Moody’s Ancam BYAN, Prospek Jadi Negatif

Bima J. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Moody’s Ancam BYAN, Prospek Jadi Negatif

Gambar atau konten salah?

Moody's Ratings baru saja mengumumkan keputusan penting terkait PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Lembaga pemeringkat internasional ini mempertahankan peringkat keluarga korporasi atau Corporate Family Rating (CFR) BYAN di level Ba1. Namun, ada perubahan signifikan pada outlook atau prospek perusahaan tambang batu bara tersebut. Moody's mengubah outlook BYAN dari yang sebelumnya stabil menjadi negatif.

Perubahan outlook ini bukan tanpa alasan. Moody's mengaitkannya langsung dengan situasi force majeure yang sedang dihadapi BYAN. Kondisi darurat ini dipicu oleh belum terbitnya persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026.

Anthony Prayugo, Asisten Wakil Presiden Moody's Ratings, menjelaskan dalam keterangan tertulisnya pada Minggu, 20 September 2026, bahwa prospek negatif ini mencerminkan ketidakpastian regulasi. Ketidakpastian itu khususnya terkait alokasi kuota produksi. Hal inilah yang mendorong Bayan untuk menyatakan keadaan kahar. Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, kata Prayugo, ketidakpastian tersebut bisa membatasi produksi dan pada akhirnya membebani pendapatan perusahaan.

Meskipun outlooknya negatif, Moody's tetap mengakui kekuatan fundamental BYAN. Metrik kredit perusahaan dinilai masih kuat. Salah satu faktor pendukungnya adalah neraca keuangan yang sehat, di mana perusahaan tercatat bebas dari utang. Namun, di sisi lain, ketidakpastian soal persetujuan kuota produksi masih menjadi bayang-bayang. Risiko ini dinilai dapat menghambat kemampuan Bayan untuk meningkatkan produksinya di masa depan. "Ketidakpastian yang berkelanjutan seputar persetujuan kuota menimbulkan risiko penurunan terhadap kemampuannya untuk mencapai pertumbuhan produksi," tegas Prayugo.

Sebagai informasi, BYAN mengumumkan status force majeure setelah RKAB perusahaan belum mendapatkan persetujuan dari pemerintah. RKAB yang dimaksud disebut memuat revisi ke atas untuk kuota produksi pertambangan tahunan BYAN. Tanpa adanya revisi kuota ini, produksi BYAN diprediksi akan turun drastis. Pada tahun 2026, produksi diperkirakan hanya sekitar 39 juta metrik ton (MT), turun jauh dari perkiraan produksi tahun 2025 yang mencapai sekitar 68 juta MT.

Bahkan jika kuota nantinya dinaikkan, ketidakpastian proses persetujuan RKAB tetap menjadi masalah. Situasi ini membuat kemampuan BYAN untuk mendapatkan alokasi produksi yang dibutuhkan menjadi kurang pasti. Akibatnya, upaya perusahaan untuk meningkatkan produksi menuju kapasitas penuh sekitar 80 juta MT dalam beberapa tahun ke depan bisa terhambat. Lebih dari itu, ketidakpastian ini juga membatasi ruang gerak perusahaan dalam merencanakan produksi, memenuhi komitmen pengiriman ke pelanggan, serta mencapai target pertumbuhan pendapatan dan arus kas seperti yang sebelumnya diperkirakan.

Moody's juga telah membuat proyeksi keuangan jika revisi kuota tidak kunjung disetujui. Dalam skenario tersebut, EBITDA Bayan diperkirakan turun menjadi sekitar US$ 700 juta pada tahun 2026. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan EBITDA tahun 2025 yang mencapai sekitar US$ 1,1 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh volume penjualan yang lebih rendah. Jika produksi tetap stagnan di sekitar 39 juta MT pada tahun 2027, dampaknya akan lebih parah. EBITDA diperkirakan kembali turun drastis menjadi sekitar US$ 400 juta hingga US$ 500 juta. Perkiraan ini menggunakan asumsi harga jual rata-rata yang lebih rendah, yaitu US$ 48 per MT, di bawah harga jual yang diperkirakan pada tahun 2026.

Dalam skenario terburuk ini, pendapatan perusahaan akan tetap jauh di bawah ekspektasi awal Moody's. Sebelumnya, Moody's memperkirakan pendapatan tahunan sekitar US$ 1 miliar, dengan asumsi pertumbuhan produksi yang berkelanjutan menuju kapasitas penuh perusahaan sebesar 80 juta MT. Situasi ini menunjukkan betapa besarnya dampak ketidakpastian regulasi terhadap prospek bisnis dan keuangan Bayan Resources ke depannya.

peringkat Ba1outlook negatifforce majeureRKABBayan Resourcesketidakpastian regulasikuota produksi

Komentar

Memuat komentar...