Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro

Ika P. · 2 min baca · 1 jam lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro

Gambar atau konten salah?

Rakhmad Basuki lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang gemar olahraga, namun sepak bola menjadi satu-satunya kegiatan yang dilarang oleh orang tuanya. “Saya lahir dan besar di lingkungan yang semua keluarga saya penyuka olahraga. Tapi orang tua saya, terutama bapak, sangat melarang salah satu olahraga yang sangat berisiko yaitu sepak bola,” ujarnya.

Sejak kecil, Rakhmad sudah menunjukkan ketertarikan pada bola. Ia sering menolak larangan orang tua dan menanggung risiko marah atau dipukul ketika pulang. “Ketika saya menginjak sekolah dasar, tiba-tiba saya sangat mencintai sepak bola. Meskipun sempat dilarang oleh orang tua, tetapi tetap saya melakukan itu dengan risiko ketika pulang pasti dimarahi, bahkan tidak jarang juga dipukul,” ia mengakui.

Keputusan besar datang ketika ayahnya meninggal saat Rakhmad masih di kelas satu SMA. Kematian itu menimbulkan rasa kehilangan mendalam, sekaligus menjadi titik balik dalam hidupnya. “Tapi saya selalu mengabaikan apa yang dilarang bapak saya sepak bola. Saya ikut salah satu klub di Pamekasan yaitu Hizbul Wathon. Saya masuk di klub itu saat kelas 2 SMA, artinya sangat terlambat sebagai pesepak bola. Itu pun karena saat kelas 1 SMA bapak saya meninggal,” ia ceritakan.

Setelah bergabung dengan Hizbul Wathon, Rakhmad melanjutkan perjalanan karirnya di klub yang lebih besar, Persepam Pamekasan. “Hingga akhirnya saya merasa, ya sudahlah, bismillah saya tekuni sepak bola sampai akhirnya pelan‑pelan bisa menjadi pesepak bola yang bisa bermain untuk Persepam, salah satu klub yang menjadi kebanggaan saya,” ia menambahkan.

Di Persepam, ia tidak memiliki posisi tetap. Pada awalnya ia bermain sebagai striker karena ingin mencetak gol. Namun, seiring waktu, ia beralih ke winger dan gelandang tengah, hingga akhirnya menemukan kenyamanan di posisi gelandang bertahan. “Kalau awal posisi bermain saya adalah striker karena saya suka mencetak gol. Namun pelan‑pelan saya pindah ke winger, ke gelandang, hingga akhirnya saya sangat menyukai posisi di gelandang bertahan,” jelasnya.

Persepam menjadi satu-satunya klub profesional yang ia bela. Ia memutuskan pensiun pada tahun 2005 setelah bermain di divisi satu. “Terakhir saya bermain itu tahun 2005 di divisi satu. Itu saya berhenti sebagai pemain dan kemudian mengikuti kursus lisensi D di Sidoarjo,” ungkapnya.

Setelah pensiun, Rakhmad memulai lembaran baru sebagai pelatih. Ia mengikuti kursus lisensi D di Sidoarjo, kemudian naik ke level berikutnya. Selama empat tahun terakhir, ia dipercaya sebagai asisten pelatih Madura United dan dua kali menjabat sebagai juru taktik interim, berhasil menyelamatkan klub dari degradasi. “Pilihannya untuk melanjutkan karier sebagai pelatih perlahan membawa Rakhmad naik level,” ia menjelaskan.

Kini, Rakhmad berencana meningkatkan kualitas kepelatihannya dengan mengikuti kursus lisensi AFC Pro. Langkah ini menunjukkan komitmennya untuk terus berkembang dan berkontribusi pada sepak bola Indonesia.

Perjalanan Rakhmad Basuki menggambarkan tekad dan ketekunan. Dari larangan orang tua hingga menjadi pelatih di klub papan atas, ia menunjukkan bahwa kegigihan dapat mengatasi rintangan. Keputusan untuk terus belajar, meskipun sudah berpengalaman, menegaskan bahwa perjalanan dalam dunia sepak bola tidak pernah berakhir.

Rakhmad Basukisepak bolaPersepam PamekasanMadura Unitedlisensi AFC Propelatih

Komentar

Memuat komentar...