Rhabdo Berbahaya: Kegagalan Ginjal Akibat Olahraga Intense

Bambang W. · 2 min baca · 52 menit lalu · 23 dibaca
Bisik.id
Rhabdo Berbahaya: Kegagalan Ginjal Akibat Olahraga Intense

Gambar atau konten salah?

Olahraga memang membantu tubuh tetap bugar, namun jika dilakukan terlalu keras, bisa menimbulkan masalah kesehatan serius. Salah satu kondisi yang paling berbahaya adalah rhabdomyolysis, atau rhabdo, yang dapat merusak ginjal.

Di Amerika Serikat, seorang wanita bernama Savanna Stebbins harus dirawat di rumah sakit pada 01 Maret 2025. Ia melaporkan melalui media sosial bahwa setelah mengikuti kelas bersepeda indoor, tubuhnya mengalami kelelahan ekstrem. Dokter menegaskan bahwa dia didiagnosis rhabdomyolysis karena latihan yang terlalu intens.

Kasus serupa terjadi di Malaysia. Atrina Lau, pada 01 Maret 2021, mengalami rhabdo setelah mencoba latihan spinning. Dokter yang merawatnya menemukan bahwa tingkat kreatinin kinasenya—protein yang dilepaskan saat otot rusak—telah berada di level berbahaya. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berujung gagal ginjal.

Rhabdomyolysis terjadi ketika otot-otot mengalami kerusakan akibat kelelahan berlebihan. Kerusakan ini melepaskan protein seperti creatine kinase (CK) dan mioglobin ke dalam aliran darah. Kedua zat ini dapat merusak ginjal jika tidak segera dihilangkan.

Menurut profesor klinis asosiasi nefrologi, Niloofar Nobakht, MD, “Rhabdomyolisis akibat aktivitas fisik dapat terjadi setelah olahraga berat dan dari latihan intensitas tinggi di mana otot-otot digunakan secara berlebihan.” Dia menambahkan, “Anda juga bisa terkena rhabdomyolisis akibat trauma langsung, seperti cedera remuk akibat kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh.”

Siapa saja dapat mengalami rhabdo, tetapi beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi. Dr. Nobakht menyebut atlet, pelari, polisi, dan petugas pemadam kebakaran sebagai contoh. Semua orang yang melakukan aktivitas fisik berat harus waspada.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mencatat beberapa gejala rhabdo. Jika Anda mengalami salah satu dari gejala berikut, segera periksakan diri:

  • Kram otot, pegal, atau nyeri yang lebih parah dari biasanya
  • Urine berwarna gelap, menyerupai warna teh atau cola
  • Merasa lemas, tidak mampu menyelesaikan tugas atau latihan yang sebelumnya dapat dilakukan

Gejala ini tidak selalu muncul segera setelah cedera otot. Beberapa orang mungkin tidak merasakan apa-apa hingga beberapa jam atau bahkan hari setelah aktivitas berat. Hal ini membuat diagnosis menjadi lebih sulit jika tidak diwaspadai.

Diagnosa dini sangat penting. Semakin cepat perawatan dimulai, semakin besar peluang pemulihan tanpa efek kesehatan permanen. Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala di atas, jangan menunda‑tunda. Segera cari bantuan medis.

Dr. Anita Suyani, SpKO, menekankan prinsip “start low go slow” dalam kebugaran. “Mau push the limit nggak apa-apa. Tapi jangan sakit. Kalau sakit berarti kita udah nggak sanggup. Ada limit bawah, ada limit atas,” katanya. Ia mencontohkan, “Dulu bisa angkat 150 kg, tapi sudah dua tahun berhenti, jangan mulai dari situ lagi. Mulai dari 80 dulu, nanti nambah lagi.”

Adaptasi tubuh memerlukan waktu. Dorongan untuk meningkatkan batasan sebaiknya dilakukan ketika tubuh sudah siap, tanpa menimbulkan cedera. Dengan memulai dari intensitas rendah dan bertahap, risiko rhabdomyolysis dapat diminimalkan.

Kesimpulannya, olahraga tetap penting, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh. Rhabdomyolysis dapat menimbulkan kerusakan ginjal serius jika tidak diobati. Perhatikan gejala, hindari latihan berlebihan, dan konsultasikan dengan tenaga medis bila ada tanda-tanda abnormal. Dengan pendekatan yang hati-hati, Anda dapat menikmati manfaat olahraga tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

rhabdomyolisisginjalolahragakelelahan ekstremgejala urine gelapCDCperawatan dini

Komentar

Memuat komentar...