, yang mewakili MGBKI, menilai masalah ini lebih masuk ke ranah etik dan integritas akademik. Ia berkata: “Terduga kuat ini adalah persoalan di ranah etik. Tidak langsung menyasar persoalan hukum, kecuali dibawa oleh penyelenggara kegiatan ilmiah,” dan menegaskan bahwa institusi akademik yang menaungi individu tersebut adalah pihak yang paling berwenang menangani dugaan pelanggaran etik. Ia menambahkan: “Yang paling berwenang di arena etik ini adalah institusi akademik yang menaungi individu yang melanggar etik atau integritas akademik,

Prof. Theddeus juga mengangkat kemungkinan adanya kebobolan dalam proses seleksi konferensi internasional. Ia menyoroti: “Kalau memang betul riset mereka sampai tembus dan ditampilkan di kegiatan ilmiah, berarti salinan paper yang diterima belum cukup kuat mendeteksi adanya riset yang tidak benar,” menandakan bahwa mekanisme review paper mungkin tidak memadai.

Ketika ditanya tentang kemungkinan travel grant berkali-kali dalam waktu singkat, Prof. Theddeus menjelaskan bahwa biasanya grant penelitian memiliki seleksi dan kuota terbatas. Ia berkata: “Sangat tidak mudah mendapatkan grant. Kalau ada peneliti bisa pergi berpuluh-puluh kali dalam setahun, tentu menjadi pertanyaan besar,” dan menegaskan: “Relatif saya tidak pernah menemukan ada institusi yang bisa memberikan travel grant tanpa kompetisi berkali-kali untuk satu orang staf atau peneliti,

Ia menekankan bahwa penyelenggara konferensi internasional perlu melakukan evaluasi terhadap sistem seleksi paper dan pemberian travel grant. “Penyelenggara ilmiah dunia juga harus menilik diri, mengapa bisa lolos,” ujarnya.

Meski begitu, Prof. Theddeus meminta masyarakat tidak langsung menggeneralisasi kasus ini sebagai gambaran dunia riset Indonesia secara keseluruhan. Ia menegaskan: “Pelanggaran etik bisa terjadi di negara maju sekalipun. Itu dilakukan oleh oknum,” sehingga Indonesia tidak perlu merasa rendah diri atas laporan tersebut.

Kasus ini menyoroti pentingnya mekanisme pengawasan etika di kalangan akademisi dan perlunya transparansi dalam proses seleksi dan pemberian dana riset. MGBKI akan terus memantau perkembangan situasi ini dan menegaskan komitmen terhadap integritas ilmiah.

MGBKITravel GrantAI palsuEtik akademikIntegritas ilmiahKonferensi internasionalSeleksi paper

Komentar

Memuat komentar...