Produktivitas Padi Petani Indramayu Naik 11 Ton per Hektare

Nita W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Produktivitas Padi Petani Indramayu Naik 11 Ton per Hektare

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Jatisura, Indramayu, program pendampingan dan bantuan sektor pertanian dari Pertamina EP Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat, melalui Pertamina EP Jatibarang Field, berhasil mendongkrak produktivitas panen padi para petani binaan. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2025 lalu dan kini memasuki masa panen yang kedua.

Noor Taufiq, Officer Communication Relation & CID PT Pertamina EP Zona 7, menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah operasi mereka, khususnya di Pertamina EP Jatibarang Field, bergantung pada lahan pertanian. "Masyarakat yang berada di wilayah operasi kami, khususnya di Pertamina EP Jatibarang Field, 90%-nya bersinggungan dengan lahan pertanian. Sehingga ini merupakan salah satu concern kami bagaimana kita bisa berdaya bersama, bersinergi di mana ketahanan pangan dan ketahanan energi," kata Taufiq di Desa Jatisura, Indramayu, pada Rabu, 23 September 2026.

Sebelum program ini dimulai, lahan sawah tadah hujan milik warga di kawasan tersebut memiliki produktivitas yang sangat rendah. Rata-rata, sawah hanya bisa dipanen satu kali dalam setahun. Kondisi ini mendorong Pertamina untuk melakukan uji laboratorium terhadap kadar unsur hara yang terkandung dalam tanah di lahan sawah, bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran.

"Ketika pertama kali kami mendengar dari kelompok tani, kelompok masyarakat dari para petani di Desa Jatisura, kondisi unsur haranya memang sudah 'sakit', yang tadinya ditanami 2 kali setahun itu nggak bisa. Nah, makanya pertama kali yang kita lakukan, yang kita cek itu adalah unsur hara dengan melalui laboratorium yang berada di Universitas Padjadjaran," ujar Taufiq.

Dari hasil laboratorium, mereka bisa mengetahui elemen mana yang kurang dan elemen mana yang masih cukup baik. "Dari lab itu kita tahu kandungan eh dari kandungan unsur hara elemen mana yang memang kurang dan elemen mana yang masih cukup baik. Di sanalah kita bisa melakukan proporsionalisasi pupuk," jelas Taufiq lagi.

Selain itu, Pertamina juga membangun lima titik sumur bor untuk meningkatkan pengairan lahan pertanian. Mereka juga memberikan bantuan pengaplikasian agen hayati Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), serta memasang Rumah Burung Hantu (Rubuha) untuk mengendalikan serangan hama tikus secara alami.

Langkah penanganan komprehensif tersebut terbukti memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan volume panen petani. Rata-rata produksi yang sebelumnya 6,5 ton per hektare, kini menjadi 8,5 hingga 11 ton per hektare. Keberhasilan ini juga mendorong peningkatan frekuensi panen dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun, sekaligus menekan biaya perawatan tanaman.

"Rata-rata produksi yang sebelumnya kami dampingi itu di 6,5 ton, saat ini kelompok tani pada saat panen, produksi GKP, gabah kering panennya itu di angka 8,5 sampai 11 ton bahkan," terang Taufiq.

Program yang pada awalnya dilakukan sebagai uji coba pada lahan pertanian seluas satu hektar dengan sepuluh petani kini terus berkembang luas. Pada musim tanam kedua, Pertamina EP Jatibarang Field telah mendampingi sekitar 60 petani yang terbagi ke dalam enam kelompok tani di Desa Jatisura dengan total luas lahan garapan mencapai 114 hektar.

"Kalau sampai kapan program ini dijalankan, ya harapan kami ketika ilmu ini sudah bisa kita transfer kepada masyarakat dan ketika ada bukti yang nyata," ucap Taufiq.

"Kita melihat dari musim tanam pertama itu baru 10 orang. Kemudian di musim tanam kedua, ketika melihat hasil di musim tanam pertama, yang 10 orang ini tuh dengan biaya perawatan yang rendah tapi dengan hasil yang ternyata 30 - 50% lebih tinggi, sehingga di musim tanam kedua banyak juga kelompok tani yang siap untuk beralih," pungkasnya.

Program ini menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis data dan kolaborasi dengan institusi pendidikan dapat mengatasi masalah produktivitas pertanian. Dari lahan yang dianggap "sakit" karena kekurangan unsur hara, kini para petani bisa menikmati hasil panen yang jauh lebih baik. Keberhasilan ini juga mendorong petani lain untuk ikut serta, membuktikan bahwa perubahan nyata bisa dimulai dari langkah kecil yang terukur.

Pertaminapendampingan pertanianproduktivitas padiunsur harapanen meningkatIndramayuketahanan pangan

Komentar

Memuat komentar...