OJK Tak Perpanjang Debat Soal Singapura, Fokus Kerja Saja
Gambar atau konten salah?
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menanggapi pernyataan mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. Lutfi sebelumnya menyebut ada campur tangan Singapura di balik potensi penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market.
Perempuan yang akrab disapa Kiki ini memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan. Ia justru menegaskan fokus kerjanya sebagai regulator. "Kita kerja aja. Silahkan orang lain mengomentari. Silahkan orang berpikir sendiri. Tapi kita kerja aja," ujarnya singkat saat ditemui usai acara Ijtima' Sanawi di Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa 20 Oktober 2026.
Kiki menekankan bahwa pihaknya terus melakukan pembenahan dan penegakan hukum di pasar modal Indonesia. Hal ini juga sudah ia sampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. "Kemarin saya sampaikan juga abis kita juga sampaikan laporan kepada Bapak Presiden menyampaikan teruskan reformasi yang sangat baik. Kemudian tegakkan ketentuan dan enforcement terus," imbuhnya.
Ia juga bersyukur Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mengalami perbaikan. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG menguat 5,65% ke level 5.278,8 atau naik 282,27 poin. "Alhamdulillah sudah rebound. Sudah pada buyback, berarti market kita confident lah," jelasnya.
Sebelumnya, Lutfi mengungkapkan pandangannya bahwa ancaman penurunan status tersebut terjadi karena adanya campur tangan Singapura. Menurutnya, institusi investasi Singapura seperti Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC) memiliki pengaruh besar terhadap MSCI. Bahkan, ia mengaku mendapat informasi bahwa Rachel Goh dari GIC menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. Tujuannya untuk memicu kepanikan di pasar saham sehingga investor asing bisa kembali membeli saham Indonesia dengan harga murah.
Lutfi menilai status Standalone Market seharusnya diperuntukkan bagi negara yang menerapkan capital control atau pembatasan arus modal. Sementara menurutnya, hal ini tidak terjadi di Indonesia. "Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak. Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujarnya di Instagram pribadinya, Selasa 20 Oktober 2026.
Dari pernyataan kedua pihak, terlihat perbedaan cara pandang. Lutfi melihat adanya faktor eksternal yang memengaruhi penilaian pasar modal Indonesia. Sementara OJK memilih untuk fokus pada langkah perbaikan internal dan penegakan aturan. Reaksi pasar hari ini, dengan menguatnya IHSG, bisa menjadi indikator bahwa kepercayaan investor mulai pulih meskipun isu penurunan status masih bergulir.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI Ubah Aturan ARB untuk Saham Rp 11-Rp 14 Jadi Rp 1
IHSG Anjlok 3,64 Persen ke 4.996, BEI Keluarkan Saham HSC dari Indeks
IHSG Bangkit ke 5.000, Tapi Setahun Anjlok 41%
Dolar AS Melemah ke Rp18.024, Rupiah Menguat
Telkom Percepat Buyback Rp 4 Triliun, Sisa Dana Lebih Rp 3 Triliun
IHSG Bangkit, Tembus Lagi Level 5.000
