Muharram: Bulan Pertama, Waktu Refleksi Islam, Puasa

Dani L. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Muharram: Bulan Pertama, Waktu Refleksi Islam, Puasa

Gambar atau konten salah?

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah, sekaligus salah satu dari empat bulan haram yang memiliki status suci. Menjadi penanda pergantian tahun Islam, bulan ini sering dipandang sebagai waktu yang tepat untuk menilai diri dan memperbaiki perbuatan.

Menurut Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36) Empat bulan haram tersebut meliputi Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Allah SWT juga menyebut Muharram sebagai syahrullah atau bulan Allah. Nabi Muhammad SAW menegaskan hal ini dalam hadits: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Malam apakah yang lebih baik dan bulan apakah yang lebih utama?' Beliau menjawab: 'Sebaik‑baik malam adalah pertengahannya. Bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian sebut Muharram.' (HR An‑Nasa'i)

Hari 10 Muharram dikenal sebagai Hari Asyura. Hadits lain menegaskan pentingnya hari ini: “Sesungguhnya Asyura merupakan hari diantara hari‑hari Allah.” (HR Muslim) Pada hari ini, Nabi SAW melihat orang Yahudi berpuasa, lalu beliau memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa Asyura, menegaskan nilai kebajikan hari tersebut.

Berikut beberapa keutamaan dan amalan yang dianjurkan di bulan Muharram:

  • Berpuasa – Terdapat puasa sunnah yang dapat diamalkan, seperti Puasa Tasu'a (9 Muharram), Puasa Asyura (10 Muharram), Puasa Ayyamul Bidh (28, 29, dan 30 Muharram), Puasa Senin (22, 29 Muharram dan 6, 13 Juli 2026), serta Puasa Kamis (18, 25 Muharram dan 2, 9 Juli 2026).
  • Berdzikir – Mengingat Allah dengan takbir, tahlil, tasbih, dan istighfar. Al-Qur’an mengingatkan: “Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berdzikirlah kepada Allah.” (An‑Nisa’: 103)
  • Tadarus Al‑Qur’an – Membaca Al‑Qur’an secara rutin, baik sendiri maupun bersama, untuk memperdalam pemahaman dan menjaga hafalan.
  • Bertaubat – Memperbanyak istighfar dan memohon ampunan Allah. Hadits menyatakan: “Jika engkau ingin berpuasa setelah Ramadan, maka berpuasalah pada bulan Muharram. Sesungguhnya bulan tersebut adalah bulan Allah dan pada bulan itu terdapat satu hari di mana ketika suatu kaum bertobat, Allah juga menerima tobat kaum yang lain.” (HR Tirmidzi)

Di samping amalan positif, bulan Muharram juga menekankan larangan tertentu. Berikut beberapa larangan yang harus dihindari:

  • Larangan berperang – Umat Islam dilarang memulai peperangan pada bulan haram. Namun, beberapa pendapat memperbolehkan berdasarkan peristiwa sejarah, seperti pengepungan Taif oleh Rasulullah SAW.
  • Larangan berbuat aniaya terhadap diri sendiri – Surah At‑Taubah ayat 36 menegaskan bahwa perbuatan menganiaya diri sendiri dilarang, karena dosa di bulan haram dianggap lebih berat.
  • Larangan maksiat – Maksiat dianggap sebagai perbuatan zalim. Surah Asy Syura ayat 40 menegaskan bahwa balasan keburukan adalah keburukan yang setimpal, namun pemaafan dan perbaikan dapat memperoleh pahala.
  • Larangan balas dendam – Menekankan pentingnya menahan dendam dan fokus pada ibadah haji serta umrah.

Keutamaan bulan ini terletak pada kesempatan untuk memperbaiki diri. Umat Islam dianjurkan menggunakan pergantian tahun sebagai titik balik untuk merenungkan perbuatan tahun lalu dan merencanakan perbaikan. Amalan seperti berpuasa, berdzikir, tadarus, dan bertaubat menjadi sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam konteks sejarah, Nabi SAW memerintahkan puasa Asyura setelah melihat orang Yahudi berpuasa pada hari itu. Ia menegaskan: “Saya lebih layak dengan Nabi Musa dibandingkan kalian.” (HR Bukhari) Peristiwa ini menegaskan nilai kebajikan hari Asyura dalam tradisi Islam.

Selain amalan, larangan-larangan di bulan Muharram mengingatkan umat untuk menghindari konflik, perbuatan yang merugikan diri sendiri, maksiat, dan balas dendam. Hal ini sejalan dengan tujuan bulan haram sebagai waktu untuk menenangkan hati dan memfokuskan diri pada ibadah.

Berpuasa pada bulan Muharram tidak hanya sekadar menahan lapar, melainkan juga mengekspresikan kesungguhan hati. Puasa Tasu'a pada 9 Muharram, Asyura pada 10 Muharram, serta puasa Ayyamul Bidh pada 28, 29, dan 30 Muharram menjadi contoh konkret bagaimana umat dapat menyalurkan energi spiritual.

Berzikir, di sisi lain, memperkuat hubungan dengan Tuhan. Mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik saat berdiri, duduk, maupun berbaring, membantu menjaga konsentrasi spiritual. Hadits mengingatkan bahwa berdzikir adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Tadarus Al‑Qur’an dapat diadakan secara individu maupun kelompok. Membaca Al‑Qur’an bersama menambah rasa kebersamaan dan memperdalam pemahaman teks suci.

Bertaubat merupakan langkah penting. Mengakui kesalahan, memohon ampunan, dan berjanji tidak mengulanginya menandai perbaikan hati. Hadits mengajarkan bahwa bulan Muharram adalah waktu yang tepat untuk memohon ampunan Allah.

Larangan berperang menegaskan bahwa bulan haram adalah waktu yang tidak sesuai untuk memulai konflik. Meskipun ada pendapat yang berbeda, prinsip utama tetap menjaga perdamaian.

Larangan berbuat aniaya terhadap diri sendiri mengingatkan bahwa setiap tindakan yang merugikan diri sendiri tidak dapat diterima. Dosa di bulan haram dianggap lebih berat, sehingga umat harus berhati-hati.

Larangan maksiat menegaskan bahwa perbuatan maksiat dianggap sebagai perbuatan zalim. Namun, pemaafan dan perbaikan dapat menghapus dosa dan memperoleh pahala.

Larangan balas dendam menekankan pentingnya menahan dendam dan fokus pada ibadah haji serta umrah. Hal ini membantu umat menjaga hati dari kebencian.

Keutamaan bulan Muharram, amalan yang dianjurkan, dan larangan yang harus dihindari semuanya berfokus pada tujuan yang sama: memperbaiki diri, menjaga hubungan dengan Allah, dan memelihara kedamaian dalam diri.

Dengan memahami nilai-nilai ini, umat dapat memanfaatkan bulan Muharram sebagai waktu yang penuh makna untuk introspeksi, perbaikan, dan penguatan iman.

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker.

Bulan MuharramHari AsyuraPuasa Tasu'aTadarus Al‑Qur’anBerdzikirLarangan PerangKeutamaan Islam

Komentar

Memuat komentar...