Peternak Buka Suara soal Harga Ayam Mahal
Gambar atau konten salah?
Harga daging ayam di pasar saat ini memang naik. Tapi peternak minta jangan langsung disalahkan begitu saja.
Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) buka suara. Mereka bilang, harga pokok produksi (HPP) sebenarnya sudah naik sejak lama. Bahkan sejak harga ayam di kandang sedang anjlok sekalipun.
Ketua Umum Permindo, Kusnan, menjelaskan harga ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak sekarang sekitar Rp 25.000 per kilogram. Menurutnya, harga ini masih wajar. Soalnya biaya produksi atau HPP peternak ada di kisaran Rp 23.500 sampai Rp 24.000 per kilogram.
Sementara itu, harga karkas ayam di beberapa pasar bisa tembus lebih dari Rp 40.000 per kilogram. Kusnan bilang, ada selisih yang cukup jauh antara harga jual dari kandang dengan harga di pasar.
"Jangan sampai masyarakat melihat harga ayam Rp 40.000 di pasar kemudian menyalahkan peternak. Harga di kandang Rp 25.000/kg tidak otomatis menjadi Rp 40.000/kg di tangan konsumen. Ada rantai setelah peternak yang harus dibuka secara transparan," kata dia dalam keterangannya, Sabtu (19 September 2026).
Menurut Kusnan, pemerintah perlu tahu secara jelas komponen biaya dan margin di setiap mata rantai. Mulai dari biaya pemotongan, transportasi, cold chain, pedagang, distributor, sampai trader atau broker.
Dengan begitu, bisa ketahuan di titik mana pembentukan harga terbesar terjadi. Kalau kenaikan harga terutama terjadi setelah ayam keluar dari kandang, menekan harga di tingkat peternak bukanlah solusi.
Permindo juga menilai kondisi peternak saat ini perlu diperhitungkan. Harga DOC (anak ayam) ada di kisaran Rp 8.000 sampai Rp 8.500 per ekor. Sementara harga pakan sekitar Rp 9.500 sampai Rp 10.000 per kilogram.
Di sisi lain, peternak juga menanggung biaya tenaga kerja, listrik, obat, vaksin, sekam, transportasi, hingga modal. Biaya-biaya ini tidak otomatis turun ketika harga ayam di pasar melemah. Karena itu, harga ayam hidup sekitar Rp 25.000/kg dengan HPP Rp 23.500-24.000/kg dinilai masih memberikan ruang margin yang terbatas bagi peternak.
Kalau harga ayam hidup jatuh di bawah HPP secara berulang, peternak berpotensi mengurangi populasi atau menghentikan usaha. Kondisi ini pada akhirnya bisa mempengaruhi pasokan ayam di pasar.
Permindo meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan tidak hanya memantau harga ayam di pasar. Pengawasan perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Rantai yang perlu ditelusuri meliputi peternak, pengepul atau trader, rumah potong hewan unggas (RPHU), distributor, pedagang, sampai konsumen.
Selain itu, peternak minta pemerintah mencatat harga beli, biaya yang dikeluarkan, harga jual, dan margin di setiap mata rantai. Kalau ditemukan biaya distribusi yang tinggi, pemerintah bisa mengevaluasinya. Begitu juga jika rantai distribusi terlalu panjang atau ditemukan margin yang tidak wajar.
"Jangan langsung menekan harga di kandang hanya karena harga di pasar tinggi," ucapnya.
Permindo juga mendorong pemerintah menelusuri dugaan praktik perdagangan yang tidak sehat berdasarkan data. Penelusuran ini perlu mencakup seluruh rantai industri. Mulai dari jagung sebagai bahan baku pakan, pabrik pakan, DOC, peternak, ayam hidup, RPHU, distributor, hingga pasar.
Yang menarik dari semua ini, peternak sebenarnya tidak menikmati harga tinggi di pasar. Margin mereka tipis. Kalau harga ditekan terus, mereka bisa berhenti beternak. Dan kalau itu terjadi, pasokan ayam di pasar justru bisa terganggu. Jadi tekanan harga di tingkat konsumen bukan berasal dari peternak, melainkan dari rantai distribusi yang panjang dan belum transparan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait