OJK Peringatkan Inflasi Terdorong Penutupan Selat Hormuz

Nurul H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
OJK Peringatkan Inflasi Terdorong Penutupan Selat Hormuz

Gambar atau konten salah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan tentang peningkatan inflasi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa inflasi dapat muncul karena gangguan jalur distribusi energi global akibat penutupan Selat Hormuz.

Selat Hormuz ditutup langsung oleh Iran sebagai salah satu “serangan” terhadap Amerika Serikat dan Israel. Selat tersebut menjadi salah satu tulang punggung logistik energi internasional.

Dian mengatakan kenaikan harga energi global dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya distribusi barang, termasuk tentu saja bahan baku dan pangan. Pada akhirnya inflasi akan meningkat.

“Hal ini tentu akan meningkatkan tekanan inflasi baik global maupun domestik,” kata Dian dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan, Senin, 06 April 2026.

Jika tekanan inflasi tersebut direspons dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, Dian menyatakan pertumbuhan ekonomi dapat terdampak. Hal ini mengakibatkan menurunnya konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi.

Dampak berikutnya adalah tekanan biaya hidup yang meningkat di tengah perlambatan permintaan, yang akan menyebabkan keuntungan korporasi tertekan dan meningkatkan risiko secara keseluruhan.

“Kenaikan harga energi dan tekanan inflasi ini dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi pada sektor usaha juga serta menurunkan profitabilitas perusahaan dan kemampuan membayar debitur serta daya beli masyarakat,” tambah Dian.

Selain itu, tekanan terhadap daya beli juga dapat meningkatkan risiko kredit pada segmen UMKM dan konsumsi yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Dari sisi perbankan, Dian menyatakan hal tersebut berpotensi meningkatkan potensi kenaikan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Dalam kondisi tersebut bank juga akan cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, sehingga dapat mempengaruhi dinamika pertumbuhan kredit dalam waktu dekat.

“Ini sudah pernah saya sampaikan di beberapa kesempatan dengan teman-teman media bahwa sebetulnya standar-standar keuangan kita itu kalau dibandingkan dengan international best practice sendiri sebetulnya kita jauh sekali di atas standar itu ya,” ujar Dian.

OJK menegaskan bahwa meski ada tantangan inflasi dan risiko kredit, struktur keuangan Indonesia tetap kokoh. Kewaspadaan terhadap perubahan harga energi dan kebijakan moneter akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi.

OJKinflasiSelat Hormuzenergi globalkebijakan moneterNPLUMKMstabilitas ekonomi

Komentar

Memuat komentar...