Pertumbuhan Uang Kartal Melambat, Masyarakat Beralih ke QRIS

Maya K. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pertumbuhan Uang Kartal Melambat, Masyarakat Beralih ke QRIS

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang kartal, baik uang kertas maupun logam, mulai melambat. Penyebabnya, semakin banyak masyarakat yang beralih ke Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Saat ini, jumlah pengguna QRIS sudah mencapai 67 juta orang. Angka itu kira-kira seperempat dari total penduduk Indonesia.

Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan uang kartal kini lebih banyak digunakan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Wilayah-wilayah itu, menurutnya, belum memiliki sinyal yang cukup untuk mengakses layanan QRIS.

"Kalau kita lihat, (penggunaan uang kartal) memang masih tumbuh tapi mulai terus melambat. Kenapa? Karena Indonesia ini kan sangat luas. Dan wilayahnya kan sangat pulau-pulau kita ada daerah-daerah yang terdepan, terluar gitu kan. Tentunya ini kan mereka juga masih butuh uang-uang cash. Mungkin juga ada, mungkin sinyal masih belum semuanya kan juga masih ada beberapa yang di blank spot," ungkap Destry kepada wartawan di JCC Senayan, Jakarta, Kamis 24 September 2026.

Destry menjelaskan, tren pembayaran saat ini semakin bergeser ke sistem digital melalui QRIS. Peralihan itu membuat penggunaan uang kartal semakin terbatas.

"Jadi tentu saja kalau kita lihat karena banyak menggunakan sistem digital, sehingga penggunaan cash kan terbatas. Nah, jadi kita bisa lihat di beberapa event kalau kita sekarang belanja di pasar itu mereka lebih suka pakai QRIS kan ketimbang menggunakan cash," jelas Destry.

Meski begitu, Destry tetap menekankan bahwa uang kartal masih sah sebagai alat transaksi. Ia mengimbau seluruh pelaku usaha untuk tetap menerima pembayaran dengan uang kertas maupun logam.

"Kita tetap tidak melarang orang kalau menggunakan cash, karena tetap bahwa payment di kita ini kan ada digital atau melalui cash. Jadi, buat para merchant juga walaupun ada yang memang mereka ingin bayar cash ya mereka harus bisa menerima. Tapi faktanya preferensi masyarakat memang sekarang mengarah kepada digital payment," pungkas Destry.

Data BI menunjukkan bahwa adopsi QRIS terus meningkat pesat. Namun, infrastruktur digital belum merata di seluruh Indonesia. Wilayah terdepan dan terluar masih menghadapi kendala sinyal. Akibatnya, uang tunai tetap menjadi pilihan utama di daerah-daerah tersebut. BI sendiri tidak melarang penggunaan uang kartal. Lembaga itu justru memastikan bahwa uang kertas dan logam tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah. Para pedagang pun diminta untuk tidak menolak pembayaran tunai. Meskipun demikian, tren jangka panjang menunjukkan pergeseran perlahan dari uang fisik ke sistem pembayaran digital.

QRISuang kartalpertumbuhan melambatdigital paymentinfrastruktur sinyaldaerah terluar

Komentar

Memuat komentar...