IHSG Terkoreksi, Asing Net Sell Rp510 M

Rini S. · 4 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
IHSG Terkoreksi, Asing Net Sell Rp510 M

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah pada perdagangan Senin, 21 September 2026. Indeks turun 0,88 persen ke posisi 6.384,73. Tekanan jual masih mendominasi, terutama dari investor asing yang mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp503,12 miliar di pasar reguler. Secara keseluruhan, nilai net sell asing mencapai Rp510,07 miliar di seluruh pasar.

Dari 11 sektor yang diperdagangkan, delapan sektor berakhir di zona merah. Sektor Infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 1,38 persen. Sementara itu, sektor Transportasi justru mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,55 persen.

Beberapa saham bergerak berlawanan arah. Saham MPRO naik 3,64 persen, COIN melonjak 12,58 persen, dan TPIA bertambah 2,45 persen. Di sisi lain, saham BYAN turun 5,06 persen, BBCA terkoreksi 1,19 persen, dan TLKM melemah 2,34 persen.

Penurunan IHSG dipengaruhi oleh koreksi saham BYAN. Saham tersebut mengalami aksi ambil untung setelah sebelumnya melonjak 19,96 persen pada Jumat, 18 September 2026. Pergerakan BYAN memberikan tekanan sebesar 11,41 poin terhadap IHSG.

Sentimen regional juga ikut mempengaruhi. FTSE baru saja menaikkan status Vietnam menjadi Secondary Emerging Market yang mulai berlaku pada 21 September 2026. Perubahan ini memicu kekhawatiran akan potensi pergeseran alokasi dana asing dari Indonesia ke Vietnam. Pada perdagangan yang sama, indeks ETF EIDO turun 0,88 persen, sementara MSCI Indonesia melemah 1,13 persen.

Berbeda dengan pasar saham Indonesia, bursa Amerika Serikat justru ditutup menguat. Dow Jones naik 0,71 persen ke 52.048, S&P 500 bertambah 1,49 persen ke 7.764, dan Nasdaq menguat 2,26 persen ke 27.122.

Kinerja Amman Mineral Internasional (AMMN)

Emiten tambang PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat perubahan kinerja signifikan pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$497,93 juta. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, AMMN masih mencatat rugi sebesar US$148,72 juta.

Kinerja tersebut berjalan seiring dengan penjualan bersih yang naik 1.024,02 persen secara tahunan menjadi US$2,05 miliar. Sebagai perbandingan, penjualan bersih pada semester I 2025 hanya sebesar US$182,59 juta.

Pertumbuhan penjualan didukung oleh peningkatan volume produksi, membaiknya kadar bijih Fase 8, serta kenaikan harga komoditas. Perbaikan kadar bijih tersebut turut membuat AMMN memperbarui target produksi emas dalam konsentrat untuk 2026. Panduan produksi dinaikkan 34 persen menjadi 775 koz dari sebelumnya 579 koz.

AMMN juga menetapkan target baru untuk produksi katoda tembaga sebesar 130 kt dan emas murni sebesar 350 koz. Pembaruan ini dilakukan setelah smelter perseroan memperoleh Project Acceptance Certificate (PAC) pada 24 Juli 2026.

Dari sisi sumber daya, data terbaru Joint Ore Reserves Committee (JORC) per 30 Juni 2026 menunjukkan cadangan bijih Batu Hijau mencapai 777 juta ton. Angka tersebut meningkat dari 705 juta ton per 31 Desember 2024. Cadangan bijih Elang juga meningkat menjadi 2,58 miliar ton, dibandingkan 2,52 miliar ton pada akhir 2024.

AMMN menargetkan proyek Elang memasuki tahap Final Investment Decision (FID) pada 2027. Sementara itu, produksi bijih pertama diperkirakan berlangsung sekitar 2031 atau 2032. Dalam pengembangannya, perseroan berencana memanfaatkan sebagian besar infrastruktur yang sudah tersedia.

Perkembangan Bayan Resources (BYAN)

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mendapat persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tiga anak usahanya. Melalui persetujuan tersebut, BYAN memperoleh tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15 juta hingga 20 juta ton.

Persetujuan perubahan RKAB ini menjadi perkembangan penting bagi rencana produksi perseroan. Sebelumnya, belum terbitnya RKAB sempat menimbulkan keterbatasan produksi dan membuat BYAN menyampaikan pemberitahuan force majeure.

Tambahan kuota tersebut juga berkaitan dengan proyeksi volume produksi 2026. Moody's sebelumnya memperkirakan produksi BYAN hanya sekitar 39 juta ton pada 2026 apabila perubahan kuota tidak disetujui. Sebagai pembanding, produksi perseroan pada 2025 berada di kisaran 68 juta ton.

Di sisi lain, rencana PT Jhonlin Baratama untuk mengakuisisi 10 miliar saham BYAN atau sekitar 30 persen kepemilikan masih menunggu persetujuan Kementerian ESDM. Hal ini berkaitan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 dan Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 yang mengatur bahwa pemegang IUP/IUPK tidak dapat mengalihkan kepemilikan saham tanpa izin dari menteri.

Dividen Indonesia Fibreboard Industry (IFII)

PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII) menetapkan dividen tunai interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp5 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai sekitar Rp47,06 miliar.

Keputusan tersebut sejalan dengan catatan laba periode berjalan IFII sebesar Rp78,12 miliar pada semester I 2026. Per 30 Juni 2026, perseroan memiliki saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp453,72 miliar dengan total ekuitas mencapai Rp1,41 triliun.

Dengan nilai dividen tersebut, rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio IFII mencapai 60,24 persen dari laba periode berjalan semester I 2026.

Saham IFII pada perdagangan Senin, 21 September 2026 ditutup di level Rp212 per saham, naik 0,95 persen. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim Rp5 per saham setara dengan dividend yield 2,36 persen.

Investor yang tercatat berhak atas dividen untuk pasar reguler dan negosiasi harus tercatat hingga cum date pada 28 September 2026. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 15 Oktober 2026.

Rekomendasi Saham

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

  • IRSX - Beli di kisaran 448-452, target harga 460-470, stop loss di 426
  • BIPI - Beli di kisaran 147-149, target harga 153-156, stop loss di 140
  • BULL - Beli di kisaran 398-402, target harga 410-416, stop loss di 380
  • TRIN - Beli di kisaran 394-398, target harga 408-416, stop loss di 376
  • MAPA - Beli di kisaran 690-700, target harga 710-720, stop loss di 655

Perlu diingat bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Secara keseluruhan, pelemahan IHSG pada hari ini dipengaruhi oleh aksi ambil untung pada saham BYAN serta kekhawatiran pergeseran alokasi dana asing setelah FTSE menaikkan status Vietnam. Di sisi lain, beberapa emiten seperti AMMN dan IFII justru mencatatkan perkembangan positif dari sisi kinerja keuangan dan kebijakan dividen.

IHSGmelemahnet sell asingBYANAMMNdividenFTSE Vietnam

Komentar

Memuat komentar...