Perang Pandan Tenganan: Tradisi Daya Tarik Wisatawan
Gambar atau konten salah?
Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali, telah menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan ritual sakral yang hanya digelar setahun sekali. Masyarakat lokal dan pengunjung dari dalam maupun luar negeri menumpuk di area arena pada siang hari, bersaing untuk mendapatkan posisi terbaik menonton pertarungan daun pandan yang penuh warna.
Para fotografer dari berbagai daerah terlihat berusaha memposisikan diri di depan panggung, berharap bisa menangkap gambar paling dramatis ketika perang pandan dimulai. Sementara itu, beberapa penonton membawa bangku atau bahkan menggenggam teman mereka agar dapat melihat aksi dengan lebih jelas.
Di balik kegembiraan itu, persiapan matang dilakukan oleh para pemuda dan pemudi asli Tenganan Pegringsingan. Mereka mengumpulkan daun pandan berduri, kelapa muda, kuud, serta perlengkapan lain yang akan digunakan selama pertarungan. Semua persiapan ini dilakukan di puncak gunung setempat pada pagi hari, sebelum perang dimulai.
Ketika perang pandan dimulai, kerumunan menekan area arena. Penonton berbaris, menunggu setiap gerakan para peserta. Beberapa menonton dengan penuh antusias, menanggapi setiap pukulan daun pandan yang menembus udara. Suasana menjadi tegang namun tetap penuh rasa hormat.
“Saya sebenarnya sering ke sini sama tamu, tapi kalau untuk melihat tradisi perang pandan secara langsung baru pertama. Ini karena anak saya yang ingin melihat langsung,” kata Made Dwipayana, asal Kabupaten Badung, pada Rabu (10 Juni 2024). Ia mengakui bahwa para peserta benar-benar bertarung menggunakan daun pandan berduri, sehingga beberapa di antaranya mengalami luka.
Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan, I Putu Yudiana, menjelaskan bahwa tradisi perang pandan merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Indra, yang dipercaya sebagai Dewa Perang. Ritual ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari Usaba Sambah, rangkaian acara adat di desa.
Menurut kepercayaan setempat, perang dalam tradisi ini bukanlah pertarungan melawan musuh, melainkan simbol penghormatan dan tanggung jawab para remaja putra terhadap keluarga serta desa. Prosesinya dimulai ketika remaja putra dan putri naik ke puncak gunung di pagi hari, menghaturkan kelapa muda atau kuud. Selanjutnya, remaja putra mencari daun pandan yang akan digunakan, sementara remaja putri menyiapkan boreh, obat penawar untuk mengobati luka peserta.
Boreh dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka akibat duri pandan. Menurut kepercayaan, luka peserta akan mulai mengering dalam sehari dan sembuh total setelah satu minggu. Hal ini menambah nilai spiritual dan praktis dari ritual tersebut.
“Dalam tradisi perang pandan akan diikuti oleh para remaja putra mulai dari anak-anak hingga dewasa. Namun juga boleh diikuti oleh masyarakat luar Desa bahkan para wisatawan yang ingin ikut,” ucap Yudiana. Ia menegaskan bahwa partisipasi terbuka, sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman langsung.
Setelah pertarungan selesai, semua peserta saling merangkul tanpa menyimpan dendam. Mereka kemudian mengikuti tradisi megibung atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan. Kegiatan ini menegaskan nilai persatuan dan kedamaian yang menjadi inti dari ritual.
Yudiana menambahkan bahwa tahun ini menjadi kali kelima tradisi perang pandan disinkronkan dengan Tenganan Pegringsingan Culture Festival. “Ini tahun kelima tradisi perang pandan disinkronkan dengan festival. Semoga ini bisa lebih mengenalkan Desa Tenganan Pegringsingan secara lebih luas,” harap Yudiana. Festival ini tidak hanya menampilkan perang pandan, tetapi juga kuliner dan hiburan yang disediakan panitia.
Dengan segala persiapan, partisipasi terbuka, dan nilai budaya yang mendalam, tradisi perang pandan tetap menjadi peristiwa penting bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana adat dan kepercayaan dapat mempersatukan komunitas sekaligus menarik minat wisatawan yang ingin memahami warisan budaya Bali.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasi Jaha Manado: Hidangan Khas dengan Aroma Smoky dan Pedas
Kebakaran Bukit Sempana: 25 Pendaki Evakuasi, Tanpa Korban
Bandung Zoo Pindah Pengelola: Faunaland Kontrak 26 Tahun
PAHO Rilis Panduan Kesehatan bagi Wisatawan Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026: Dallas Rasakan Rp 32 Triliun Pendapatan
Fauna Land Ancol Pengelola Kebun Binatang Bandung 26 Tahun
Berita Terbaru
Perang Pandan Tenganan: Tradisi Daya Tarik Wisatawan
Spanyol Siap Hadapi Piala Dunia 2026: Kuat di Grup H
Suzuki Fronx Sport Diperkenalkan di Negeri Jiran Baru
Goodyear Minta Perpanjangan SNI Hingga Januari 2027
Inggris Menang 3-0 vs Costa Rica, Rice, Gordon, Watkins Gol
Leo & Daniel Kalah 16 Besar AO 2026, 15‑21, 18‑21 di Melb
Sabar/Moh Reza Raih 16 Besar, Masuk Perempatfinal OAS 2026