Nasikhin, Dari Sampah Jadi Doktor Cumlaude UIN Walisongo

Yuli S. · 2 min baca · 1 hari lalu · 23 dibaca
Bisik.id
Nasikhin, Dari Sampah Jadi Doktor Cumlaude UIN Walisongo

Gambar atau konten salah?

Nasikhin, yang dulu bekerja mengumpulkan sampah, baru saja menorehkan nama di dunia akademik. Ia lulus sebagai Doktor Studi Islam dengan IPK cumlaude 3,89. Pencapaian ini terjadi pada 10 Juni 2026, saat ia menerima gelar dari UIN Walisongo Semarang.

"Saudara Nasikhin dinyatakan lulus dengan IPK 3,89. Dengan ini, dinyatakan bahwa saudara Nasikhin adalah Doktor ke-409 yang diluluskan oleh UIN Walisongo Semarang," tegas Ketua Sidang Prof Musahadi. Kalimat tersebut menegaskan posisi beliau sebagai doktor ke-409 di kampus tersebut.

Sejak 2012 hingga 2017, Nasikhin bersama ibunya berkeliling desa mencari barang bekas. Ibunya sering membeli buku bekas kiloan seharga Rp 1.000, dan Nasikhin juga menerima buku gratis dari warga. Ia memanfaatkan waktu sebelum buku dijual untuk membaca, sehingga literasi dan minatnya pada pendidikan tumbuh.

Meski tidak mampu membayar kuliah, Nasikhin tetap bertekad. Ia memperoleh Beasiswa Bidikmisi di UIN Walisongo Semarang, yang memungkinkan ia menempuh pendidikan sarjana tanpa biaya. Setelah itu, ia melanjutkan S2 dengan Beasiswa Lulusan Sarjana Terbaik, lalu mendapatkan Beasiswa Indonesia Bangkit dari Kementerian Agama untuk melanjutkan S3.

Setelah S2, Nasikhin menjadi Dosen Luar Biasa di UIN Walisongo Semarang. Sejak 2022, ia telah mempublikasikan 131 karya ilmiah. Beberapa penelitian berkolaborasi dengan peneliti di Malaysia dan Thailand. Dari semua publikasi, 12 artikel terindeks Scopus (Q1, Q2, Q3) dan H‑Index Scopus 4 serta H‑Index Google Scholar 15.

Disertasi S3-nya berjudul Literasi Artificial Intelligence dan Implikasinya dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21 (Studi Kasus pada Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di UIN Walisongo Semarang dan UII Yogyakarta). Ia menyoroti pentingnya mahasiswa Pendidikan Agama Islam menguasai literasi AI agar tidak terjebak ketergantungan teknologi tanpa dasar epistemologis.

Perjalanan Nasikhin menunjukkan bahwa pendidikan dapat membuka pintu bagi siapa saja, bahkan bagi yang memulai dari posisi paling sederhana. Pencapaian akademisnya menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda yang ingin melampaui keterbatasan awal.

NasikhinUIN Walisongo SemarangBeasiswa BidikmisiLiterasi Artificial IntelligencePendidikan Agama IslamScopusH‑IndexDosen Luar Biasa

Komentar

Memuat komentar...