SPMB SD: Usia 5,5‑6 Tahun Bisa Daftar, Pakar Kesiapan

Wati N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
SPMB SD: Usia 5,5‑6 Tahun Bisa Daftar, Pakar Kesiapan

Gambar atau konten salah?

Beberapa daerah kini membuka Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk jenjang SD. Menurut aturan, anak berusia 5 tahun 6 bulan hingga 6 tahun sudah boleh mendaftar.

Peraturan ini tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Di dalamnya disebutkan bahwa anak yang berusia 5 tahun 6 bulan hingga di bawah 7 tahun dapat mendaftar, namun prioritas tetap diberikan kepada anak berusia 7 tahun atau lebih.

Usia anak menjadi sorotan ketika dipertanyakan apakah anak dengan usia tersebut sudah siap masuk sekolah. Pakar pengasuhan dan perkembangan anak, Prof Dwi Hastuti dari IPB University, mengatakan bahwa usia bukan satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan. Menurutnya, usia ideal anak masuk SD berada pada usia 6 tahun.

“Pada usia tersebut, anak sudah mengalami masa transisi dari kanak-kanak menuju masa sekolah. Mereka biasanya sudah memiliki kematangan dalam berpikir serta emosional mereka,” ujarnya.

Prof Hastuti menambahkan, “Kalau ada anak usia 5,5 tahun yang sudah menunjukkan kematangan sosial, emosional, dan kemandirian yang baik, mungkin bisa menjadi pengecualian. Namun secara umum, anak usia 5,5 tahun masih banyak yang belum cukup matang untuk menghadapi tuntutan sekolah dasar.”

Menurut Tuti, kesiapan anak tidak bisa hanya diukur dari kemampuan menulis, membaca atau berhitung. Ada enam aspek yang lebih penting: kognitif, sosial, emosional, fisik/motorik, moral/spiritual, dan bahasa.

Aspek kognitif menilai kemampuan berpikir konkret, rasa ingin tahu tinggi, dan mulai bisa berpikir kritis. Aspek sosial dan emosional menilai kemampuan bekerja sama, berbagi, berempati, menghormati orang lain, serta mengendalikan emosi. Aspek fisik/motorik menilai kemampuan melakukan aktivitas mandiri seperti mencuci tangan, menggunakan toilet, dan mengikuti instruksi sederhana. Aspek bahasa menilai kemampuan berkomunikasi. Aspek moral/spiritual menilai nilai-nilai etika. Dan aspek kognitif menilai kemampuan berpikir.

Risiko anak masuk SD di usia tak tepat juga diungkapkan Tuti. Jika anak belum siap, dapat muncul rasa percaya diri yang terdistorsi karena merasa tertinggal. Kondisi tersebut dapat memicu perasaan minder, stres, dan bahkan menjadi korban perundungan.

“Yang perlu dibangun pada anak bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti percaya diri, empati, kemampuan mengendalikan diri, dan toleransi. Fondasi inilah yang akan mendukung keberhasilan anak dalam jangka panjang,” jelasnya.

Tuti menekankan pentingnya orang tua memastikan anak benar-benar siap sebelum memasuki SD. Orang tua perlu mengecek secara menyeluruh, tidak hanya mempertimbangkan kemampuan akademik saja. “Lebih baik anak masuk SD ketika ia sudah matang, mandiri, dan percaya diri. Tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak cepat sekolah, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkembang secara optimal,” tutupnya.

Dengan mempertimbangkan enam aspek kesiapan dan risiko yang mungkin muncul, keputusan tentang kapan anak masuk SD dapat dibuat lebih bijaksana. Hal ini membantu memastikan anak tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga berkembang secara holistik dan sehat secara emosional serta sosial.

SPMBUsia anak masuk SDKesiapan anakAspek kognitifAspek sosialAspek emosionalAspek fisik

Komentar

Memuat komentar...