SMK Yudya Karya Akan Tutup 2028, Siswa Terus Belajar Hingga Lulus
Gambar atau konten salah?
SMK Yudya Karya di Magelang, yang berdiri pada tahun 1970, kini menghadapi masa depan yang berbeda. Sekolah ini, yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun, diperkirakan akan menutup pada tahun 2028. Terletak di Jalan Jenderal A Yani, Kedungsari, Kecamatan Magelang Selatan, SMK Yudya Karya dikenal luas sebagai SMK Dayak karena banyaknya siswa yang menempuh pendidikan di sana.
Di tengah rencana penutupan, masih ada sekitar 109 siswa yang bersekolah di SMK Yudya Karya. Pembagian kelas menunjukkan 23 siswa di kelas X, 42 siswa di kelas XI, dan 44 siswa di kelas XII. Angka ini mencerminkan penurunan drastis dibandingkan masa lalu ketika sekolah ini menjadi magnet bagi ribuan pelajar.
Pada pukul 10.10 WIB, beberapa orang mulai mengangkat meja dan kursi untuk diangkut ke truk. Rencana mereka adalah membawa perabotan tersebut ke SMK yang terletak di Kendal. Sementara itu, di bagian belakang gedung, renovasi sudah dimulai. Rencananya, sejak tahun ajaran baru 2026/2027, gedung tersebut akan berfungsi sebagai TK dan SD bertaraf internasional.
Selasa, 07 April 2026, kepala sekolah Hardiyanto mengklarifikasi rumor yang beredar di media sosial. Ia mengatakan, “Sekolah kami ini sebetulnya tidak ditutup seperti apa yang disampaikan dalam medsos. Saya justru malah tahu itu dari masyarakat, kemudian (tahu) termasuk guru‑guru. Intinya kok katanya mau ditutup, sekarang padahal masih proses berjalan pembelajaran untuk kelas XII baru PSAJ (Penilaian Sumatif Akhir Jenjang, semacam ujian akhir).”
Hardiyanto menambahkan bahwa SMK Yudya Karya berada di bawah naungan Yayasan Yudha Dharma Magelang, yang didirikan pada tahun 1970. Sejak pendirian hingga tahun ajaran 2024/2025, sekolah ini telah meluluskan sekitar 13.489 siswa. Pada saat ini, sekolah memiliki 39 guru dan karyawan.
Menurut Kepala Sekolah, penutupan tidak berarti sekolah akan langsung berhenti beroperasi. Ia menjelaskan, “Sekarang cuma tinggal sedikit (siswanya). Untuk kelas X tinggal 23 siswa, kelas XI 42 siswa. (Yang mau lulus) Jumlahnya 44 siswa.” Siswa-siswa ini akan naik kelas secara bertahap, sehingga proses belajar tetap berlangsung hingga tahun 2028.
Di masa jayanya, SMK Yudya Karya pernah menjadi tempat menimba ilmu bagi seribuan siswa. Pada awal berdiri, sekolah ini menjadi favorit, bahkan hingga tahun 2000-an masih ada ribuan siswa. Namun, seiring waktu, jumlah murid menurun drastis. Hardiyanto menjelaskan bahwa munculnya SMK‑SMK di berbagai lokasi, termasuk SMK negeri yang tidak memungut SPP, menjadi faktor utama. Ia juga menyoroti dampak zonasi, yang membuat anak-anak lebih memilih sekolah negeri di daerah mereka.
Penurunan jumlah siswa berdampak pada beban operasional. Hardiyanto mengungkapkan, “Guru, karyawan sini ada 39 sehingga untuk operasional juga sangat berat. Karena jumlah siswa sedikit.” Ia menambahkan, “Listrik saja tiap bulan Rp 2,5 juta, standar pabrik sekitar 3 phase atau sekitar 6.000 watt (contohnya).”
