Nasib Mahasiswa RI di Iran Terancam Karena Perang dan Libur Nasional
Gambar atau konten salah?
Perang antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran saat ini mempengaruhi kegiatan perkuliahan mahasiswa Indonesia di Iran. Kegiatan belajar mengajar telah dihentikan, dan banyak mahasiswa yang sudah dievakuasi kembali ke Tanah Air. Salah satu mahasiswa, Hukam (25), yang belajar Sejarah Peradaban Islam di Ahlul Bayt Internasional University, Teheran, mengungkapkan bahwa aktivitas akademik sudah terhenti sejak awal Ramadan.
"Proses belajar terputus sejak perang dimulai pada tanggal 2 Ramadan," ungkapnya saat ditemui di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 10 Maret 2026. Hukam mengaku tidak tahu kapan perkuliahan akan dilanjutkan, mengingat situasi keamanan yang masih tidak menentu. Ia berharap ada kebijakan dari kementerian terkait agar pendidikan bisa dilanjutkan.
Ketidakstabilan yang terjadi di Iran membuat keadaan mahasiswa Indonesia semakin rumit. Selain masalah keamanan, pemerintah Iran juga memberlakukan libur nasional selama tujuh hari dan masa berkabung selama 40 hari untuk mengenang Ali Khamenei. Kondisi ini semakin memperburuk situasi akademik di negara tersebut.
Warga negara Indonesia lainnya, Jawad (26), menjelaskan bahwa saat ini semua bank dan sekolah di Iran tutup. "Masyarakat Iran lebih fokus pada situasi konflik dan peringatan wafatnya pemimpin tertinggi," katanya. Aktivitas akademik di kota besar seperti Teheran telah berhenti total.
Masalah lain yang dihadapi oleh mahasiswa adalah terhambatnya akses komunikasi. Jawad melaporkan bahwa jaringan internet diputus oleh pihak berwenang sejak serangan militer dimulai. "Sejak serangan pertama pada tanggal 28 Februari pukul 10 pagi, pemerintah Iran sudah memutus jaringan internet internasional. Aplikasi-aplikasi non-Iran seperti WhatsApp, Telegram, dan Facebook tidak bisa diakses," tuturnya.
Saat ini, mahasiswa Indonesia di Iran hanya bisa menunggu di Tanah Air sambil berharap ada solusi dari pemerintah setempat. Mereka ingin kembali ke Iran ketika situasi sudah aman, tetapi membutuhkan kepastian mengenai regulasi agar perkuliahan tidak terhambat. "Jika kondisi sudah aman dan statusnya membaik, insya Allah kami akan kembali," kata Jawad.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bagi mahasiswa dan keluarga mereka. Banyak yang berharap agar pemerintah dapat segera menemukan jalan keluar untuk memastikan pendidikan mereka tidak terganggu lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