Di sisi tenaga pengajar, SMK Yudya Karya memiliki 24 guru, di antaranya 12 guru bersertifikasi. Namun, dengan hanya dua kelas tersisa, guru-guru bersertifikasi mengalami kekurangan jam mengajar, yaitu 24 jam seminggu. Hardiyanto menyatakan, “Setelah tahun ajaran baru, jam kurang yang guru‑guru sertifikasi. Guru yang bersertifikasi kurang jamnya, ini saya juga sudah menyampaikan ke MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMK) di Kota Magelang.”
Ia juga membuka kemungkinan bagi guru-guru untuk melamar di sekolah bertaraf internasional yang akan menempati kawasan SMK Yudya Karya. Namun, persaingan cukup ketat. Hardiyanto menegaskan, “Tapi, kan persaingan cukup berat kaitannya dengan tingkat SMK sampai TK, SD. Itu grade lebih tinggi TK sama SD.” Ia menambahkan, “Sehingga guru‑guru kami nanti mungkin ada yang melamar, tapi melamar belum tentu diterima karena di situ juga harus Bahasa Inggris, Bahasa Arab itu kan harus aktif juga.”
Renovasi yang sedang berlangsung bertujuan mempersiapkan fasilitas untuk TK dan SD bertaraf internasional. Hardiyanto menjelaskan, “Sejumlah kawasan di SMK Yudya Karya sudah ‘bertransisi’ menjadi sekolah TK dan SD bertaraf internasional. Karena itu, renovasi dilakukan di beberapa ruangan supaya bisa menerima murid baru pada tahun ajaran 2026/2027.” Ia menambahkan, “Tapi, ini memang sekolah lain daripada yang lain di Kota Magelang. Karena ini nanti sekolahnya berstandar internasional.”
Menjawab pertanyaan mengenai penjualan aset atau kerja sama dengan Yayasan Al Azhar Jogja, Hardiyanto menyatakan, “Untuk saat ini saya juga belum tahu. Karena ini dari yayasan juga belum menyampaikan, besok, hari Rabu (08 April 2026) mau disampaikan itu.”
Dengan berkurangnya siswa dan beban operasional yang tinggi, SMK Yudya Karya menghadapi masa transisi yang kompleks. Sekolah akan menutup pada tahun 2028, namun proses pembelajaran tetap berlangsung hingga siswa terakhir lulus. Sementara itu, bangunan sekolah akan bertransformasi menjadi fasilitas TK dan SD internasional, menandai perubahan arah pendidikan di kawasan tersebut. Sekolah yang dulu menjadi pusat ilmu bagi ribuan siswa kini menatap masa depan yang berbeda, menyesuaikan diri dengan dinamika pendidikan yang terus berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Baliho Gladak: Tokoh Keraton dan Kebudayaan Solo Dipajang
Baliho Baru Gladak Tampilkan Pesan Pelestarian Keraton Solo
D Bank Mandiri Taspen Ditangkap, Kerugian Rp13,3 Miliar
Doa Selamat Kepulangan Jemaah Haji: Harapan Mabrur dan Pengampunan
Marquez Menjuarai Sprint MotoGP Hungaria 2026 di Balaton Park
Jawa Tengah Hari Ini: Hujan Ringan di Beberapa Wilayah
Berita Terbaru
Operasi Patuh 2026: Korlantas Polri Tegakkan 13 Pelanggaran
Marc Marquez Raih Kemenangan ke-100 di MotoGP Hungaria 2026
Kenaikan Harga Minyak Mencuat, Konsumen Tuntut Regulasi
Puspresnas Rilis Tata Tertib OSN‑K 2026: Kompetisi Awal Juni
Gas Bocor di Pipa Pertamina Babelan, Tanggap Darurat Tindak
Operasi Patuh Musi 2026: 14 Hari Tegas & Edukasi Lalu Lintas
Kopi Fairypresso Viral: Minum Melalui Kelopak Mawar
